Porosmedia.com, Bandung – Kelurahan Pasir Endah di Kecamatan Ujungberung kini menjadi potret kompleksnya tantangan urban di Kota Bandung. Wilayah ini tidak hanya bergelut dengan ancaman banjir tahunan, tetapi juga menghadapi krisis sanitasi mendasar yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, melakukan peninjauan lapangan secara maraton pada Senin dan Selasa (26-27 Januari 2026). Langkah ini dilakukan untuk merespons keluhan warga terkait tiga isu krusial: banjir kiriman, minimnya fasilitas sanitasi (septic tank), dan akses air bersih yang belum merata.
1. Solusi Teknis Banjir: Antara Rumah Pompa dan Sekat Birokrasi
Banjir di Komplek Sukup dan sekitarnya (terutama RW 2, 6, dan 7) teridentifikasi bukan sekadar masalah drainase lokal, melainkan akibat debit air kiriman dari hulu di perbatasan Kabupaten Bandung. Pertemuan Sungai Cicalobak dan Cipanjalu menjadi titik kritis karena kapasitas sungai yang tidak seimbang.
Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) merencanakan pemasangan hydro chamber atau rumah pompa berukuran 10 \times 10 meter.
”Secara fungsi, pompa akan ditempatkan di bagian bawah untuk memompa limpasan Sungai Cicalobak ke Sungai Cipanjalu agar tidak masuk ke permukiman,” jelas Dini Dianawati, Kabid Pengendalian Daya Rusak Air DSDABM.
Namun, Farhan mengakui adanya hambatan administratif dalam solusi permanen seperti sodetan atau tanggul besar. Proyek tersebut memerlukan rekomendasi teknis dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan koordinasi lintas Pemprov Jabar. Target realisasi baru dipatok pasca-Lebaran 2026, yang berarti warga masih harus bersiaga menghadapi sisa musim penghujan tahun ini.
2. Darurat Sanitasi: Hubungan Rutilahu dan Stunting
Hal yang lebih mengejutkan terungkap saat Siskamling Siaga Bencana. Farhan menyoroti fakta masih banyaknya rumah warga yang belum memiliki septic tank (belum ODF/Open Defecation Free).
Kondisi ini disebut sebagai pemicu rantai masalah kesehatan:
- Tingginya kasus diare.
- Hambatan penurunan angka stunting.
- Penyebaran TBC akibat Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang padat dan minim sirkulasi.
”Rutilahu bukan sekadar soal tampilan rumah, tapi soal kesehatan seluruh keluarga,” tegas Farhan. Ia menekankan bahwa perbaikan fisik rumah harus sejalan dengan perbaikan sanitasi dasar agar intervensi kesehatan tepat sasaran.
3. ‘Blank Spot’ Air Bersih: Janji Peningkatan Layanan
Pasir Endah sejauh ini masih menjadi wilayah blank spot layanan PDAM. Warga masih bergantung sepenuhnya pada sumur bor mandiri. Dengan cakupan layanan PDAM Kota Bandung yang baru menyentuh angka 38%, Pemkot menargetkan kenaikan hingga 50% dalam tiga tahun ke depan.
Sebagai solusi jangka pendek yang bersifat darurat, Pemkot membuka opsi distribusi air bersih melalui tangki PDAM untuk memutus dominasi penjualan air oleh pihak swasta di wilayah tersebut.
Meski survei holistik telah dilakukan, tantangan sesungguhnya bagi Pemkot Bandung adalah sinkronisasi anggaran dan kecepatan eksekusi. Warga Pasir Endah kini menunggu apakah kehadiran Wali Kota di lapangan akan berujung pada perubahan struktural atau sekadar menjadi rutinitas peninjauan tahunan.
Pemkot Bandung perlu memastikan bahwa koordinasi dengan BBWS dan Pemerintah Pusat terkait aliran sungai dari hulu tidak menjadi alasan klasik yang menghambat perlindungan warga di hilir.







