“Wani Jenggelutna”: Saatnya Bandung Berani Bergulat dengan Persoalan Nyata Kota

Avatar photo

Oleh: Sudrajat

Porosmedia.com – Tagline “Wani Jenggelutna”—yang dalam bahasa Jawa-Sunda bisa dimaknai sebagai “berani bergulat”—bukan sekadar semboyan retoris, melainkan sebuah tantangan moral dan politik bagi Kota Bandung. Kata “wani” berarti berani, sedang “gelut” merujuk pada perlawanan, pergulatan, bahkan pertarungan keras untuk bertahan dan melangkah maju. Jika digabungkan, “Wani Jenggelutna” menjadi simbol tekad bahwa masyarakat dan pemimpinnya tidak boleh lari dari masalah, melainkan harus siap berhadapan langsung dengan realitas yang kompleks.

Bandung hari ini menghadapi problem yang tidak bisa ditutupi dengan jargon pembangunan semata. Kemacetan yang semakin parah, banjir yang rutin datang setiap musim hujan, sampah yang terus menumpuk dengan ketergantungan pada TPA Sarimukti, hingga ketimpangan sosial-ekonomi yang makin menganga—semua ini bukan isu sepele. Kata kuncinya sederhana: Bandung butuh keberanian untuk benar-benar bergulat dengan masalah, bukan sekadar menunda atau memoles citra.

Ironi terbesar Bandung adalah menyandang gelar kota kreatif dunia sementara warganya setiap hari habis waktu dalam kemacetan. Jumlah kendaraan pribadi terus bertambah, tetapi kapasitas jalan stagnan. Transportasi publik tidak kunjung menjadi pilihan utama karena minim integrasi, kualitas buruk, dan tidak memberi jaminan kenyamanan. Wani jenggelutna berarti pemerintah kota harus berani membuat kebijakan tidak populer: pembatasan kendaraan pribadi, pembangunan transportasi publik yang benar-benar terintegrasi, hingga menertibkan parkir liar. Tanpa keberanian ini, jargon Bandung sebagai kota ramah mobilitas hanyalah ilusi.

Baca juga:  Wakil Wali Kota Bandung Terjaring OTT: Publik Tercengang, Dugaan Kuat Terkait Proyek Infrastruktur

Krisis sampah Bandung bukan hal baru. Ketergantungan pada TPA Sarimukti membuat kota ini rapuh setiap kali terjadi gangguan di lokasi tersebut. Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah masih rendah, bahkan yang sudah dipilah pun sering tercampur kembali dalam sistem pengangkutan. Inilah wajah nyata kota yang gagal mengelola dirinya. Wani jenggelutna berarti pemerintah harus berani mengubah paradigma: dari sekadar buang-angkut-buang ke arah sistem sirkular yang berbasis daur ulang, inovasi teknologi, serta insentif bagi masyarakat yang mau berdisiplin. Tanpa keberanian itu, Bandung akan terus menjadi kota dengan tumpukan masalah, bukan tumpukan solusi.

Banjir di Bandung bukan hanya akibat hujan deras, melainkan juga karena tata kelola ruang yang amburadul. Drainase tidak terurus, limpasan air dari Kabupaten Bandung dan Bandung Barat dibiarkan tanpa koordinasi, dan ruang terbuka hijau semakin menyusut. Wani jenggelutna menuntut kepemimpinan yang berani melawan kepentingan jangka pendek developer rakus, memperjuangkan tata ruang yang berpihak pada lingkungan, dan mengembalikan fungsi ekologis kota.

Di balik gedung-gedung megah dan pusat belanja, Bandung masih menyimpan wajah muram: pengamen, pengemis, hingga anak-anak yang tereksploitasi di jalanan. Kelompok difabel minim akses fasilitas, seniman tradisi makin terpinggirkan, dan PKL liar yang dibiarkan justru mengorbankan hak pejalan kaki. Wani jenggelutna berarti berani hadir di tengah kelompok rentan, membuat kebijakan yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan hak warga kota, serta menegakkan aturan dengan adil tanpa pandang bulu.

Baca juga:  Kolaborasi Pemkot, Yumaju, dan Asics Donasikan Rp100 Juta untuk Rumah Singgah Al-Fatih Bandung

H. Muhammad Farhan dan H. Erwin, S.E., M.Pd. pernah mengusung gagasan Bandung UTAMA—Unggul, Terbuka, Amanah, Maju, Agamis. Sebuah visi yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial, pembangunan fisik dan spiritual, serta penguatan sumber daya manusia. Gagasan ini relevan jika dipadukan dengan semangat Wani Jenggelutna. Artinya, visi besar tidak boleh berhenti di meja presentasi atau ruang seminar, melainkan diwujudkan dalam kerja nyata, kebijakan tegas, dan keberanian menghadapi tekanan politik maupun ekonomi.

Persoalan Bandung tidak akan selesai jika pemimpin hanya mencari jalan aman. Butuh keberanian politik untuk mengambil keputusan yang mungkin tidak populer, tapi benar-benar menyentuh akar masalah. Inilah esensi Wani Jenggelutna: berani bergulat, berani berkorban, berani menghadapi kenyataan.

Bandung tidak butuh pemimpin yang hanya pandai membuat slogan, tetapi pemimpin yang siap gelut—berkelahi dalam arti politik dan sosial—untuk rakyatnya. Yang berani membatasi kepentingan kelompok tertentu demi kepentingan publik yang lebih besar. Yang cepat merespons masalah masyarakat, dan mampu merajut persatuan di tengah gejolak.

Baca juga:  Teras Cihampelas: Antara Warisan, Wacana Bongkar, dan Akal Sehat Pengelolaan Kota

Bandung adalah kota simbol pergerakan nasional, kota dengan sejarah panjang keberanian warganya. Sudah sepatutnya hari ini tagline “Wani Jenggelutna” menjadi roh baru dalam setiap kebijakan, agar Bandung tidak hanya menjadi kota yang indah dalam brosur wisata, tetapi juga layak ditinggali dengan bangga oleh warganya.

Porosmedia.com – Suara Independen, Tajam, dan Kritis