Porosmedia.com, Bandung – Iduladha 1447 Hijriah di Kota Bandung tahun ini kembali menyuguhkan drama
kolosal yang rapi. Di satu sisi, kita melihat angka-angka fantastis yang disodorkan birokrasi: 18.036 hewan kurban diklaim sehat walafiat. Di sisi lain, sebuah panggung megah didirikan untuk menyambut “Sheva”, sapi seberat 1,25 ton kiriman RI-1 yang mampir di Masjid Al-Ukhuwah. Sebuah angka yang cukup untuk membuat mata terbelalak, sekaligus bertanya-tanya: apakah esensi kurban kini telah bergeser menjadi kompetisi timbangan?
Mari kita bedah narasi yang muncul. Penyerahan sapi Presiden oleh Wali Kota
Muhammad Farhan nampak seperti sebuah prestasi administratif yang harus
dirayakan dengan gegap gempita. Sapi “Sheva” yang gagah itu—hasil seleksi ketat dari enam kandidat—seolah menjadi simbol bahwa perhatian pusat masih mengucur ke Bandung. Namun, jika kita sedikit lebih kritis, bukankah ini rutinitas tahunan yang bersifat mekanis? Kita disuguhi tontonan tentang “seleksi ketat” hewan, sementara di sudut-sudut kota yang lain, warga mungkin masih terseok dengan seleksi ketat untuk sekadar bertahan hidup di tengah tantangan ekonomi yang diakui sang Wali Kota sendiri masih sangat besar.
“Kurban bukan hanya soal memindahkan protein dari kandang ke piring mustahik, tapi soal bagaimana kekuasaan merunduk dan menyentuh realitas paling bawah tanpa perlu sorot kamera yang berlebihan.”
Pindah ke Cicadas, sang Wali Kota turun langsung menyerahkan sapi 350 kilogram di Gang Banteng. Narasi yang dibangun adalah kebersamaan dan gotong royong. Tentu, kehadiran pejabat di pemukiman padat adalah pemandangan yang manis untuk difoto. Tapi, apakah satu ekor sapi di satu gang cukup untuk menjawab dahaga keadilan sosial bagi ribuan warga lainnya? Atau ini hanyalah bagian dari “manajemen impresi” agar pemerintah terlihat masih punya hati di tengah padatnya agenda birokrasi?
Data 18 ribu lebih hewan kurban yang dinyatakan sehat memang melegakan
secara klinis. Namun, secara sosiologis, angka ini seharusnya dibarengi dengan
transparansi distribusi. Kita sering melihat di hari tasyrik, daging menumpuk di area tertentu sementara di gang sempit lainnya, warga hanya bisa mencium aroma bakaran sate dari kejauhan. Klaim bahwa pemotongan sesuai standar dan diberikan kepada yang berhak adalah janji manis yang selalu kita dengar setiap tahun.
Tantangannya adalah membuktikan bahwa janji itu bukan sekadar teks
siaran pers yang dikirim secara massal ke grup WhatsApp jurnalis.
Akhirnya, Iduladha di Bandung tahun 2026 ini menyisakan sebuah refleksi:
kurban jangan sampai terjebak pada simbolisme berat tonase dan kunjungan
lapangan yang estetik. Jika Wali Kota mengajak warga “berkorban untuk Kota
Bandung”, maka pemerintah pun harus memberi teladan bahwa pengorbanan
mereka bukan sekadar menyerahkan sapi titipan atau sapi pribadi, melainkan
pengorbanan ego politik untuk benar-benar menyelesaikan masalah mendasar
warga—mulai dari sampah hingga kesejahteraan—sepanjang tahun, bukan hanya saat Iduladha tiba.
Kita tunggu saja, apakah setelah gema takbir mereda dan “Sheva” selesai
dibagikan, semangat “gotong royong” itu masih tersisa di meja-meja rapat Balai
Kota, atau ikut larut bersama sisa-sisa bumbu sate di piring-piring kita.
Redaksi Porosmedia.com







