​BANDUNG: Satu-satunya Kota yang Pernah Membakar Dirinya Hanya untuk Mempertahankan Identitasnya!

Wawancara Imajiner dengan Seorang Pejuang Bandung Lautan Api dalam Rangka Hari Jadi Kota Bandung ke-216

Avatar photo

Oleh: Anto Ramadhan (Pengamat Budaya, Tinggal di Cicadas)

Porosmedia.com – ​Malam itu, Bandung tidak sedang merayakan apa pun.

​Tidak ada kembang api.

Tidak ada panggung hiburan.

Tidak ada lampu warna-warni.

​Yang ada hanya api.

​Api yang menjalar dari rumah ke rumah. Api yang melahap bangunan. Api yang membuat langit Bandung berubah merah. Api yang seolah-olah hendak mengatakan kepada dunia: kota ini boleh kami tinggalkan, tetapi tidak boleh kalian ambil begitu saja.

​Pada 24 Maret 1946, Bandung dibumihanguskan oleh para pejuang dan rakyat sebelum mereka meninggalkan kota. Keputusan itu lahir dalam situasi perang dan tekanan ultimatum Sekutu. Api bukan sekadar kebakaran, melainkan bagian dari strategi agar Bandung tidak mudah digunakan oleh pihak lawan.

​Kini, 80 tahun telah berlalu.

​Bandung justru sedang bersiap merayakan ulang tahunnya yang ke-216 pada 25 September 2026. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung sejak 1810.

​Namun, saya tiba-tiba membayangkan: bagaimana kalau malam ini kita bisa bertemu dengan seorang pejuang yang ikut membakar Bandung?

​Saya membayangkan duduk bersamanya di sebuah bangku tua.

​Ia mengenakan pakaian sederhana.

Wajahnya tidak jelas.

Namanya pun tidak perlu disebut.

​Sebab, ia mungkin mewakili ribuan manusia yang namanya hilang dari buku sejarah.

​Saya bertanya.

​“Pak, kenapa Bandung harus dibakar?”

​Ia terdiam cukup lama, kemudian menjawab, “Kami tidak membakar Bandung karena kami membenci Bandung.”

​Ia menatap jauh.

​“Justru karena kami terlalu mencintainya.”

​Saya terdiam.

​“Bukankah itu terdengar paradoks?”

​Ia tersenyum tipis.

​“Memang. Akan tetapi, perang sering memaksa manusia memilih antara kehilangan sesuatu hari ini atau kehilangan semuanya untuk jangka waktu yang lebih panjang.”

​“Jadi, api itu bentuk cinta?”

​Ia menggeleng.

​“Jangan romantiskan api. Api tetaplah api. Ia menghancurkan rumah, kenangan, dan harta benda. Banyak rakyat harus meninggalkan kota. Itu bukan kemenangan yang indah.”

Baca juga:  Hujan Deras Jalan Bandung - Cirebon Tergenang Air

​Lalu, ia menatap saya.

​“Tetapi, malam itu kami merasa tidak punya banyak pilihan.”

​“Apa yang paling Bapak ingat dari malam itu?”

​“Suara.”

​“Suara apa?”

​“Bukan suara ledakan.”

​Ia menarik napas.

​“Suara orang menangis.”

​Jawaban itu membuat percakapan mendadak sunyi.

​“Kalian sekarang mungkin membayangkan Bandung Lautan Api sebagai gambar langit merah dan kobaran api. Namun, bagi kami yang ada di sana, itu bukan lukisan.”

​“Lalu?”

​“Itu rumah.”

​“Rumah?”

​“Ya. Rumah yang dibakar sendiri, jalan yang ditinggalkan, tetangga yang pergi, dan anak-anak yang harus mengungsi.”

​Ia kembali terdiam.

​“Jadi, jangan hanya ingat apinya. Ingat pula manusia yang kehilangan rumahnya.”

​“Kalau begitu, apakah Bandung Lautan Api sebenarnya sebuah kemenangan?”

​Ia tersenyum.

​“Pertanyaan itu tidak mudah dijawab.”

​“Kenapa?”

​“Karena perang tidak pernah sesederhana menang atau kalah.”

​Menurutnya, pembumihangusan Bandung merupakan keputusan yang lahir dari situasi genting setelah ultimatum Sekutu. Para komandan Tentara Republik Indonesia (TRI), pemimpin laskar, dan unsur pemerintahan kemudian menyepakati pembumihangusan sebelum meninggalkan kota.

​“Yang kami pertahankan waktu itu bukan gedung.”

​Ia menunjuk ke arah Bandung yang sekarang.

​“Yang kami pertahankan adalah hak untuk menentukan siapa diri kami.”

​“Sekarang Bandung sudah berusia 216 tahun. Apa yang Bapak lihat?”

​Ia tertawa kecil.

​“Saya melihat kota yang jauh lebih ramai.”

​“Ramai?”

​“Dulu kami berlari karena perang. Sekarang kalian berlari mengejar waktu.”

​Saya tersenyum.

​“Bedanya?”

​Ia menjawab, “Dulu orang takut kehilangan kota. Sekarang orang kadang takut kehilangan kesempatan.”

​Lalu, ia melihat gedung-gedung tinggi, kendaraan, pusat perbelanjaan, jalan yang padat, kafe, kampus, taman, dan permukiman yang terus tumbuh.

Baca juga:  Songsong HUT Ke-66, SOKSI Gelar Bakti Sosial dan Konsolidasi Nasional di Bandung

​“Bandung sudah berubah.”

​“Apakah Bapak kecewa?”

​Ia menggeleng.

​“Kota memang harus berubah.”

​Kemudian, suaranya menjadi lebih serius.

​“Namun, jangan sampai kota kehilangan ingatan.”

​“Apa yang dimaksud dengan kehilangan ingatan?”

​“Ketika orang tinggal di Bandung, tetapi tidak lagi merasa memiliki Bandung.”

​Saya terdiam.

​Ia melanjutkan:

​“Kalian punya gedung tua, tetapi tidak tahu ceritanya.”

“Kalian punya nama jalan, tetapi tidak tahu siapa yang pernah berjalan di sana.”

“Kalian punya sungai, tetapi lupa bahwa sungai adalah bagian dari kehidupan.”

“Kalian punya kampung, tetapi menganggap kampung sebagai sisa masa lalu.”

​Ia berhenti sebentar.

​“Dan kalian punya sejarah Bandung Lautan Api, tetapi hanya mengingatnya ketika tanggal 24 Maret tiba.”

​Kalimat terakhir terasa seperti tamparan.

​“Lalu, apa arti Bandung Lautan Api bagi generasi sekarang?”

​Ia menjawab pelan, “Jangan ulangi apinya.”

​Saya menatapnya.

​“Kenapa?”

​“Karena zaman kalian tidak membutuhkan pembakaran kota.”

“Zaman kalian membutuhkan manusia yang mau menjaga kota.”

​Ia kemudian tersenyum.

​“Kalau dulu kami mempertahankan Bandung dengan meninggalkan kota, kalian harus mempertahankan Bandung dengan merawatnya.”

​“Merawat apa?”

​“Ruang hidupnya.”

“Budayanya.”

“Lingkungannya.”

“Kampung-kampungnya.”

“Ingatan warganya.”

​Dan yang paling penting, katanya:

​“Rasa memiliki.”

​Bandung Tidak Boleh Hanya Menjadi Kota yang Pernah Terbakar

​Barangkali inilah ironi terbesar Bandung.

​Kita sering bangga menyebutnya Bandung Lautan Api. Akan tetapi, jangan sampai Bandung hanya menjadi kota yang pandai mengenang apinya, sementara lupa menghidupkan semangat di balik api itu.

​Para pejuang tahun 1946 tidak sedang mempertahankan kemewahan. Mereka sedang mempertahankan martabat. Mereka meninggalkan rumah agar suatu hari anak cucunya bisa memiliki rumah yang lebih bebas.

​Mereka membakar sebagian kota karena pada saat itu tidak ingin kota yang mereka cintai dipakai oleh kekuatan yang mereka lawan. Sejarah resmi mencatat bahwa pembumihangusan dilakukan menjelang pengosongan Bandung Selatan setelah ultimatum Sekutu.

Baca juga:  Menjelang Konferprov PWI Jabar 2026: Menguji Transparansi Verifikasi DPT dan Legitimasi Organisasi

​Delapan puluh tahun kemudian, pertanyaannya justru berubah: apa yang kita pertahankan dari Bandung hari ini?

​Apakah hanya kemacetan?

Apakah hanya gedung?

Apakah hanya pusat bisnis?

Apakah hanya citra sebagai kota kreatif?

​Atau kita masih mempertahankan sesuatu yang lebih dalam: karakter Bandung sebagai kota yang punya ingatan, kebudayaan, dan keberpihakan kepada manusia yang hidup di dalamnya?

​Saya kembali bertanya kepada sang pejuang.

​“Pak, kalau hari ini Bapak diberi kesempatan mengucapkan satu kalimat kepada warga Bandung pada ulang tahun ke-216, apa yang ingin Bapak katakan?”

​Ia berdiri, memandang Bandung, lalu menjawab:

​“Dulu kami membakar Bandung agar identitasnya tidak dirampas. Sekarang, jangan biarkan identitas Bandung padam karena kalian sendiri lupa menjaganya.”

​Setelah itu, ia pergi.

​Saya mencoba mengejarnya, tetapi ia sudah tidak ada.

​Yang tersisa hanya angin Bandung.

​Dan mungkin, suara sejarah yang berbisik dari masa lalu:

​“Bandung bukan sekadar tempat tinggal. Bandung adalah ingatan yang harus dirawat.”

Wilujeng Mangkala Kota Bandung ka-216.

​Semoga Bandung tidak hanya bertambah tua, tetapi bertambah beradab, berbudaya, dan semakin tahu siapa dirinya.

https://youtu.be/hLNvm-kDnVU?si=l14vi7rOe5tqRgfi