Porosmedia.com, Bandung – Momentum Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia membawa angin segar bagi aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Kota Bandung. Pada Senin (17/8/2026), sebanyak 10 jadwal penerbangan tercatat melayani pergerakan penumpang pada puncak libur panjang (long weekend).
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menanggapi positif lonjakan penerbangan yang melintasi langit Kota Bandung di tengah rangkaian seremoni kemerdekaan di Balai Kota. Kendati demikian, Pemkot Bandung menegaskan bahwa tren kenaikan ini tidak bisa sekadar dilihat sebagai euforia sesaat, melainkan menjadi pijakan evaluasi kritis terhadap keberlanjutan operasional bandara.
”Alhamdulillah hari ini penerbangan penuh. Tadi saya sempat merinding juga ketika mendengarkan lagu Indonesia Raya, tiba-tiba ada pesawat flying pass,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (17/8/2026).
Farhan menyoroti tingginya frekuensi penerbangan sejak 6 dan 14 Agustus hingga masa libur panjang pertengahan Agustus ini. Kepadatan jadwal tersebut dipastikan menjadi bahan pengujian menyeluruh dalam dua bulan mendatang untuk mengukur kelayakan penerbangan reguler kembali berjalan secara konsisten.
”Kita lihat setelah dua bulan ke depan, reguler kita masih bisa jalan atau tidak? Sambil kita evaluasi branding Kota Bandung serta seluruh sarana dan prasarana pendukung infrastruktur di sekeliling bandara,” tegasnya.
Di sisi lain, aspek transparansi keterisian penumpang (load factor) juga menjadi poin yang disorot. Meski Farhan mengklaim tiket penerbangan dari akhir pekan hingga Selasa telah habis terjual ke seluruh destinasi, data rinci persentase keterisian riil per armada masih dalam proses pendataan.
Keberlanjutan konektivitas udara di Bandara Husein Sastranegara kini bergantung pada hasil evaluasi dua bulan ke depan. Tantangan utama Pemkot Bandung tidak hanya terletak pada menjaga tingkat keterisian kursi penerbangan, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur pendukung di kawasan sekitar bandara guna mengimbangi laju pariwisata dan pertumbuhan ekonomi daerah. (PM/Red)







