Penguatan Layanan Persampahan Kota Bandung: Integrasi Pengangkutan, Pengolahan, Insenerator, Penyapuan, Edukasi 3R, dan Program Ketahanan Pangan

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat sistem pengelolaan persampahan melalui peningkatan layanan pengangkutan, optimalisasi pengolahan, penguatan kinerja insenerator, penyesuaian jadwal penyapuan, serta edukasi massif kepada masyarakat. Upaya ini diintegrasikan dengan program ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat sebagai strategi pembangunan berkelanjutan.

Selain memperkuat layanan teknis, Pemkot Bandung mengonsolidasikan tiga program unggulan—Kang Pisman, Buruan SAE, dan Dapur Dahsyat—ke dalam kerangka “Sirkuler Bandung Utama”. Integrasi ini menjadi fondasi pengurangan sampah sejak sumbernya sekaligus memperkuat ketahanan pangan serta gizi masyarakat.

1. Kinerja Pengangkutan Sampah

Total timbulan sampah Kota Bandung mencapai 1.492 ton per hari, sementara TPA Sarimukti hanya dapat menerima 938 ton per hari. Artinya, terdapat 554 ton per hari yang harus dikelola di dalam wilayah kota.

Pemkot Bandung melakukan langkah penguatan, di antaranya: Optimalisasi rute dan moda pengangkutan, Peningkatan frekuensi operasional armada, Pengawasan lapangan secara berkelanjutan

Langkah tersebut dikonsolidasikan untuk menghindari terjadinya penumpukan sampah pada Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan memastikan alur pengangkutan berjalan stabil.

2. Kinerja Pengolahan Sampah

Melalui fasilitas pengolahan pemerintah dan kolaborasi dengan sektor swasta, Pemkot Bandung saat ini mampu mengolah 207,58 ton sampah per hari. Masih terdapat 246,42 ton yang harus ditangani melalui solusi tambahan, di antaranya:

Baca juga:  Ono Surono di diskusi JMSI Jabar, Menyayangkan persoalan Pendidikan dan Perikanan di Jawa Barat

a. Aktivasi Petugas Pemilah dan Pengolah RW

Setiap RW memiliki satu petugas pemilah dan pengolah dengan target 100 kg per hari. Dengan total 1.597 RW, potensi pengurangan sampah mandiri dapat mencapai 159,7 ton per hari.

b. Penguatan Pengolahan Mandiri Masyarakat dan Dunia Usaha

Sisa sekitar 86,72 ton diarahkan untuk ditangani melalui pengolahan mandiri oleh rumah tangga, kawasan permukiman, perkantoran, restoran, hotel, retail, dan pelaku usaha lainnya.

Upaya ini diharapkan menekan volume sampah yang masuk ke TPS dan memaksimalkan pemanfaatan sampah dari sumbernya.

3. Optimalisasi Kinerja Insenerator

Insenerator Kota Bandung terus ditingkatkan untuk mengolah sampah residu, dengan fokus pada: Efektivitas pengurangan volume sampah, Peningkatan kapasitas operasi, Pengendalian emisi sesuai standar lingkungan, Integrasi dalam sistem pengolahan sampah kota

Pemkot memastikan pengoperasian insenerator tetap berada dalam koridor keamanan dan regulasi lingkungan yang berlaku.

4. Penyapuan: Penyesuaian Jam Operasional

Untuk memastikan ruang publik tetap bersih sejak pagi hari, Pemkot Bandung menyesuaikan jam operasional penyapuan menjadi pukul 04.00 WIB.

Baca juga:  Masjid Raya Bandung 'Dilepas' Pemprov: Antara Kemandirian Wakaf dan Pengabaian Sejarah

Penyesuaian ini bertujuan: Memaksimalkan kesiapan ruang publik sebelum aktivitas warga meningkat, Mempercepat respons kebersihan pada kawasan padat mobilitas, Menstandarkan kualitas penyapuan di seluruh wilayah kota

5. Edukasi Massif 3R dan Penegasan Prinsip “Tidak Dipilah, Tidak Diangkut”

Pemkot Bandung mengerahkan seluruh unsur kewilayahan—camat, lurah, RW, satgas, dan kader lingkungan—untuk melakukan edukasi dan pendampingan intensif terkait 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Penguatan juga diberikan kepada petugas pengangkut sampah (mamang sampah) untuk menerapkan prinsip:

“Tidak dipilah, tidak diangkut.”

Kebijakan ini bukan tindakan penalti, melainkan strategi edukatif untuk menumbuhkan disiplin pemilahan sampah dari rumah tangga.

6. Integrasi Kang Pisman, Buruan SAE, dan Dapur Dahsyat dalam “Sirkuler Bandung Utama”

Sebagai strategi komprehensif yang menggabungkan aspek lingkungan, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat, Pemkot Bandung mengintegrasikan tiga program unggulan berikut:

a. Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan)

Menjadi basis utama pengurangan sampah melalui:

Pengurangan timbulan sampah rumah tangga

Pemilahan organik, anorganik, dan residu

Pemanfaatan sampah menjadi kompos, eco-enzyme, dan produk daur ulang

Baca juga:  Sengkarut Parkir RSHS Bandung: Tarif ‘Langit’ 7 Menit Rp20 Ribu, Pejabat Terkait Pilih Bungkam?

Prinsip Kang Pisman selaras langsung dengan kebijakan 3R dan “tidak dipilah, tidak diangkut”.

b. Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis)

Program urban farming yang bertujuan:

Mengurangi sampah organik melalui pemanfaatan kompos

Menambah ketersediaan pangan sehat bagi masyarakat

Menguatkan ekonomi rumah tangga

Kompos hasil Kang Pisman memperkuat ekosistem produktivitas Buruan SAE.

c. Dapur Dahsyat (Dapur Sehat Atasi Stunting)

Program peningkatan kesehatan keluarga dengan:

Penyediaan asupan bergizi bagi masyarakat rentan

Pemanfaatan hasil pangan Buruan SAE

Edukasi gizi dan pola makan sehat

Integrasi ketiga program menciptakan ekosistem sirkular:
sampah organik → kompos → pangan → perbaikan gizi masyarakat.

Pernyataan Wali Kota Bandung

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak dapat dipisahkan dari aspek ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

“Kita berkomitmen memperkuat pelayanan sekaligus mengajak masyarakat untuk terlibat aktif. Dengan gotong royong, insyaallah Bandung akan semakin bersih, sehat, dan berdaya,” ujarnya.