Porosmedia.com | Di tengah gemerlap Istana Abbasiyah, di bawah naungan Khalifah Harun ar-Rasyid yang termasyhur, sebarisan budak sedang diuji dengan cara yang tak biasa. Mereka berdiri, masing-masing menggenggam sebuah gelas dari yaqut—batu permata yang nilainya setara dengan istana kecil. Perintah sang penguasa bergema, “Lemparkanlah.”
Diam. Hening yang tegang menyelimuti ruangan. Para gubernur dari berbagai penjuru kekhalifahan menyaksikan. Tak satu pun tangan yang bergerak. Hingga tibalah giliran seorang perempuan di ujung barisan. Kulitnya legam, parasnya tak sesuai dengan standar kecantikan zaman itu. Tanpa keraguan, ia mengangkat lengannya dan byaaar!gelas yaqut itu menghantam lantai, pecah berkeping-keping.
Itulah puncak dari sebuah kisah yang telah dimulai dengan sebaran uang dinar.
Beberapa waktu sebelumnya, dalam sebuah suasana yang lebih riang, sang Khalifah menaburkan kepingan emas dinar ke hadapan para pelayannya. Mereka berhamburan, berebut memunguti keberkahan yang berjatuhan. Hanya satu yang diam, budak perempuan berkulit hitam itu. Ia hanya memandang tuannya, bukan uangnya.
“Mengapa engkau tidak ikut memunguti?” tanya Harun ar-Rasyid, heran.
Jawabannya sederhana namun menusuk, “Jika mereka mencari dinar milik Tuanku, maka yang aku cari adalah pemilik dinar itu sendiri.”
Jawaban itu menggetarkan sang Khalifah. Sebuah kesetiaan yang tak ternilai, yang memandang langsung kepada substansi, bukan simbol. Namun, di istana, bisikan lebih cepat daripada fakta. Kabar angin pun bergulir, Sang Amirul Mukminin jatuh cinta pada budak hitam yang buruk rupa. Sebuah skandal di mata para bangsawan.
Maka, diundanglah para gubernur. Bukan untuk perjamuan, melainkan untuk sebuah demonstrasi publik. Gelas-gelas yaqut dibagikan, dan ujian kesia-siaan material pun dimulai.
Dan di situlah semua prasangka mereka— tentang kecantikan, tentang status, tentang kasih sayang sang Khalifah—dihancurkan seketika oleh pecahan gelas permata.
“Mengapa kau pecahkan?” tanya Khalifah setelah keheningan yang mematikan.
Suaranya lantang dan jernih, “Tuanku memerintahkan untuk melemparkannya. Memecahkannya mengurangi harta Tuanku. Tapi tidak memecahkannya, itu mengurangi ketaatan. Aku memilih mengurangi harta, karena taat tak boleh berkurang. Lebih baik disebut gila karena mematuhi perintah, daripada disebut hamba yang membangkang karena menolaknya.”
Ruangan itu masih terdiam, namun kini diam karena kagum dan malu. Para gubernur yang datang dengan prasangka, pulang dengan pelajaran. Sang Khalifah tak perlu banyak berkata; kebijaksanaan si budak telah menjadi pembelaannya yang paling lantang.
Sikap Kontoversial
Kisah ini bukan tentang cinta atau ketampanan. Ini tentang keberanian untuk berbeda di tengah kerumunan yang serakah. Saat semua berebut dinar, ia memilih memandang sumbernya. Saat semua ragu memecahkan gelas mewah, ia memilih memecahkannya demi sebuah prinsip, ketaatan yang utuh.
Dalam diamnya, ia lebih berani. Dalam ketaatannya, ia lebih merdeka. Ia menolak berebut remah-remah, karena pikirannya tertuju pada meja hidangan. Ia tidak silau oleh kemilik permata, karena perintah tuannya lebih berharga.
Di dunia yang sering kali menghakimi dari kulit dan rupa, ia membuktikan bahwa kualitas jiwa tak terbaca dari wajah. Di lingkungan di mana harta dan tahta membuat orang buta, kearifan seorang budak justru menerangi kegelapan prasangka.
Kontroversi? Ya. Sikapnya menentang arus, melawan naluri dasar untuk mengamankan harta. Tapi justru di situlah letak kebaikannya. Kadang-kadang, kebaikan sejati lahir dari tindakan yang tampak “salah” di mata banyak orang, tetapi benar di hadapan prinsip dan hati nurani.
Jadi, lain kali ketika Anda melihat seseorang berdiri teguh dengan pendirian yang tak populer, yang menolak ikut dalam “perebutan dinar” atau gentar memecahkan “gelas yaqut” konvensi sosial—jangan buru-buru menghakimi. Bisa jadi, di balik sikap kontroversial itu, tersimpan hikmah yang suatu hari akan memecahkan belenggu prasangka kita semua.
Carilah Sang Pemilik Rezki,
Jangan Sibuk Mencari Rizki🙏







