Porosmedia.com, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) kembali mengklaim kesiapannya menghadapi ancaman banjir tahunan. Sepanjang tahun 2026, sejumlah proyek fisik seperti rumah pompa, kolam retensi, hingga saluran drainase baru dikerjakan untuk menekan titik genangan di wilayah perkotaan.
Namun, di tengah kontur geografis Kota Bandung yang menyerupai cekungan atau “mangkuk”, efektivitas dari masifnya pembangunan fisik ini kembali diuji menjelang puncaknya musim penghujan.
Kepala DSDABM Kota Bandung, Rizki Kusrulyadi, menegaskan bahwa penanganan limpasan air hujan tidak dapat dilakukan secara mendadak. Menurutnya, program pengerukan, pembuatan saluran resapan, hingga konstruksi fisik telah berjalan sejak awal tahun.
”Persiapan menghadapi musim hujan bukan berarti baru kita lakukan sekarang. Selama musim kemarau dari awal tahun, fokus pekerjaan diarahkan pada normalisasi drainase, pembuatan kolam retensi, sumur imbuhan dalam, hingga biopori,” ujar Rizki di Balai Kota Bandung, Senin (12/10/2026).
Sorotan Infrastruktur Pompani dan Resapan
Dalam catatan DSDABM, intervensi teknis yang direalisasikan pada 2026 mencakup pembangunan dua unit rumah pompa baru di kawasan terbiar banjir, yakni Cipamokolan dan Rancabolang. Masing-masing fasilitas disokong dua unit mesin pompa berkapasitas 150 liter per detik.
Secara teknis, jika kedua mesin beroperasi simultan, daya sedot air mampu mencapai 300 liter per detik per lokasi untuk mengalirkan genangan yang gagal terbuang secara gravitasi.
”Rumah pompa dibangun karena volume air yang melimpah tidak lagi bisa mengalir secara alami. Mesin digunakan untuk mendorong air ke sungai agar durasi genangan bisa diminimalkan,” kata Rizki.
Selain rumah pompa, Pemkot Bandung mengklaim telah membangun jaringan drainase baru sepanjang 3,9 kilometer yang tersebar di titik krusial, seperti koridor Jalan Ibrahim Adjie dan wilayah Antapani. Dua kolam retensi anyar juga ditempatkan di Sanggar Hurip dan Ciporeat untuk menampung sementara debit air hujan.
Di sisi konservasi resapan, hingga Oktober 2026 tercatat sekitar 1.300 unit sumur imbuhan dalam telah disebar, didampingi program biopori dan penghijauan di kawasan rawan kritis.
Tantangan Kawasan Padat dan Budaya Sampah
Meskipun belasan miliar rupiah anggaran infrastruktur dikucurkan tiap tahunnya, Rizki tak menampik bahwa faktor teknis belaka tidak cukup menuntaskan banjir. Tingginya densitas penduduk di kawasan cekungan menjadi beban berat bagi daya tampung drainase yang ada.
”Kawasan padat adalah area paling rawan. Secara geografis Bandung berbentuk mangkuk, sehingga air dari daerah atas otomatis mengalir ke bawah. Kuncinya ada pada kombinasi mengalirkan, meresapkan, dan menahan air,” urainya.
Ia juga menyoroti masih rendahnya kesadaran kolektif sebagian warga yang menjadikan saluran air sebagai ‘tempat pembuangan akhir’ sampah rumah tangga, yang kerap memicu penyumbatan berulang saat debit air naik.
”Kami mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga Kota Bandung. Jangan membuang sampah ke sungai maupun drainase, serta mulailah memilah sampah dari rumah,” tutupnya.







