Bela Negara Merawat Eksistensi, Keutuhan, dan Kedaulatan NKRI

Avatar photo

Oleh: Bambang Soesatyo

Porosmedia.com – Ketika dinamika dunia saat ini sarat dengan konflik, Presiden Prabowo Subianto kembali mengingatkan pentingnya bela negara. Ajakan kepada seluruh putra-putri bangsa untuk selalu peduli dan merawat eksistensi kedaulatan NKRI merupakan pesan mendasar, mengingat kedaulatan negara adalah pondasi utama bagi pembangunan nasional yang berkelanjutan demi kesejahteraan rakyat.

Di tengah perubahan zaman dan peradaban, semangat bela negara harus terus diaktualisasikan. Rasa bangga sebagai warga negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat dengan Pancasila sebagai dasar negara patut melekat di sanubari setiap anak bangsa. Apalagi, perkembangan teknologi membuat batas-batas negara kian kabur, sementara ideologi transnasional dengan mudah masuk ke ruang kehidupan masyarakat, termasuk generasi muda. Ideologi yang bertentangan dengan kebhinekaan Indonesia kerap menimbulkan masalah, sehingga semangat bela negara tetap relevan untuk digaungkan.

Geopolitik Dunia yang Tidak Kondusif

Situasi global dewasa ini menunjukkan dunia sedang “tidak baik-baik saja”. Konflik berkepanjangan, baik antar-negara maupun dalam perebutan kepentingan ekonomi global, semakin mengganggu stabilitas internasional. Perang Israel–Palestina belum menemukan titik damai, demikian pula konflik Rusia–Ukraina yang belum dapat diselesaikan melalui diplomasi. Di kawasan Asia-Pasifik, ketegangan di Laut China Selatan dan Selat Taiwan terus bereskalasi.

Baca juga:  Teguh Santosa Terpilih Aklamasi, Kembali Nahkodai JMSI 2025–2030

Bahkan Asia Tenggara yang selama puluhan tahun stabil pun terguncang akibat konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja pada Juli 2025. Setelah gencatan senjata, persoalan perbatasan di Laut Sulawesi, yakni sengketa Ambalat yang melibatkan Indonesia dan Malaysia, kembali mengemuka di ruang publik.

Dalam konteks ini, seruan Presiden Prabowo tentang urgensi bela negara menemukan relevansinya. Pesan tersebut disampaikan saat beliau memimpin Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Lapangan Suparlan, Pusdiklatpassus TNI AD, Batujajar, Kabupaten Bandung, baru-baru ini.

Bela Negara sebagai Kehormatan

Dalam amanatnya, Presiden menegaskan pentingnya tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa. Sejarah kemerdekaan menjadi dasar bagi Indonesia untuk terus membangun TNI yang kuat. Presiden menekankan bahwa menjadi prajurit adalah kehormatan sekaligus panggilan pengabdian dan pengorbanan demi bangsa.

“Menjadi prajurit adalah suatu kehormatan, sekaligus kesiapan untuk berkorban. Saya bangga melihat semangat saudara-saudara untuk mengabdi demi bangsa dan negara,” tegas Presiden.

Beliau juga mengingatkan bahwa tidak ada bangsa yang merdeka tanpa kekuatan militer yang tangguh. Meski Indonesia cinta damai, pengalaman pahit masa lalu menjadi pelajaran untuk selalu memperkuat pertahanan. Dengan strategi pertahanan rakyat semesta, seluruh warga negara dipanggil untuk menjaga kedaulatan hingga titik darah penghabisan.

Baca juga:  Ritual Shrada Banawa Sekar Nusantara Merupakan Ritual Upacara Yang Sangat Agung

Ancaman Non-Militer di Era Globalisasi

Pernyataan Presiden, “daripada dijajah kembali, lebih baik mati”, harus dipahami sebagai pesan moral di tengah derasnya arus globalisasi. Ancaman kedaulatan bangsa kini bukan hanya militer, tetapi juga hadir dalam bentuk ekonomi, teknologi, dan informasi. Karena itu, bela negara tidak boleh semata dipahami dalam dimensi fisik, melainkan juga sebagai pendidikan karakter dan nasionalisme yang ditanamkan sejak dini.

Menurut Global Firepower Index 2025, Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dalam kekuatan militer. Namun, capaian ini tidak boleh membuat lengah. Konsep pertahanan rakyat semesta yang menekankan kesiapsiagaan seluruh elemen bangsa tetap menjadi kunci. Kekuatan militer formal harus diperkuat dengan partisipasi rakyat yang menyatu dalam kehidupan berbangsa.

Desa sebagai Benteng Pertahanan

Presiden Prabowo menegaskan komitmennya untuk memperluas program bela negara hingga tingkat desa. Sejarah menunjukkan, TNI bersama rakyat mampu menjaga keutuhan wilayah Indonesia. Data BPS 2024 mencatat 43,7 persen penduduk Indonesia tinggal di pedesaan. Dalam kerangka pertahanan rakyat semesta, desa bukan hanya lumbung pangan, tetapi juga lumbung patriotisme.

Baca juga:  Bamsoet Ingatkan Ancaman Siber Era Komputasi Kuantum, Opung Mandailing Ajak Kembali ke Ladang

Jika warga desa memiliki jiwa patriotik yang kuat, kedaulatan NKRI akan semakin sulit diganggu. Maka, bela negara harus terus menjadi bagian integral dalam pembangunan nasional, dengan desa sebagai basis ketahanan sekaligus benteng terakhir pertahanan bangsa.

Bambang Soesatyo
Anggota DPR RI / Ketua MPR RI ke-15 / Ketua DPR RI ke-20 / Ketua Komisi III DPR RI ke-7

Dosen Pascasarjana (S3) Universitas Borobudur, Universitas Jayabaya, dan Universitas Pertahanan (Unhan)