Antara Sabar, Shalat, dan Pengakuan Jiwa

Avatar photo

Porosmedia.com| Tasikmalaya |“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 45-46).

Ayat-ayat ini, meski ringkas, bukan sekadar seruan ritual belaka. Mereka adalah diagnosis spiritual yang mendalam sekaligus resep penawar bagi kegelisahan modern. Di tengah dunia yang serba cepat, instan, dan penuh distraksi. Perintah untuk “memperbaiki shalat” melalui lensa ayat ini menjadi sebuah revolusi batin yang mendesak.

Shalat sebagai ‘Pertolongan’, Bukan Beban
Pakar Tafsir kontemporer sering menekankan keunikan susunan ayat ini.Pertolongan diminta dengan dua cara,sabar dan shalat. Sabar adalah sikap hati yang menerima dan bertahan. Shalat adalah tindakan fisik dan lisan yang terstruktur. Keduanya disandingkan, menunjukkan bahwa shalat sejatinya adalah bentuk aktif dari kesabaran. Ia bukan sekadar kewajiban yang memberatkan, melainkan alat bantu yang Allah sediakan untuk manusia yang sedang menghadapi ujian, kegalauan, atau kelemahan.

“Dan (shalat) itu sungguh berat…” Pengakuan ini begitu manusiawi. Berat bukan hanya secara fisik, tetapi lebih pada konsistensi, kekhusyukan, dan upaya untuk menghadirkan hati. Beratnya shalat yang “benar” adalah karena ia memerlukan perjumpaan—bukan rutinitas. Di sinilah letak panggilan untuk “memperbaiki” shalat.mengubahnya dari gerakan otomatis menjadi medium pertemuan dengan Allah.

Baca juga:  Spesifikasi dan Harga Xiaomi Redmi Note 10s Terbaru 2022

Khusyuk, Bukan Heningnya Badan, Tapi Keyakinan Hati
Syarat untuk mengatasi“beratnya” shalat adalah kekhusyukan. Dan ayat 46 langsung membedah hakikat khusyuk itu, keyakinan bahwa kita benar-benar akan menemui Allah dan kepada-Nya kita kembali. Khusyuk bukanlah teknik pernapasan atau kemampuan memusatkan pikiran semata (meski itu membantu), melainkan buah dari keyakinan (yaqin) yang hidup dan menyala-nyala dalam hati.

Dalam konteks memperbaiki shalat, ini berarti fondasi perbaikan harus dimulai dari tauhid dan kesadaran akhirat. Shalat kita rapuh karena keyakinan kita lemah. Kita shalat seolah-olah Allah jauh, dan seolah-olah hidup hanya di dunia. Memperbaiki shalat, dengan demikian, adalah memperbaiki keyakinan tentang siapa Allah dan tentang tujuan akhir perjalanan kita.

Diagnosis Kerusakan Shalat dalam Kehidupan Modern
Merujuk pada tafsir para ulama seperti Ibnu Katsir dan Said Hawa,kerusakan shalat masa kini dapat ditelusuri dari penafian ayat ini:1. Shalat sebagai Pencitraan, Bukan Pencarian Pertolongan Shalat dilakukan untuk dilihat orang, bukan sebagai wujud ketergantungan pada Allah. Ia kehilangan fungsi aslinya sebagai “mintalah pertolongan”.
2. Menghindari ‘Beratnya’ dengan Cepat dan Formalistik, Shalat dipersingkat, digabung tanpa uzur yang benar, atau dilakukan sambil pikiran melayang ke urusan dunia. Ini adalah bentuk pelarian dari “beratnya” mencapai khusyuk, bukannya berjuang untuk meraihnya.
3. Absennya Kesadaran ‘Pertemuan’ dan ‘Kepulangan’, Shalat menjadi ritual pengisi waktu, bukan latihan untuk pertemuan dengan Allah di akhirat nanti. Tidak ada rasa takut, harap, atau cinta yang mendalam dalam gerakannya.

Baca juga:  Dakwah Tanpa Etika Sosial: Ketika Agama Kehilangan Wajah Keberadaban

Jalan Perbaikan, Dari Niat hingga Gerakan
Lalu,bagaimana memulai perbaikan? Ayat ini memberikan kerangka besarnya,integrasikan sabar dan shalat, dan tujuannya adalah kekhusyukan berbasis keyakinan.

Secara praktis, para dai dan psikolog Islam menyarankan:

Pra-Shalat.
Bangun kesadaran bahwa kita akan berdiri di hadapan Penguasa Alam Semesta. Lakukan persiapan (wudu) dengan tenang, bukan terburu-buru. Ini adalah bentuk sabar sebelum memulai.
Saat Shalat.
Upayakan pemahaman makna bacaan. Gunakan teknik muroja’ah (mengulang bacaan jika pikiran terganggu) dengan sabar. Visualisasikan bahwa Allah sedang menjawab setiap ucapan kita. Fokus pada satu ayat, satu gerakan dalam satu waktu.
Pasca-Shalat.
Jaga keadaan hati sejenak setelah salam. Berdoa dengan penuh pengharapan. Membawa ketenangan yang didapat ke dalam kehidupan. Ini memastikan shalat bukan aktivitas terpisah, melainkan sumber energi untuk bersabar dalam keseharian.

Shalat yang Memperbaiki Diri
Akhirnya,memperbaiki shalat sebagaimana diisyaratkan Al-Baqarah 45-46 adalah proses seumur hidup. Ia bukan tentang mencapai kesempurnaan teknis, tetapi tentang konsistensi berjuang melawan “beratnya” dan mendekatkan diri pada hakikat khusyuk.

Baca juga:  Selamat Jalan, Pak Kwik

Shalat yang diperbaiki akan berbalik memperbaiki pelakunya. Ia menjadi tiang yang kokoh menopang jiwa di tengah badai kehidupan. Sebagaimana sabar, ia adalah kekuatan. Dan sebagaimana keyakinan, ia adalah cahaya. Di situlah, dalam tegaknya shalat yang khusyuk, seorang hamba menemukan pertolongan sejati yang dijanjikan ayat ini—sebuah ketenangan yang lahir dari pengakuan jiwa bahwa kita akan kembali hanya kepada-Nya.