Porosmedia.com – Idul Fitri 1447 H seharusnya menjadi riuh kemenangan. Gema takbir yang bersahutan biasanya membawa pesan suka cita. Namun, di sudut sunyi yang luput dari sorot lampu kota, sebuah tragedi kemanusiaan menyeruak, meninggalkan tanya yang menggetarkan nurani: Masihkah ada ruang bagi rasa lapar di tengah tumpukan hidangan hari raya?
Sebuah kabar duka datang membawa getir. Seseorang mengembuskan napas terakhirnya dalam sebuah insiden yang dipicu oleh dua buah labu siam. Bukan karena ia ingin menimbun kekayaan, melainkan karena perlawanan terakhir tubuhnya terhadap rasa lapar yang tak lagi tertahankan.
Secara hukum, mengambil milik orang lain tetaplah sebuah pelanggaran. Namun, dalam kacamata kemanusiaan, dua buah labu siam adalah simbol dari sebuah keputusasaan yang ekstrem. Kejadian ini seolah menampar wajah kolektif kita sebagai masyarakat yang baru saja menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.
Puasa esensinya adalah latihan empati—merasakan perihnya perut yang kosong agar kita lebih peduli. Jika di akhir bulan suci ini masih ada nyawa yang melayang hanya demi mengganjal perut dengan dua buah sayuran sederhana, maka ada sesuatu yang perlu kita tinjau kembali dalam cara kita bertetangga dan bermasyarakat.
Dari sisi hukum, kita harus bijak melihat bahwa keadilan tidak hanya berdiri di atas teks undang-undang, tapi juga pada konteks sosial. Tragedi ini bukan sekadar statistik kriminalitas kecil. Ini adalah pengingat bagi para pemangku kebijakan dan kita semua tentang pentingnya Jaring Pengaman Sosial yang berbasis komunitas.
Kita tidak boleh membiarkan hukum menjadi tajam hanya pada mereka yang terhimpit kebutuhan dasar, sementara akar masalah—yaitu kemiskinan ekstrem dan kelaparan—masih belum terurai.
Idul Fitri 1447 H ini memberikan pelajaran mahal bagi kita. Bahwa kesalehan individu yang kita pupuk selama Ramadhan belum sempurna jika tidak bertransformasi menjadi kesalehan sosial.
Zakat bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan radar untuk mendeteksi siapa di antara kita yang sedang sekarat karena lapar.
Silaturahmi bukan sekadar berkunjung, melainkan memastikan tidak ada asap dapur yang berhenti mengepul di sekitar kita.
Kepergian sang pencari labu siam ini adalah kehilangan bagi kita semua. Ia pergi meninggalkan pesan bisu bahwa di tengah gegap gempita lebaran, masih ada jeritan lapar yang tak terdengar karena tertutup suara petasan dan kemeriahan.
Semoga tragedi ini menjadi yang terakhir. Mari jadikan momentum Idul Fitri 1447 H sebagai titik balik untuk lebih peka. Jangan biarkan “labu siam” berikutnya menjadi harga yang harus dibayar untuk sebuah nyawa, hanya karena kita terlalu sibuk dengan perayaan sendiri dan lupa menoleh ke samping kiri dan kanan.
”Tidak beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya.” (HR. Al-Hakim)







