Soroti Degradasi Budaya di Sekolah, Wagub Jabar Sentil Penggeseran Bahasa Sunda oleh Bahasa Asing

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Perkembangan teknologi dan modernisasi pendidikan di Jawa Barat dinilai menyimpan paradoks tajam. Di tengah ambisi mengejar kemajuan zaman, ruang bagi pelestarian bahasa dan seni tradisi Sunda di lembaga pendidikan formal justru makin terdesak dan terancam kehilangan taji.

​Kritik tersebut mengemuka saat Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menghadiri peringatan Milangkala Hari Kebudayaan Nasional Tahun 2026 sekaligus Penganugerahan Sunda Sabuana Award di Gedung Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan, Kota Bandung, Minggu (18/10/2026).

​Erwan menyentil fenomena makin terpinggirkannya Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Sunda di lingkungan sekolah dasar. Menurutnya, porsi pengajaran bahasa daerah yang dahulu menjadi prioritas pendamping Bahasa Indonesia kini kian tergeser oleh dominasi bahasa asing.

​”Dulu di sekolah dasar, bahasa wajib kita setelah Bahasa Indonesia adalah Bahasa Sunda. Sekarang justru tergantikan dengan bahasa asing. Bahasa Sunda jadi urutan keberapa di sekolah? Padahal sekolah tersebut berdiri di tanah Jawa Barat,” tegas Erwan.

​Ia menyoroti tidak hanya kemunduran literasi bahasa lokal pada generasi muda, tetapi juga makin minimnya ekstrakurikuler kesenian tradisional—seperti Tari Jaipongan dan Rampak Sekar—di sekolah-sekolah formal. Kondisi ini dinilainya memicu krisis identitas serta pengerosan nilai-nilai luhur someah, silih asah, silih asih, silih asuh, dan gotong royong di tengah masyarakat.

Baca juga:  Penataan Kawasan Gasibu Kota Bandung: Refleksi Pengawasan dan Janji Aksesibilitas Publik

​Erwan menegaskan, adopsi teknologi dan bahasa global seharusnya tidak dilakukan dengan mengorbankan identitas kultural lokal. Sekolah, tegasnya, memikul tanggung jawab moral dan konstitusional untuk tidak sekadar mencetak generasi cerdas secara teknokratis, tetapi juga beradab dan berakar kuat pada nilai tradisi.

​Pilar Karakter dan Tantangan Kebijakan Pendidikan

​Senada dengan hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, menegaskan pentingnya intisari etika Sunda sebagai pemelihara stabilitas sosial dan karakter bangsa.

​Dudung menggarisbawahi bahwa filosofi Sunda mengajarkan kerendahan hati, keluhuran tutur kata, serta kepedulian sosial yang nyata.

​”Orang Sunda itu tinu panon tara ngaremehkeun batur, tinu mulut/cangkem tara nyerikeun hate batur. Tinu hate tidak berprasangka buruk ka batur, tah tinu leungeun sok barang bere ka batur. Itulah karakter sejati yang harus terus dirawat,” ujar Dudung.

​Kondisi ini menjadi peringatan terbuka bagi Pemprov Jabar dan dinas terkait untuk merevaluasi kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah. Peringatan Milangkala Hari Kebudayaan Nasional 2026 ini semestinya tidak berhenti pada selebrasi dan penganugerahan penghargaan semata, melainkan menjadi pijakan kebijakan konkret dalam merevitalisasi pendidikan berbasis kebudayaan lokal secara berkelanjutan. (P-1)

Baca juga:  DPR akhirnya setujui Pemakzulan terhadap Wakil Presiden !

​