Wajah Optimisme Bandung 2026: Harmoni Layanan Publik dan Geliat Investasi di Kota Jasa

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Menutup lembaran 2025 dan membuka tirai 2026, Kota Bandung menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Di tengah keterbatasan wilayah geografis, kota berjuluk Paris van Java ini berhasil membuktikan bahwa inovasi pelayanan publik dan kondusivitas wilayah adalah kunci utama penggerak roda ekonomi dan investasi.

​Transisi tahun dari 2025 ke 2026 di Kota Bandung berlangsung mulus. Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, memastikan bahwa periode libur akhir tahun berjalan aman dan tertib. Satu hal yang mencolok adalah efektivitas penanganan kebersihan yang jauh melampaui tahun-tahun sebelumnya.

​“Pembersihan dimulai sejak pukul 04.00 WIB, dan sekitar pukul 06.00 WIB kondisi kota sudah kembali bersih,” ujar Iskandar saat melakukan evaluasi di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bandung, Jalan Cianjur.

​Keberhasilan ini bukan tanpa sebab. Koordinasi intensif antara Pemkot Bandung dengan Forkopimda—mulai dari kepolisian, TNI, hingga kejaksaan—menjadi fondasi kuat yang menjamin kenyamanan wisatawan yang memadati titik-titik keramaian kota.

​Kondusifitas kota berdampak langsung pada dompet daerah. Sektor pariwisata tetap menjadi tulang punggung Pendapatan Asli Daerah (PAD). Meski sempat dibayangi kebijakan pembatasan kegiatan di pertengahan tahun, lonjakan aktivitas masyarakat di penghujung 2025 berhasil menutupi celah tersebut.

Baca juga:  Bisikan Pasar di Tengah Kebisuan Perumda

​Data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) mencatat realisasi pendapatan telah melampaui angka Rp3 triliun. Capaian ini merupakan lompatan signifikan dari target Rp2,6 triliun di tahun sebelumnya. Stabilnya pendapatan ini didukung oleh sektor pajak hotel, restoran, serta kontribusi dari PKB dan BBNKB.

​Di balik angka-angka ekonomi, Pemkot Bandung terus bersolek dalam urusan pelayanan. Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bandung kini bukan sekadar tempat mengurus dokumen administratif. Salah satu inovasi paling progresif adalah hadirnya fasilitas balai pernikahan—satu-satunya di Indonesia yang terintegrasi di dalam MPP.

​Inovasi ini disambut antusias oleh warga. Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, tercatat sekitar 200 pasangan telah memproses pernikahan mereka di sana. “Ini bukti bahwa pelayanan publik bisa dibuat mudah, dekat, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tegas Iskandar.

​Memasuki tahun 2026, semangat baru ditiupkan melalui kegiatan kerja bakti dan pembinaan ASN di lingkungan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Fokus utama tahun ini adalah mencapai target investasi yang ambisius sebesar Rp11,363 triliun.

Baca juga:  Bamsoet Ingatkan Ancaman Siber Era Komputasi Kuantum, Opung Mandailing Ajak Kembali ke Ladang

​Kepala DPMPTSP Kota Bandung, Erick Attauriq, mengungkapkan optimisme tersebut didasari oleh performa tahun 2025 yang impresif. Hingga triwulan ketiga 2025, realisasi investasi telah mencapai Rp10,162 triliun, jauh melampaui target awal sebesar Rp7 triliun.

​“Target pertumbuhan ekonomi daerah diproyeksikan mencapai 5,35 persen. Ini tantangan besar yang memerlukan sistem kerja adaptif dan responsif,” jelas Erick.

​Tantangan investasi ini juga dibarengi dengan transformasi internal birokrasi. Saat ini, sekitar 80 persen ASN di DPMPTSP telah beralih menjadi pejabat fungsional. Perubahan struktur ini diharapkan bukan hanya sekadar formalitas, melainkan menjadi motor percepatan pelayanan yang lebih profesional.

​Bagi Pemkot Bandung, tahun 2026 adalah momentum untuk memperkuat jati diri sebagai kota jasa. Dengan lingkungan yang bersih, keamanan yang terjaga, dan birokrasi yang inovatif, Bandung siap menyongsong masa depan sebagai destinasi investasi unggulan di Indonesia.