Berstatus SNI dan Punya Food Market, Efektivitas Revitalisasi Pasar Cijerah Cerah Uji Ketahanan Ekonomi Pedagang

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Langkah Perumda Pasar Juara Kota Bandung bersama mitra swastanya, PT Mitra Karya Prospekta, dalam memoles wajah Pasar Cijerah Cerah kini resmi memasuki babak baru. Setelah merampungkan proses peremajaan fisik selama 7 hingga 8 bulan, pasar tradisional di kawasan Bandung Kulon tersebut mengklaim keberhasilannya bertransformasi dari citra kumuh menjadi pasar modern berstandar nasional.

​Kendati berhasil mengantongi predikat lulus Standar Nasional Indonesia (SNI) dari Badan Standardisasi Nasional (BSN)—sebagai pasar pertama di Kota Bandung yang meraih sertifikasi tersebut—tantangan riil dalam menjaga konsistensi tata kelola kawasan, efektivitas pengolahan sampah, hingga penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitarnya kini berada di bawah sorotan publik.

​Dorong Ekosistem Ekonomi Malam Lewat Food Market

​Guna mengoptimalkan pemanfaatan ruang publik dan memutar roda ekonomi di luar jam operasional perdagangan konvensional, pengelola meresmikan Cijerah Food Market pada 17 Oktober 2026. Area kuliner ini dirancang untuk menggaet segmen konsumen muda dan keluarga melalui sajian kuliner tradisional, kedai kopi, hingga suguhan hiburan seperti live music dan nonton bareng (nobar).

Baca juga:  ​Darurat Sampah Bandung Raya: 3.000 Mahasiswa Tel-U Diterjunkan KKN Tematik, Sekda Jabar Sentil Rendahnya Pengelolaan dari Rumah

​Kepala Pasar Cijerah Cerah Kota Bandung, Denny Arifin, menjelaskan bahwa integrasi antara pasar basah yang beroperasi sejak pukul 03.00 WIB hingga 18.00 WIB dengan food market yang buka hingga pukul 21.00 WIB (22.00 WIB pada akhir pekan) ditujukan untuk menciptakan simfoni bisnis yang saling menguntungkan.

​”Kami mencoba melakukan aktivasi untuk mendorong ekonomi atau ekosistem yang ada di Pasar Cijerah ini. Harapannya, pengunjung yang datang ke food market juga bisa berbelanja di pasar tradisional, sehingga seluruh ekosistemnya berjalan dan roda ekonomi tetap berputar dengan baik,” tegas Denny saat ditemui wartawan di lokasi pasar, Senin (26/10/2026).

​Denny menambahkan, revitalisasi yang menampung sekitar 190 pedagang ini berjalan kondusif berkat sinergi penuh lintas sektor, baik unsur kewilayahan maupun partisipasi aktif para pedagang lokal.

​Uji Konsistensi Pengelolaan Sampah dan Fasilitas Publik

​Salah satu poin krusial dari rekayasa infrastruktur Pasar Cijerah Cerah terletak pada sistem pengelolaan kebersihan dan persampahan. Mengingat pasar tradisional merupakan salah satu penyumbang timbulan sampah organik terbesar di kawasan perkotaan, pengelola mulai menerapkan sistem magotisasi (Black Soldier Fly / BSF) secara mandiri.

Baca juga:  Tembus 8.000 Pengunjung, Evaluasi Transaksi dan Akurasi Data BGS 2026 Masih Dinanti

​Namun, pengolahan sampah organik ini tercatat masih berada dalam tahap uji coba dan pengembangan. Saat ini, fasilitas magotisasi pasar baru mampu menyerap sekitar satu kuintal sampah organik per minggu dengan luaran maggot sekitar 12 kilogram yang disalurkan sebagai pakan ikan ke kolam warga sekitar.

​Akuntabilitas dan kapasitas penyerapan sampah mandiri ini ke depan dinilai memegang peranan kunci agar Pasar Cijerah Cerah tidak kembali terjebak dalam persoalan klasik penumpukan sampah.

​Di sisi lain, pembaruan fasilitas fisik mencakup penyediaan sarana toilet yang lebih layak, penguatan sistem keamanan, serta penataan kantong-kantong parkir untuk kendaraan roda dua maupun roda empat guna mengurai potensi kemacetan di jalan sekitar kawasan pasar.

​Respon Pedagang dan PR Penataan Kawasan

​Perubahan kondisi fisik pasar mendapatkan apresiasi langsung dari para pedagang yang telah puluhan tahun menggantungkan mata pencaharian di lokasi tersebut.

​Rudi, pedagang sayuran yang telah berjualan selama 12 tahun, mengungkapkan kepuasannya atas perbaikan atap dan fasilitas kebersihan. “Dulu pasarnya kurang bagus, sekarang mah bagus. Kalau dulu banyak yang bocor, sekarang enak, bersih, terawat, dan tertata. Yang belanja juga sekarang nyaman,” ungkapnya.

Baca juga:  Masyarakat Cimahi Ustadz Didin Karyadi Ghalib Kecewa Ucapan Aditya "Berarti Masyarakat Kota Cimahi Ilegal Duduk Diwilayah Yang Tidak Jelas"

​Sentimen serupa disuarakan oleh Idan, pedagang senior yang sudah 20 tahun beraktivitas di Pasar Cijerah. Menurutnya, penataan lapak dan perluasan area parkir membawa dampak positif bagi kenyamanan konsumen. “Sekarang tempatnya lebih bagus dan lebih nyaman buat yang belanja. Tempat parkir juga lumayan luas. Harapannya, jualan bisa ramai terus,” tutur Idan.

​Kendati pembenahan internal pasar menuai respon positif, pengelola menyadari bahwa keberhasilan revitalisasi secara menyeluruh sangat bergantung pada ketertiban lingkungan luar pasar, terutama menyangkut sinergitas penataan PKL dan peningkatan daya beli masyarakat secara berkelanjutan.

​Denny pun mengajak warga Bandung Kulon, Kota Bandung, serta kawasan perbatasan wilayah untuk kembali memanfaatkan pasar tradisional sebagai destinasi utama pemenuhan kebutuhan harian dan ruang interaksi sosial-kuliner. (Redaksi/Porosmedia)

​