Porosmedia.com, Bandung – Persoalan sampah di kawasan Bandung Raya yang kian mengkhawatirkan menuntut keterlibatan langsung sektor akademisi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat, dari total 5.000 ton produksi sampah harian di Bandung Raya, baru sekitar 30 persen yang berhasil terkelola dengan baik.
Kondisi kritis tersebut mengemuka saat Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat, Herman Suryatman, melepas 3.000 mahasiswa Telkom University (Tel-U) untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik di Lapangan Kampus Tel-U, Kabupaten Bandung, Sabtu (24/10/2026).
Mengusung bingkai program Gotong Royong Akademisi Berkolaborasi dan Berinovasi (Gradasi), ribuan mahasiswa tersebut akan disebar di berbagai titik wilayah Kabupaten Bandung untuk mengawal pembenahan sistem pengelolaan sampah dari tingkat paling dasar.
Dalam pengarahannya, Sekda Herman menegaskan bahwa skema KKN Tematik ini tidak boleh sekadar menjadi agenda rutinitas pengabdian akademik semata. Mahasiswa dituntut turun tangan menuntaskan dinamika persoalan riil di tengah masyarakat.
”Tema yang kita usung adalah pengelolaan sampah. Tentu bukan hanya konsen belajar, tetapi bagaimana memulai memahami dinamika persoalan di sekeliling kita,” ujar Herman.
Ia menambahkan, penanganan krisis sampah tidak dapat lagi dibebankan secara sepihak kepada pemerintah. Sinergi lintas sektor antara Pemprov, pemerintah daerah, masyarakat, hingga perguruan tinggi menjadi syarat mutlak melalui penguatan edukasi reduce, reuse, recycle (3R).
”Kami berpandangan persoalan sampah ini harus bahu-membahu antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi dengan sasaran utamanya adalah mengedukasi masyarakat agar mengurangi, memanfaatkan, dan mendaur ulang sampah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Herman menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program Gradasi ini merupakan pengejawantahan langsung dari fungsi pengabdian kepada masyarakat yang termaktub dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Namun, sorotan utama tetap tertuju pada data empiris pengolahan limbah domestik di lapangan. Angka pengelolaan yang baru menyentuh 30 persen menjadi indikator kuat perlunya perubahan perilaku sistemik sejak dari skala rumah tangga.
”Setiap hari sampah di Bandung Raya ada 5.000 ton dan yang terkelola baru 30 persen, yang sejatinya bisa dikelola sejak dari rumah tangga dengan mengurangi, memanfaatkan, dan mendaur ulang sampah,” pungkas Herman.







