Porosmedia.com, Bandung – Di sudut Kota Bandung, tepatnya di Kecamatan Bojongloa Kaler, ada sekelompok orang yang tak pernah lelah bergerak. Mereka bukan pejabat, bukan pula orang dengan fasilitas berlebih. Mereka menyebut dirinya Relawan BONGSOR (Bojongloa Kaler Sosial Respon). Tujuan mereka sederhana, namun bermakna besar: memastikan setiap warga, tanpa terkecuali, bisa merasakan hak dasar berupa akses kesehatan dan kesejahteraan sosial.
BONGSOR lahir bukan dari program besar pemerintah, melainkan dari kegelisahan masyarakat yang melihat masih banyak tetangga mereka kesulitan mengakses layanan kesehatan. Pada tahun 2020, melalui Surat Keputusan Camat Bojongloa Kaler, tim relawan ini resmi berdiri.
Sekitar 30 orang relawan diturunkan di lapangan, tersebar di lima kelurahan. Mereka merupakan gabungan unsur TKSK, Karang Taruna, PSM, PKK, PMI, hingga warga biasa yang memiliki kepedulian sosial tinggi.
Ketua Relawan BONGSOR yang juga Ketua TKSK Bojongloa Kaler, Rudi Sughandi, menegaskan bahwa semangat gotong royong menjadi pondasi utama gerakan ini.
“Kami hadir untuk menutup celah pelayanan sosial yang belum sepenuhnya terjangkau warga. Prinsip kami jelas: pantang pulang sebelum tuntas, dan pantang menyerah sebelum warga mendapatkan haknya,” ujar Rudi.
Salah satu terobosan BONGSOR yang mendapat banyak apresiasi adalah layanan ambulans gratis. Tidak semua warga mampu menyewa ambulans ketika menghadapi keadaan darurat. Relawan ini hadir mengisi celah itu. Ketika telepon darurat masuk, ambulans BONGSOR segera meluncur, menjemput pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit.
Belum lama ini, BAZNAS Kota Bandung memberikan bantuan alat kesehatan berupa strecher (blankar) untuk ambulans BONGSOR. Bantuan tersebut menjadi simbol bahwa kerja mereka mendapat dukungan nyata.
“Dengan adanya tambahan fasilitas ini, kami bisa lebih layak dan aman saat melayani warga,” tambah Rudi.
Namun, kerja BONGSOR bukan hanya sebatas ambulans. Mereka juga menjadi jembatan advokasi antara warga dengan birokrasi. Mulai dari pengurusan BPJS, UHC, hingga administrasi layanan sosial lain, semua mereka dampingi agar tidak ada warga yang merasa kebingungan.
Bagi kalangan lansia dan masyarakat miskin, proses birokrasi seringkali menjadi beban tambahan. Relawan BONGSOR hadir untuk memastikan setiap prosedur bisa dilalui dengan baik. Tak jarang, mereka mengantar warga dari satu kantor ke kantor lain agar semua persyaratan terpenuhi.
“Kami ingin memastikan tidak ada warga yang merasa sendirian saat menghadapi birokrasi. Kehadiran kami bukan hanya teknis, tapi juga moral dan emosional,” jelas Rudi Sughandi.
Suara Dukungan dari Wakil Rakyat

Keberadaan BONGSOR juga mendapat dukungan dari kalangan legislatif. H. Soni Daniswara, S.E., Anggota DPRD Kota Bandung periode 2024–2029 dari Fraksi PKB, menilai BONGSOR adalah contoh gerakan sosial yang patut diapresiasi.
Pria kelahiran Bandung, 21 Januari 1981 ini, yang kini juga menjabat Ketua Badan Kehormatan DPRD Kota Bandung, mengatakan bahwa kerja BONGSOR sangat membantu warga di dapilnya, khususnya Bojongloa Kaler, Astana Anyar, dan Regol.
“Relawan BONGSOR adalah wajah nyata gotong royong masyarakat. Mereka turun langsung ke lapangan, membantu warga tanpa pamrih. Pemerintah daerah seharusnya mendukung penuh inisiatif semacam ini, karena apa yang mereka lakukan sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tegas Soni.
Harapan yang Tak Pernah Padam
Sejak berdiri, BONGSOR telah mendampingi ribuan warga. Ada kisah haru di setiap perjalanan ambulans, senyum lega di setiap administrasi yang berhasil dibantu, hingga pelukan hangat saat melewati birokrasi yang rumit.
Gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa kekuatan relawan mampu menutup celah layanan publik. Mereka tidak menunggu perubahan datang dari atas, melainkan menggerakkannya dari bawah.
Motto mereka, “Pantang pulang sebelum pulang”, bukan sekadar kata-kata. Itu adalah energi yang terus menjaga semangat mereka: tidak akan berhenti sebelum tugas selesai, sebelum warga mendapatkan haknya, sebelum senyum itu kembali hadir.
Pesannya, Relawan BONGSOR adalah cermin bahwa kepedulian bisa tumbuh dari mana saja. Di tengah hiruk pikuk kota, mereka adalah denyut hati solidaritas. Meski tanpa sorotan besar, perjuangan kecil di gang-gang sempit Bojongloa Kaler justru memiliki arti panjang: menjaga kemanusiaan tetap hidup.
https://www.instagram.com/sonidaniswara?igsh=MTNlazJvbm12OGd6cg==
https://www.instagram.com/relawanbongsor?igsh=cWVwMWJvZXQ0eWZm







