Pameran Milestone Bandung Heritage di Microlibrary Asia Afrika: Menagih Komitmen RTH di Tengah Impitan Beton Kota

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Isu penyempitan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan ancaman krisis ekologis di Kota Bandung kembali disorot. Organisasi pelestari cagar budaya, Bandung Heritage, menggelar pameran bertajuk Milestone Kota Bandung di Microlibrary Asia Afrika pada 5–18 Oktober 2026.

​Kegiatan ini secara khusus membedah jejak historis tata kota, transformasi RTH dari masa ke masa, hingga refleksi atas darurat lingkungan perkotaan yang kini membayangi Kota Kembang.

​Ketua Bandung Heritage, Aji Bimarsono, mengungkapkan bahwa pameran ini merupakan respons atas arahan Wali Kota Bandung guna memperluas sosialisasi rekam jejak pembangunan kota kepada publik.

​“Nama Milestone Kota Bandung ini memang arahan langsung dari Pak Wali. Beliau menginginkan narasi mengenai tonggak sejarah Kota Bandung disosialisasikan secara masif kepada masyarakat,” ujar Aji.

​Empat Babak Transformasi dan Ancaman Perkotaan

​Pameran ini menyajikan narasi sejarah yang terbagi dalam empat klaster utama. Dua bagian awal mengupas memori kolektif era kolonial—mulai dari pergeseran pusat pemerintahan hingga pembentukan status gemeente (kotamadya) yang menjadi fondasi awal cetak biru sistem perencanaan kota dan penataan taman perkotaan.

Baca juga:  Memperkokoh Pondasi Organisasi: Melintasi Lorong Waktu Menuju Cahaya Pengabdian

​Namun, alih-alih sekadar romantisasi masa lalu, pameran pada bagian ketiga menyuguhkan potret kritis kondisi Bandung hari ini. Peningkatan pesat populasi dan laju alih fungsi lahan dinilai telah mendegradasi keberadaan ruang terbuka hijau secara signifikan.

​Sementara pada bagian akhir, pameran merangkum pelbagai riset, sumbangsih pemikiran, serta gagasan akademis guna merumuskan solusi atas krisis lanskap ekologi perkotaan.

​Suara Warga: Regenerasi Pelestarian dan Ancaman Kekeringan

​Sorotan terhadap efektivitas sosialisasi dan urgensi perawatan lingkungan juga datang dari pengunjung. Agnes Soebakir, salah seorang warga yang hadir, menilai materi sejarah yang disajikan membuka mata publik akan pentingnya menjaga sisa-sisa vegetasi kota.

​“Saya sebelumnya acuh. Tapi setelah dijelaskan secara menyeluruh dari awal sampai akhir, ini membuka pemikiran kita. Kita yang sudah berumur harus menggerakkan generasi muda untuk melanjutkan pelestarian ini. Jangan sampai warisan ini ditinggalkan begitu saja,” tegas Agnes.

​Agnes juga mengkritik pola sosialisasi kegiatan edukatif seperti ini yang dinilainya masih terbatas. Ia mendesak pemerintah dan penyelenggara untuk memperluas jangkauan ke sekolah, kampus, hingga lini masyarakat umum.

Baca juga:  Makan Siang Yonif 323 Buaya Putih Bersama Masyarakat Pedalaman Papua

​Tak hanya itu, Agnes menekankan bahwa keberadaan pohon dan RTH bukan sekadar estetika, melainkan benteng pertahanan ekologis kota.

​“Merawat pohon dan ruang hijau itu krusial untuk resapan air agar kita tidak mengalami kekeringan. Kalau vegetasi kota tidak dirawat, selesai semuanya. Kita akan kesulitan air bersih di masa depan,” cetusnya.

​Catatan Evaluasi Penyelenggaraan

​Meski sarat muatan edukatif, penyelenggaraan pameran yang telah berjalan selama seminggu sejak pembukaan resmi pada Senin lalu ini masih menyisakan ruang evaluasi teknis. Sejumlah materi pameran diketahui sudah terpasang sepekan sebelum peresmian, walau penyajiaannya saat itu belum sepenuhnya rampung.

​Merespons hal tersebut, pihak Bandung Heritage menyatakan komitmennya untuk terus membenahi kualitas penyajian ke depan—mulai dari resolusi visual panel, teknik cetak, hingga integrasi teknologi digital agar pesan histori dan ekologi dapat tersampaikan lebih interaktif serta tepat sasaran. (Red)

​