Porosmedia.com |Tasikmalaya . Di sebuah sudut negeri Yaman yang gersang, hiduplah seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Kehidupan dunia tak pernah memanjatkannya. Tubuhnya belang-belang oleh penyakit sopak, sementara kantongnya selalu kosong karena kemiskinan. Sejak ayahnya wafat, ia hidup sepenuhnya untuk satu orang, ibunya yang telah renta, lumpuh, dan buta.
Di mata manusia, Uwais hanyalah seorang penggembala domba yang tak punya apa-apa. Tapi di mata langit, dia adalah hamba yang derajatnya menjulang tinggi. Ketaatannya pada sang ibu adalah legenda yang bisik-bisiknya sampai ke telinga Rasulullah di Madinah.
Sebuah Permintaan Terakhir dan Pengorbanan Tanpa Tanda Jasa
Suatu hari, sang ibu memanggilnya. “Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan meninggalkanmu. Ibu punya satu harapan, dapatkah engkau mengihktiarkan Ibu untuk menunaikan haji?”
Permintaan itu bagai batu berat yang menghunjam di dada Uwais. Mekkah begitu jauh, dipisahkan oleh padang pasir tandus nan mematikan. Mereka miskin. Tak ada unta, apalagi bekal untuk perjalanan berbulan-bulan.
Namun, kata “tidak” tak ada dalam kamusnya untuk sang ibu.
Lalu, dengan sisa uang yang ia kumpulkan, Uwais membeli seekor anak lembu. Orang-orang sekampung pun mengerutkan kening. Untuk apa lembu itu? Tidak mungkin ia pergi haji dengan menunggang lembu.
Kegilaan Uwais dimulai. Setiap pagi, dengan setia ia menggendong anak lembu itu naik ke puncak bukit dan turun kembali. Ejekan “Uwais gila!” menjadi soundtrack hariannya. Tapi Uwais tak bergeming. Ia terus melakukannya hari demi hari.
Anak lembu itu bertumbuh, dari puluhan kilogram menjadi hampir seratus kilogram. Tanpa disadari, otot-otot Uwais pun mengeras, kekuatannya berlipat ganda. Barulah orang-orang tersadar, ini bukan kegilaan, melainkan sebuah latihan cinta. Uwais sedang mempersiapkan dirinya untuk menggendong ibunya menempuh perjalanan jauh.
Ziarah Cinta Seorang Anak
Ketika musim haji tiba, Uwais yang kini kuat bagai batu karang, menggendong ibunya yang ringkih. Langkahnya tegap menembus panasnya gurun Yaman menuju Kota Suci Mekkah. Ia adalah gambaran nyata dari firman Allah tentang birrul walidain (berbakti kepada orang tua).
Di hadapan Ka’bah, dengan air mata bahagia, sang ibu akhirnya bisa menyentuh Baitullah. Di sana, Uwais berdoa dengan khusyuk, “Ya Allah, ampunilah semua dosa ibu.”
“Lalu bagaimana dengan dosa-dosamu, Nak?” tanya ibunya heran.
Dengan ketulusan yang menyentuh relung hati, Uwais menjawab, “Dengan diampuninya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Ridho Ibu-lah yang akan membawaku ke surga, itu sudah cukup untukku.”
Subhanallah. Saat itulah, mukjizat terjadi. Kulit Uwais yang belang-belang sembuh seketika, menyisakan hanya satu bulatan putih di tengkuknya. Sebuah tanda.
Tanda di Tengkuk dan Pencarian Para Sahabat
Tanda itu bukanlah cacat, melainkan sebuah petunjuk. Rasulullah SAW pernah berpesan kepada dua sahabat terdekatnya, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, “Carilah seorang pria dari Yaman bernama Uwais Al-Qarni. Dialah penghuni langit. Jika kalian bertemu, mintalah doa dan istighfarnya.”
Setelah Rasulullah wafat, Khalifah Umar dan Ali tak pernah berhenti mencari. Setiap kafilah dari Yaman datang, mereka selalu menanyakan tentang seorang penggembala miskin bernama Uwais.
Suatu hari, pencarian itu berakhir. Mereka menemukan Uwais yang sedang menjaga unta di pinggiran kota. Setelah memperkenalkan diri, mereka meminta Uwais mendoakan mereka.
Uwais, dengan kerendahan hatinya yang legendaris, justru berkata, “Sayalah yang harus meminta doa pada kalian.”
Namun setelah didesak, Uwais pun mengangkat tangan, memohonkan ampun untuk kedua sahabat mulia itu. Setelah itu, dia meminta satu hal, “Hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk seterusnya, biarlah hamba kembali seperti semula, tidak dikenal.”
Perpisahan yang Menggemparkan Yaman
Permintaannya dikabulkan. Uwais kembali ke Yaman dan hidup dalam kemiskinan dan ketidak-terkenalan, hingga ajal menjemput.
Namun, kematiannya justru membongkar rahasia ilahinya. Saat jenazahnya akan dimandikan, sudah ada orang-orang asing yang berebutan memandikannya. Saat akan dikafani, kain kafan sudah terhampar. Saat akan digali kuburnya, liang lahat sudah tersedia.
Penduduk Yaman tercengang. Siapakah sebenarnya Uwais Al-Qarni? Bukankah dia hanya penggembala miskin yang tak dihiraukan?
Para malaikat turun ke bumi, berebut memberikan penghormatan terakhir kepada seorang hamba yang di dunia dipandang hina, tetapi di langit, namanya bersinar terang. Mereka datang untuk memastikan bahwa “penghuni langit” itu pulang dengan cara yang semestinya.
Kisah Uwais Al-Qarni adalah pengingat abadi, bahwa kemuliaan seorang manusia tidak diukur oleh kekayaan, penampilan, atau ketenarannya. Kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan, bakti pada orang tua, dan kerendahan hati yang membuatnya dicintai oleh Sang Pencipta Langit dan Bumi.







