Porosmedia.com, Jakarta – Platform pembayaran digital OVO menutup tahun 2025 dengan pencapaian signifikan dalam memberantas judi online dan memperkuat inklusi keuangan, setelah memblokir lebih dari 7.000 akun yang digunakan untuk transaksi judi online dan menyalurkan pendanaan Rp6 triliun kepada 445.000 mitra UMKM.Dalam paparannya pada Rabu (3/12/2025), Chief Operating Officer OVO Eddie Martono mengungkapkan bahwa upaya pemberantasan dilakukan melalui program Gerakan Bareng Ungkap Judi Online (Gebuk Judol) yang berjalan dalam dua ronde sepanjang 2025. Ronde pertama berlangsung pada Februari-Maret 2025, sementara ronde kedua digelar pada Juli-Agustus 2025.
“Transaksi judi online telah dilaporkan turun hingga 97 persen dan di sini kami tahu kami tidak bisa sendiri, kami mengajak masyarakat untuk berpartisipasi,” ujar Eddie di kawasan Jakarta Selatan. Ia menambahkan bahwa jumlah akun yang diblokir secara keseluruhan sebenarnya lebih banyak dan dilaporkan secara berkala ke Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Program Gebuk Judol yang merupakan hasil kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), PPATK, dan Bank Indonesia ini juga mencatat tingkat validitas laporan masyarakat mencapai 91 persen, yang berarti sembilan dari sepuluh laporan terbukti benar dan langsung ditindaklanjuti.
Di bidang inklusi keuangan, OVO Finansial melalui layanan GrabModal telah menyalurkan pendanaan senilai Rp6 triliun kepada lebih dari 445.000 mitra UMKM dan pengemudi Grab. Pendanaan ini bertujuan membantu pelaku usaha menjaga arus kas dan meningkatkan kapasitas operasional di tengah kompetisi pasar.
Eddie menyampaikan bahwa adopsi QRIS OVO tumbuh 61 persen sepanjang 2025, sejalan dengan kenaikan nilai transaksi UMKM yang mencapai lebih dari 35 persen pada 700.000 pelaku usaha. OVO kini telah menjangkau lebih dari 3 juta merchant QRIS yang tersebar di lebih dari 800 kota dan kabupaten, termasuk wilayah pelosok seperti Merauke, Takalar, dan Kolaka Timur.
Hampir 50 persen dari total UMKM yang difasilitasi OVO dikelola oleh perempuan, dengan pertumbuhan tertinggi terjadi di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Aplikasi OVO sendiri telah diunduh lebih dari 121 juta kali sejak diluncurkan pada 2017.
Memasuki 2026, Eddie menyatakan bahwa OVO akan memprioritaskan penguatan teknologi, keamanan digital, perluasan akses bagi pengguna dan pelaku usaha, serta kolaborasi dengan mitra strategis. “Tahun ini semakin menegaskan peran OVO dalam memperluas akses layanan keuangan digital yang inklusif, praktis, dan tentunya aman,” kata Eddie.
OVO juga melanjutkan komitmennya dalam literasi keuangan melalui Fintech Academy yang telah menjangkau lebih dari 5.000 mahasiswa di berbagai universitas, serta mendukung program prioritas pemerintah Makan Bergizi Gratis dengan kontribusi lebih dari US$1 juta (Rp16,62 miliar) sejak September 2024.







