Porosmedia.com – Dalam diskursus kesehatan mental modern, kecemasan sering kali dipandang sebagai “alarm” tubuh yang malfungsi. Alih-alih melindungi kita dari bahaya nyata, ia justru menyala di tengah rutinitas harian. Pertanyaan yang sering muncul adalah: Bolehkah kita secara sengaja menciptakan atau memanipulasi pikiran untuk meredakan kecemasan tersebut?
Secara medis dan psikologis, jawabannya bukan hanya boleh, melainkan sangat dianjurkan sebagai bagian dari resiliensi mental.
Seringkali kita lupa bahwa setiap pikiran memicu reaksi kimia di otak. Saat kita terjebak dalam overthinking, otak melepaskan kortisol dan adrenalin yang memicu stres. Sebaliknya, teknik restrukturisasi kognitif—yakni upaya sadar untuk memilih dan menciptakan narasi pikiran yang baru—dapat menstimulasi sistem saraf parasimpatik untuk menginduksi ketenangan.
Menciptakan pikiran positif bukanlah bentuk penyangkalan terhadap realitas. Ini adalah upaya untuk memberikan “imbangan” bagi bias negatif otak manusia yang secara evolusioner memang dirancang untuk mencari ancaman.
Salah satu metode yang diakui secara klinis adalah Guided Imagery. Dengan menciptakan simulasi mental tentang tempat atau situasi yang damai, seseorang dapat menurunkan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Dalam konteks profesional, ini disebut sebagai manajemen stres proaktif. Pikiran yang dikonstruksi secara sengaja ini berfungsi sebagai jangkar agar individu tidak hanyut dalam arus kepanikan.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa menciptakan pikiran sehat berbeda dengan memaksakan kebahagiaan. Opini medis yang sehat menekankan pada validasi emosi. Sebelum kita mengarahkan pikiran ke arah yang lebih tenang, kita harus mengakui keberadaan kecemasan tersebut. Mengabaikan kecemasan secara total justru dapat memicu efek bumerang yang memperburuk kondisi psikis.
Mengarahkan pikiran adalah keterampilan (skill) yang perlu dilatih, layaknya melatih otot fisik. Bagi masyarakat yang kerap terpapar beban kerja tinggi dan informasi digital yang masif, kemampuan untuk mengkurasi isi pikiran menjadi esensial.
Namun, secara hukum dan etika kesehatan, penting untuk diingat bahwa teknik mandiri ini adalah pertolongan pertama. Jika kecemasan berkembang menjadi gangguan kecemasan umum (Generalized Anxiety Disorder) yang mengganggu fungsi hidup dasar seperti tidur dan nafsu makan, konsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater adalah langkah hukum dan medis yang paling tepat untuk diambil.
Pesan Utama: Pikiran Anda adalah perangkat lunak yang bisa Anda arahkan. Kendalikan narasi di dalam kepala Anda sebelum ia mengendalikan kualitas hidup Anda.







