Porosmedia.com, Bandung – Ketika riuh kembang api mulai mereda dan sebagian besar warga Kota Bandung masih terlelap dalam mimpi pertama di tahun 2026, suara gesekan sapu lidi di atas aspal sudah memecah kesunyian. Di bawah temaram lampu jalan, para pejuang kebersihan telah bersiap “menyeka” sisa-sisa kegembiraan malam pergantian tahun.
Pagi itu, Kamis (1/1/2026), Kota Bandung tidak hanya sedang berbenah, tapi sedang menunjukkan ketangguhannya melalui tangan-tangan perempuan hebat yang bekerja dalam sunyi.
Salah satu sosok tangguh tersebut adalah Tini Yulianti. Di usianya yang menginjak 41 tahun, Tini sudah bersiaga sejak pukul 04.00 WIB. Titik fokusnya adalah kawasan strategis Simpang Cikapayang hingga Rumah Sakit Borromeus—jalur yang semalam menjadi salah satu pusat keramaian.
Tini bukan orang baru. Tujuh tahun sudah ia mendedikasikan dirinya untuk memastikan trotoar, taman, hingga sudut-sudut pot bunga di Bandung bersih dari sampah. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar tugas rutin, melainkan bentuk pengabdian.
“Kami siap memberikan yang terbaik bagi Kota Bandung,” ujar Tini dengan nada mantap di sela-sela kegiatannya. Semangatnya tak luntur meski harus berhadapan dengan tumpukan sampah usai pesta rakyat.
Cerita serupa datang dari Neng Teti. Ia bertugas di kawasan Jalan Merdeka, jantung kota yang selalu menjadi magnet wisatawan. Perjalanannya menuju tempat tugas bukanlah jarak yang pendek. Bermukim di Cimuncang, Pasirhonje, tak sedikit pun menyurutkan langkahnya untuk hadir tepat waktu sebelum fajar menyingsing.
Jarak dan lelah seolah menguap saat ia melihat aspal kembali hitam bersih dan trotoar kembali nyaman dipijak. Prinsipnya sederhana namun mendalam: kenyamanan publik adalah prioritas.
“Kami bertugas, masyarakat menikmati. Kami siap berikan yang terbaik untuk Kota Bandung,” tutur Neng Teti singkat namun penuh makna.
Kerja keras para petugas ini tersebar merata. Mulai dari Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Pasupati), Jalan Ir. H. Djuanda, hingga kawasan bersejarah Braga, semua tersentuh jemari cekatan mereka. Hasilnya, saat matahari mulai naik, jalan-jalan protokol yang semula padat massa sudah kembali bersih dan asri.
Keberhasilan Bandung kembali “kinclong” dalam hitungan jam usai perayaan Malam Tahun Baru 2026 adalah buah dari kecintaan dan keringat para petugas kebersihan, khususnya para perempuan tangguh ini.
Momentum ini menjadi pengingat penting bagi seluruh warga dan wisatawan. Jika para petugas mampu bekerja keras membersihkan kota, sudah sepatutnya masyarakat mulai peduli terhadap produksi sampahnya sendiri.
Kini, tugas menjaga estetika Bandung bukan lagi hanya di pundak Tini, Neng Teti, dan rekan-rekan mereka. Ini adalah saatnya kolaborasi; saatnya kita semua bersama-sama mengolah sampah demi Bandung yang tetap nyaman dan bermartabat di tahun yang baru. (yan)







