Daur Ulang Kantong Kresek Cibogo: Solusi Sampah Mandiri atau PR Besar Pengolahan Limbah Bandung?

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Masalah penanganan sampah plastik fleksibel seperti kantong kresek di Kota Bandung kembali menguji efektivitas pengolahan limbah berbasis komunitas. Di tengah tingginya beban Tempat Pembuangan Sementara (TPS), Komunitas Masagi Cibogo yang berbasis di Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, memaparkan hasil olahan limbah kresek bekas berupa produk fungsional pada Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026, Sabtu (15/8/2026).

​Langkah tersebut menegaskan bahwa keterbatasan sistem pengelolaan sampah kota menuntut inisiatif mandiri dari warga di tingkat RT/RW untuk menekan volume limbah harian yang terbuang.

Tantangan Efisiensi dan Skalabilitas Ekonomi

​Dalam paparan perwakilan Komunitas Masagi Cibogo, Enung Siti Oliah, proses pengolahan limbah kresek hingga menjadi barang siap pakai—seperti dompet, tas belanja, tas laptop, dan alas duduk—dilakukan secara manual melalui teknik penganyaman dan penjahitan.

​Namun, proses produksi tersebut menghadapi tantangan efisiensi dan durasi pengerjaan. Untuk menghasilkan satu unit tas belanja, proses penganyaman hingga perakitan akhir dapat memakan waktu hingga dua minggu. Produk-produk olahan ini dibanderol mulai dari Rp75.000 hingga melebihi Rp200.000 per unit, menyesuaikan tingkat kesulitan dan waktu pembuatan.

Baca juga:  Pedagang Pasar Tradisional Bergerak: Desak Relokasi, Tuntut Transparansi Mangkraknya Pasar Cihaurgeulis

​Skala produksi berbasis kerajinan tangan (craftsmanship) ini menyiratkan dua aspek mendasar:

  • Edukasi Lingkungan: Efektif mendorong kesadaran warga mengenai konsep kewajiban pengelolaan sampah mandiri dari sumbernya.
  • Tantangan Komersialisasi: Tingginya durasi pengerjaan manual berpotensi membatasi kapasitas produksi massal jika belum mendapat intervensi teknologi tepat guna dari pihak terkait.

Uji Konsistensi Edukasi Warga

​Inisiatif yang dihadirkan Masagi Cibogo menunjukkan potensi pemanfaatan limbah yang bernilai ekonomi (circular economy). Meski demikian, keberlanjutan gerakan pemanfaatan kantong kresek ini akan sangat bergantung pada konsistensi suplai bahan baku terpilah serta penguatan akses pasar bagi produk olahan warga.

​Hingga kini, gerakan daur ulang mandiri seperti yang dilakukan warga Cibogo menjadi salah satu potret upaya pengurangan timbulan sampah dari lingkungan pemukiman, sekaligus menantikan integrasi regulasi pengelolaan limbah yang lebih solid di tingkat daerah.