Lapangan Tenis Pusenif di Kota Bandung menjadi saksi pertemuan lintas zaman: antara seorang pejuang legendaris dan generasi penerus yang masih haus akan teladan sejati. Ulang tahun ke-100 Abah Landoeng bukan sekadar perayaan usia, tapi peringatan sejarah hidup yang penuh arti.
Porosmedia.com, Bandung – Mentari pagi belum sepenuhnya naik saat satu per satu undangan mulai memenuhi Lapangan Tenis Pusenif di Komplek Asrama Militer Pussenif, Jalan Yudhawastu Pramuka I No.IV, Kota Bandung. Di antara sorot kamera dan sapaan hangat sesama tamu, berdiri sosok bersahaja yang hari itu menjadi pusat perhatian: Abah Landoeng, tokoh sepuh Jawa Barat yang pada tanggal 11 Juli 1926 – 2025 genap berusia 100 tahun.
Tidak banyak tokoh yang bisa merayakan satu abad kehidupan dalam kondisi sehat, jernih pikiran, dan tetap dihormati lintas generasi. Abah Landoeng adalah pengecualian langka. Beliau bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga pelaku langsung perjuangan kemerdekaan, pendidik tanpa pamrih, dan narasumber utama bagi para jurnalis asing dari Jepang, Belanda, hingga Prancis yang mencari kejujuran sejarah tentang Indonesia.

“Beliau bukan hanya guru bangsa, tapi juga pelita moral yang tak pernah padam,” ucap Letnan Jenderal TNI H. Iwan Setiawan, S.E., M.M., Komandan Pussenif yang memimpin langsung acara syukuran itu.
Iwan menyebutkan, penghargaan tertinggi negara berupa Legion Veteran RI Dwikora BKR (Badan Keamanan Rakyat) Tahun 1960 baru saja diberikan kepada Abah Landoeng tahun lalu. Sebuah bentuk pengakuan negara atas dedikasi luar biasa Abah yang tak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga membentuk karakter bangsa lewat dunia pendidikan dan diplomasi kebudayaan.
Di usia senjanya, Abah Landoeng tetap bicara lantang, tegas, dan penuh cinta tanah air. Dalam pidatonya yang mengalir natural, beliau mengingatkan generasi muda bahwa Indonesia bukanlah hadiah sejarah, melainkan hasil perjuangan berdarah-darah.
“Negara ini tidak diberi, tapi diambil dengan segala jiwa raga,” tutur Abah Landoeng. “Ribuan, mungkin jutaan teman seperjuangan telah gugur demi kemerdekaan ini.”

Sebagian besar tamu yang hadir tampak tertegun. Banyak di antara mereka adalah anak-anak muda, perwira muda, tokoh masyarakat: Abah Alam, hingga pengusaha yang selama ini hanya mengenal Abah Landoeng dari cerita atau buku sejarah. Kini mereka menyaksikan sendiri, bagaimana seorang tokoh yang oleh wartawan asing disebut sebagai “The Last Living Witness of Indonesian Independence”, menyampaikan pesan luhur tanpa naskah, tanpa panggung kemegahan—cukup dengan keyakinan dan suara hati yang jujur.
Acara ini bukan sekadar ulang tahun. Di balik tumpeng dan ucapan selamat, tersirat misi besar: membangun kembali ingatan kolektif bangsa terhadap nilai-nilai perjuangan. Ketua Pelaksana acara, Hari Safiari sekaligus wartawan senior, menegaskan bahwa momen ini adalah ruang silaturahmi yang sangat penting antara tokoh tua dan generasi muda.
”Abah adalah warisan hidup kita. Bukan hanya karena umurnya, tapi karena konsistensinya menjaga nilai dan keutuhan negara,” ujar Hari.


Komunitas intelektual seperti Bandung Ngariung dan kalangan pengusaha seperti Handri Husada, CEO Kagum Group, turut hadir dan menyatakan kebanggaannya. Handri bahkan mengusulkan agar pihak swasta pun memberikan bentuk penghargaan kepada para tokoh pejuang seperti Abah.
”Negara telah memberikan tanda jasa. Kini saatnya kita, para pengusaha dan masyarakat umum, ikut serta mengapresiasi tokoh seperti beliau,” katanya.
Satu kalimat dari Abah Landoeng yang menggema sepanjang pagi itu adalah:
”Usaha yang baik harus dilanjutkan. Usaha yang tidak bagus, tinggalkan. Jangan jadi penghalang kemajuan bangsa.”
Itu bukan sekadar petuah, tetapi ajaran hidup yang lahir dari pengalaman satu abad. Dari masa penjajahan Jepang, revolusi kemerdekaan, hingga dinamika Indonesia modern, Abah Landoeng telah melewati semuanya—tanpa kehilangan jati dirinya.
Di akhir acara, Letjen Iwan Setiawan menyerahkan langsung kenang-kenangan simbolik kepada Abah. Momen itu diiringi tepuk tangan meriah dan linangan air mata haru dari sebagian tamu.
Ulang tahun Abah Landoeng bukanlah nostalgia, melainkan refleksi. Dalam dunia yang makin cepat lupa, kehadiran tokoh seperti beliau menjadi penyeimbang. Ia hadir bukan untuk dikenang semata, tapi untuk dijadikan panutan hidup.
Dari Lapangan Tenis Pusenif, pesan Abah Landoeng menggema jauh: bahwa cinta tanah air bukan sekadar slogan, melainkan sikap hidup yang harus dijaga dan diwariskan.
Selamat ulang tahun ke-100, Abah Landoeng. Terima kasih atas seluruh perjuanganmu.







