Api yang Tak Boleh Padam: Dari Cikutra hingga Darurat Sampah

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Peringatan 80 tahun Bandung Lautan Api (BLA) yang digelar Pemerintah Kota Bandung pada Kamis, 23 April 2026, bukan sekadar seremoni tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Di balik khidmatnya doa bagi para pahlawan tak dikenal, terselip pesan krusial bagi warga kota: bahwa perjuangan mempertahankan martabat Bandung hari ini tidak lagi melawan penjajah bersenjata, melainkan melawan tumpukan masalah yang mengepung keseharian kita.

​Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memberikan catatan menarik saat berziarah. Penemuan makam pahlawan yang diduga berasal dari Sumatera Barat di tanah Sunda menjadi bukti otentik bahwa BLA adalah palung persatuan nasional. Bandung bukan milik satu golongan; ia adalah simbol perlawanan kolektif. Namun, pertanyaannya kini, sejauh mana semangat persatuan itu masih menyala ketika kita dihadapkan pada realitas kota yang sedang tidak baik-baik saja?

Ujian Nyata Pasca-Lebaran

Retorika tentang kepahlawanan akan terasa hambar jika tidak dibarengi dengan keberanian menghadapi krisis domestik. Saat ini, Kota Bandung sedang “berperang” melawan 200 ton sampah harian yang belum terangkut. Pembatasan di TPA Sarimukti dan rencana penutupannya di akhir tahun adalah “ancaman” nyata yang membutuhkan respons secepat taktik bumi hangus tahun 1946—bedanya, kali ini yang harus “dihanguskan” adalah ego sektoral dan perilaku buang sampah sembarangan.

Baca juga:  Pangkogabwilhan I, Sambangi Kodam III/Siliwangi

Kebijakan Bukan Sekadar Janji

Rencana Pemkot Bandung membangun 24 titik fasilitas pengolahan sampah baru dengan teknologi termal dan pengolahan organik adalah langkah taktis yang patut dikawal. Kita tidak butuh lagi solusi jangka pendek yang hanya memindahkan masalah dari satu sudut ke sudut lain. Jika dulu para pejuang rela kehilangan harta dan rumah demi kedaulatan, mampukah warga Bandung hari ini “berkorban” sedikit kenyamanan untuk memilah sampah dari hulu?

Simpulan: Warisan adalah Kerja Nyata

Hadirnya para tokoh senior, mantan wali kota, dan veteran dalam upacara peringatan ke-80 ini seharusnya menjadi pengingat bagi birokrasi dan masyarakat. Menghormati pahlawan tak dikenal bukan hanya dengan taburan bunga, tetapi dengan memastikan bahwa kota yang mereka bela tidak tenggelam dalam persoalan lingkungan.

​Kita sepakat dengan Wali Kota: semangat 1946 harus menjadi bahan bakar untuk menyelesaikan persoalan hari ini. Jangan sampai narasi “Bandung Lautan Api” hanya menjadi romantisasi sejarah, sementara di sudut-sudut kota, kita justru sedang membiarkan “Bandung Lautan Sampah” menjadi kenyataan yang pahit.

Baca juga:  Di Tahun Baru Islam, Pangdam III/Slw Berangkatkan Umroh

​Kemerdekaan adalah tanggung jawab, dan kebersihan kota adalah bagian dari kedaulatan yang harus kita perjuangkan bersama.