Penyelundupan Senyap di Ahmad Yani: Menahan ‘Nafas’ Papua yang Tercuri

Avatar photo

Porosmedia.com, TernateKamar penumpang itu seharusnya berisi riuh percakapan atau tumpukan koper wisatawan. Namun, di dalam kapal rute Sorong–Ternate yang bersandar di Pelabuhan Ahmad Yani, suasana justru mencekam dalam keheningan yang janggal. Di sana, bukan barang dagangan yang ditemukan, melainkan fragmen-fragmen kehidupan liar Papua yang sedang dicuri dari rumahnya.

​Petugas gabungan yang bergerak berdasarkan laporan intelijen tidak menemukan komoditas biasa. Di balik pintu-pintu yang tertutup, tersusun kotak-kotak kayu dan wadah plastik yang memenjarakan 114 nyawa.

​Daftar “penumpang gelap” ini adalah mimpi buruk bagi konservasi. Petugas mengidentifikasi keberadaan kadal, biawak, hingga ular-ular eksotis. Namun yang paling menyesakkan adalah ditemukannya Kuskus dan Kanguru Pohon Nemena. Nama terakhir merupakan spesies ikonik yang bahkan di rimba terdalam Papua pun sulit ditemui, kini justru meringkuk di ruang sempit kapal motor.

​Tanpa kegaduhan dramatis, petugas melakukan evakuasi dengan ketelitian tinggi. Setiap satwa diperiksa satu per satu—sebuah kontras yang menyedihkan: manusia mencoba memperbaiki “kerusakan” akibat ulah manusia lainnya. Satwa-satwa ini diduga kuat akan diselundupkan menuju Surabaya, sebuah pasar gelap yang kerap menjadi muara bagi keanekaragaman hayati nusantara.

Baca juga:  Ribuan Personel Siap Siaga Jaga Kota Bandung Tetap Kondusif selama Lebaran 

​Bagi para pelaku, ini mungkin sekadar transaksi jutaan rupiah. Namun bagi ekosistem, ini adalah lubang besar yang menganga. Kanguru pohon dan kuskus bukan sekadar penghias hutan; mereka adalah “petani alami” yang menyebarkan biji dan memastikan regenerasi vegetasi di tanah Papua tetap berjalan.

​Malam itu di Ternate tidak berakhir dengan sorak-sorai, melainkan dengan sebuah refleksi pahit. Perjalanan mereka terhenti, mereka tidak jadi pergi lebih jauh menuju kepunahan di tangan kolektor pribadi.

​Namun, ancaman tetap nyata. Selama hutan Papua terus dibabat dan satwa liarnya terus diperlakukan sebagai komoditas, maka kekayaan hayati kita hanya akan menjadi catatan kaki dalam buku sejarah yang hilang. Satwa-satwa ini berhasil diselamatkan, namun perjuangan menjaga gerbang-gerbang pelabuhan dari penjarahan biodiversitas masih jauh dari kata usai.