Esai Kontemplatif: Harri Safiari
Porosmedia.com – Di Negeri Konoha Raya (NKR), jabatan kadang seperti pintu.
Ada yang mengetuk dari luar.
Ada yang langsung punya kunci.
Ada pula yang selama bertahun-tahun berdiri di depan pintu sambil bertanya, “Siapa yang punya rumah ini?”
Rocky Gerung, setidaknya dalam perjalanan publiknya selama ini, lebih sering terlihat berdiri di luar pagar kekuasaan.
Mengamati.
Mengkritik.
Menggugat.
Kadang membuat penguasa mengernyitkan dahi.
Kadang membuat pendukung penguasa mengernyitkan dahi.
Kadang justru membuat rakyat sendiri ikut mengernyitkan dahi karena harus berpikir, “Ini Rocky sedang bicara apa, ya?”
Tetapi begitulah seorang pengkritik. Tugasnya bukan selalu membuat kita nyaman.
Kini keadaan berubah. Rocky masuk ke dalam lingkaran kekuasaan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Korupsinikus tentu tidak mau menjadi hakim atas perubahan itu. Manusia punya hak untuk berpindah posisi. Yang dahulu berdiri di luar boleh saja masuk ke dalam. Yang dahulu mengkritik dari trotoar boleh saja suatu hari diminta memberikan pertimbangan dari ruang resmi.
Tidak ada dosa dalam perubahan posisi. Yang menarik justru adalah apa yang terjadi setelah posisi itu berubah.
Maka hari ini, Korupsinikus mengajak rakyat NKR melakukan sesuatu yang sangat serius: doa bersama.
Bukan doa supaya Rocky keluar dari Wantimpres. Bukan pula doa supaya Rocky menjadi pendukung setia pemerintah. Apalagi doa supaya Rocky kembali ke trotoar.
Tidak. Doanya sederhana: Semoga Rocky tetap Rocky.
Sebab, negeri ini tidak kekurangan orang yang bisa mengatakan, “Setuju, Pak.”
Yang agak langka justru orang yang bisa mengatakan, “Maaf, Pak. Saya tidak setuju.”
Dan lebih langka lagi orang yang bisa mengatakan, “Maaf, Pak. Saya mendukung kebijakan ini, tetapi bagian itu perlu diperbaiki.”
Begitulah mungkin bentuk kritik yang paling berguna. Tidak harus selalu berteriak. Tidak harus selalu berseberangan. Namun, juga tidak kehilangan keberanian untuk berbeda.
Korupsinikus punya istilah sendiri: Watchdog jangan berubah menjadi underdog.
Dulu, watchdog berdiri di luar pagar. Ia menggonggong kalau melihat sesuatu yang dianggap perlu diperingatkan. Sekarang, ia mendapat kursi di dalam.
Maka tantangannya menjadi berbeda. Bukan lagi “Beranikah mengkritik dari luar?”, melainkan “Beranikah tetap kritis ketika sudah berada di dalam?”
Sebab, mengkritik kekuasaan dari luar mempunyai kenikmatan tersendiri. Tidak ada karpet merah, tidak ada meja rapat, tidak ada protokol, dan tidak ada risiko salah memahami suasana ruangan.
Tetapi ketika sudah masuk ke dalam, situasinya berubah. Orang mulai mengenal kita. Orang mulai mengajak bicara. Orang mulai meminta pertimbangan. Orang mulai duduk bersama. Dan tanpa terasa, kritik bisa berubah menjadi sekadar basa-basi.
Bukan karena seseorang berniat buruk. Kadang karena manusia memang mudah terbiasa dengan kenyamanan. Kursi yang empuk, kalau terlalu lama diduduki, bisa membuat lupa bagaimana rasanya berdiri.
Maka Korupsinikus berdoa:
Ya Tuhan, jangan biarkan kursi menghapus ingatan.
Kalau dulu Rocky pernah mendengar suara rakyat dari luar pagar, semoga suara itu tetap terdengar dari dalam ruang rapat.
Kalau dulu ia melihat kebijakan pemerintah dengan mata seorang pengkritik, semoga mata itu tetap terbuka ketika kini ia diminta memberikan pertimbangan.
Kalau dulu ia berani mengatakan sesuatu yang tidak populer, semoga keberanian itu tidak ikut ditinggalkan di pintu masuk.
Dan kalau memang suatu kebijakan pemerintah ternyata baik—katakan baik. Jangan mengkritik hanya karena sudah terlanjur dikenal sebagai pengkritik.
Tetapi kalau ada kebijakan yang memang perlu dikritisi—kritiklah. Jangan memuji hanya karena sekarang duduk di dalam lingkaran kekuasaan.
Itulah mungkin bentuk independensi yang sebenarnya.
Korupsinikus tidak berharap Rocky menjadi oposisi di dalam pemerintahan. Itu juga aneh. Sudah masuk rumah, tetapi masih berdiri di teras.
Tidak. Yang diharapkan adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana: menjadi penasihat yang tetap punya jarak berpikir.
Sebab, seorang penasihat bukanlah pengeras suara. Ia bukan alat untuk memperbesar suara orang yang sedang berkuasa.
Penasihat seharusnya menjadi cermin. Kadang cermin memperlihatkan wajah yang tampan. Kadang memperlihatkan jerawat. Kadang memperlihatkan rambut yang sudah waktunya dipotong.
Dan cermin yang baik tidak berkata, “Wah, semuanya sempurna!” Cermin hanya memperlihatkan apa adanya.
Di sinilah Korupsinikus kembali menyeruput kopi. Pahit, seperti biasa.
Ia kemudian berpikir: Barangkali kekuasaan tidak selalu membutuhkan orang yang membenarkan. Kekuasaan justru membutuhkan orang yang berani memperingatkan.
Sebab, seorang pemimpin yang hanya dikelilingi orang yang berkata “iya” akan kesulitan mengetahui kapan dirinya keliru. Dan seorang kritikus yang kehilangan keberanian untuk berkata “tidak” setelah memperoleh kursi, pada akhirnya hanya akan menjadi bagian dari dekorasi ruangan. Indah dilihat, tetapi tidak banyak gunanya.
Maka doa Korupsinikus hari ini tidak panjang. Hanya tiga kalimat:
- Semoga Rocky tetap kritis.
- Semoga Rocky tetap waras terhadap godaan kekuasaan.
- Semoga Rocky tidak lupa rasanya menjadi orang yang berdiri di luar pagar.
Karena suatu hari nanti, semua orang akan kembali berada di luar pagar. Jabatan ada waktunya, kursi ada batasnya, dan kekuasaan ada akhirnya.
Yang mungkin tersisa hanyalah rekam jejak: ketika diberi tempat di dalam, apakah ia masih ingat suara orang-orang di luar?
Korupsinikus kemudian mengangkat gelas kopinya.
“Untuk Bung Rocky…”
“Selamat memasuki rumah baru.”
“Semoga tetap menjadi watchdog.”
“Kalau mau berubah, berubah menjadi watchdog yang lebih dekat dengan sumber masalah.”
“Jangan menjadi underdog.”
“Dan kalau suatu hari harus memilih antara kenyamanan kursi dan kebenaran yang pahit…”
Korupsinikus berhenti sebentar, menyeruput kopi, lalu berkata:
“Pilihlah yang membuat kopi rakyat tetap terasa.”
Sebab pada akhirnya, Bung—kursi boleh berpindah, posisi boleh berubah, dan jabatan boleh berganti. Tetapi kalau nurani ikut pindah alamat… itulah yang patut kita doakan bersama.
— Selesai







