Sidang Fiktif “Komite Kursi Berputar” di Negeri Fiksi Antah Berantah

Avatar photo

Porosmedia.com – ​Di sebuah ruang sidang fiktif yang terletak di ujung dimensi imajinasi—jauh dari yurisdiksi dunia nyata namun tetap menjunjung tinggi estetika birokrasi—tiga tokoh terhormat dari infografis bertuliskan BBC News Indonesia dengan tajuk “SIAPA SAJA TERSANGKANYA?” sedang menikmati secangkir kopi hangat. Mereka adalah Jenderal Listyo Sigit Prabowo (Kepala Staf Kepresidenan dan eks Kapolri), Irjen Ahrie Sonta Nasution (Eks ajudan Presiden Prabowo Subianto), dan Irjen Eko Hadi Santoso (Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri).

​Suasana mendadak senyap ketika Hakim Ketua, yang mengenakan toga dari kain goni bekas karung beras impor, mengetuk palu dari kayu jati tua.

​”Sidang Komite Kursi Berputar resmi dibuka!” seru Sang Hakim dengan suara berwibawa. “Agenda hari ini adalah evaluasi efisiensi mutasi, rotasi, dan seni menghilang dari jabatan publik di Negeri Fiksi.”

​Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dengan gaya khas seorang Kepala Staf Kepresidenan, mengangkat tangan dengan santun. “Yang Mulia, izin berpendapat. Di era modern ini, mutasi jabatan bukan sekadar perpindahan administratif, melainkan sebuah bentuk olahraga kardio birokratis. Kami berlatih agar otot-otot fleksibilitas jabatan tetap terjaga, dari pengayom masyarakat hingga pengatur strategi di istana.”

Baca juga:  'Imlek' Ternyata Cuma ada di Indonesia, Bermula dari Fobia China

​Irjen Ahrie Sonta Nasution mengangguk setuju sambil membenarkan kerah seragamnya. “Betul, Yang Mulia. Pengalaman mendampingi lingkaran nomor satu memberikan kami ketahanan mental tingkat tinggi. Ketika orang lain panik menghadapi dinamika, kami sudah terlatih menghadapi ‘cuaca ekstrem’ di ring kekuasaan.”

​Di sudut meja, Irjen Eko Hadi Santoso tersenyum tipis sambil memegang buku panduan kurikulum pendidikan kepolisian. “Makanya, di Sespim Lemdiklat Polri nanti, saya berencana memasukkan mata kuliah baru: ‘Strategi Tetap Tenang Saat Judul Berita Berubah Menjadi Tanda Tanya Besar’. Ini penting untuk melatih para perwira muda agar memiliki reflex ketenangan setara biksu Shaolin.”

​Hakim Ketua mengelus janggutnya yang fiktif. “Menarik sekali. Tapi ingat, di negeri fiksi ini, hukum gravitasi karier berlaku unik: semakin tinggi jabatan, semakin kencang angin pusaran angin puyuhnya. Pertanyaannya, apakah kursi kalian terbuat dari busa empuk atau paku payung?”

​Ketiga tokoh tersebut saling berpandangan, lalu tertawa renyah bersama. Mereka sadar, betapapun tajamnya sorotan tajuk berita atau dinamika hukum yang melingkupi, seni beradaptasi di atas panggung birokrasi adalah pertunjukan utama yang tidak pernah kehilangan penonton.

Baca juga:  Sinergi Pentahelix: UMKM Mimide Indramayu Raih Juara 1 Bogasari Young Flour Foodpreneur 2026

​Catatan Pinggir: Kisah ini murni fiksi satir berbasis imajinasi administratif dan tidak dimaksudkan untuk merefleksikan kejadian faktual di dunia nyata, demi menjaga keharmonisan logika semesta.