Porosmedia.com, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bersama tokoh lintas agama dan aparat keamanan memperkuat kolaborasi untuk memastikan kondusivitas menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Fokus utama saat ini mencakup jaminan keamanan rumah ibadah, pemeliharaan toleransi, hingga kajian teknis penataan transportasi guna mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa situasi keamanan di seluruh wilayah Kota Bandung saat ini dalam kondisi terkendali. Menanggapi isu ancaman keamanan di kawasan Kosambi beberapa waktu lalu, Farhan memastikan bahwa ancaman tersebut merupakan informasi palsu (hoaks).
”Pelacakan terhadap sumber ancaman tetap dilakukan oleh kepolisian dan Densus 88. Sejak 22 Desember, kami terus memantau lapangan guna memastikan ibadah Natal berjalan lancar,” ujar Farhan di Pendopo Kota Bandung, Selasa (23/12/2025).
Pemkot Bandung juga menginisiasi rangkaian doa bersama lintas agama di Pendopo Kota Bandung. Pastor Aloysius Wahyu, mewakili umat Katolik, mengapresiasi langkah ini sebagai simbol Pendopo sebagai “rumah bersama”. Ia menekankan bahwa doa harus dibarengi refleksi dan usaha nyata dalam membangun harmoni kota.
Di sisi kesiapan gereja, Humas Gereja Katedral Bandung, Amanda, menyatakan persiapan fisik telah mencapai 90%. Pengamanan internal dibantu aparat gabungan telah disiagakan 24 jam sejak 21 Desember hingga 2 Januari 2026. Senada dengan itu, Pendeta Marthina Nanlohy–Latupeirissa dari GPIB Jemaat Bethel Bandung memastikan seluruh rangkaian sakramen dan ibadah telah siap dengan dukungan keamanan yang solid dari instansi terkait.
Natal tahun ini mengusung tema nasional yang menekankan pada penguatan institusi keluarga. Amanda menjelaskan bahwa tema ini menjadi momentum rekonsiliasi antaranggota keluarga di tengah tantangan sosial yang dinamis. Umat pun diimbau untuk menitikberatkan perayaan pada keintiman bersama keluarga inti.
Selain aspek keamanan dan religius, Pemkot Bandung tengah melakukan kajian mendalam terkait operasional angkutan kota (angkot) selama masa libur Nataru. Langkah ini diambil untuk mencegah kemacetan kronis tanpa merugikan para operator angkutan umum.
Wali Kota Farhan menekankan bahwa pengaturan rute tidak dilakukan secara gegabah. “Keputusan harus bulat melalui rembuk teknis dengan Dinas Perhubungan, Satlantas, dan dukungan Forkopimda. Kami menghitung dampak bagi warga, operator, maupun pengendara umum agar mobilitas tetap terjaga,” jelasnya.
Gereja-gereja di Bandung juga menegaskan keterbukaan mereka bagi masyarakat umum sebagai bentuk penguatan nilai toleransi. Katedral Bandung, misalnya, tetap menjadi ruang publik yang terbuka bagi siapa pun yang ingin menikmati suasana Natal, mempertegas identitas Bandung sebagai kota multikultural yang inklusif.
Melalui sinergi antara Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), pemuka agama, dan pemerintah, perayaan Nataru 2025 di Kota Bandung diharapkan menjadi refleksi atas kedamaian dan kesiapan infrastruktur kota dalam melayani masyarakat secara maksimal.







