Korupsinikus & Rubi, Mengapresi Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM: Nekat Jujur!

Avatar photo

Esai Reflektif: Harri Safiari

Porosmedia.com – Korupsinikus x Rubi
Lampu ring light menyala pada acara LIVE. Komentar netizen berjatuhan. Emoji api, emoji marah, emoji tepuk tangan meliuk berterbangan …
Korupsinikus:
Rubi, lu sadar gak sih… yang paling berbahaya di negeri ini bukan teror?
Rubi:
Apa? Naga? Buaya? Komodo? Cicak?
Korupsinikus:
Bukan.
Yang paling berbahaya itu kekosongan.
Ruang-ruang sunyi yang sengaja dibiarkan kosong supaya gak ada yang bertanya.
Rubi:
Kayak ruang diskusi yang diganti konser?
Kayak forum kritis yang berubah jadi seremoni?
Korupsinikus:
Nah itu.
Dan ketika ada satu mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada yang nekat mengisi ruang kosong itu dengan suara keras—namanya Tiyo Ardianto—mendadak semua bilang dia berisik.

Kritik Itu Mengganggu Ketenteraman
Rubi:
Padahal yang dia lakukan cuma satu: kritik.
Korupsinikus:
Kritik ke siapa dulu?
Ke duet sakral Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Rubi:
Oh iya. Di Negeri Konoha Raya, kritik ke bawah disebut aspirasi.
Kritik ke atas disebut provokasi!
Korupsinikus:
Dan lucunya, kita ini bangsa yang hafal sejarah perlawanan mahasiswa.
Tapi tiap generasi baru melawan, kita pura-pura lupa.

Baca juga:  Republik Gantungan (Kunci), Korupsinikus: Mantan yang Tak Pernah Usai

Relung yang Dikosongkan
Rubi:
Lu tadi bilang kekosongan itu diciptakan. Maksudnya?
Korupsinikus:
Begini.
Ada ruang-ruang yang sengaja dikosongkan dari pertanyaan.
Ruang tentang kemiskinan struktural.
Ruang tentang pendidikan yang timpang.
Ruang tentang moral pejabat.
Bukan karena gak ada masalah.
Tapi karena masalahnya mengganggu rasa nyaman.
Rubi:
Jadi kalau ada yang isi ruang itu dengan pertanyaan, dia dianggap ancaman stabilitas?
Korupsinikus:
Persis!
Karena stabilitas di Negeri Konoha Raya sering kali bukan soal keadilan,
melainkan soal ketenangan penguasa.

Empati yang Dianggap Subversif
Rubi:
Gue masih kepikiran soal surat ke UNICEF itu.
Anak bunuh diri karena gak mampu beli alat tulis. Itu kan tragedi moral.
Korupsinikus:
Iya. Tapi di negeri yang sensitif, empati bisa berubah jadi tuduhan.
Nomor +44 masuk (Inggris?)
Dicap agen asing.
Difitnah.
Diteror.
Seolah-olah mempertanyakan nurani negara adalah bentuk makar.
Rubi:
Berarti yang bikin gaduh bukan kritiknya,
tapi rasa bersalah yang terusik?
Korupsinikus:
Nah, itu yang jarang dibahas.
Kritik itu cermin.
Kalau wajah kita berantakan, jangan salahkan cerminnya.

Baca juga:  Masjid Hampir Selesai, Isu Bangunan Cagar Budaya Muncul, PT KAI Silahkan Ajukan Hukum

Demokrasi Tanpa Ketidaknyamanan
Rubi:
Menurut lu, kenapa makin alergi?
Korupsinikus:
Karena demokrasi kita ingin enak.
Demokrasi tanpa debat.
Kekuasaan tanpa rasa malu.
Stabilitas tanpa pertanggungjawaban.
Rubi:
Padahal demokrasi itu harusnya ribut ya?
Korupsinikus:
Iya. Demokrasi yang sehat itu berisik dan dinamis.
Kalau terlalu sunyi, biasanya ada yang ditekan.

Nyali di Tengah Sunyi
Rubi:
Jadi menurut lu, Tiyo ini simbol apa?
Korupsinikus:
Simbol bahwa sunyi itu belum total.
Masih ada yang berani isi ruang kosong dengan suara.
Rubi:
Dan risiko?
Korupsinikus:
Selalu ada.
Di Negeri Konoha Raya, keberanian itu bukan sekadar karakter.
Itu taruhan.
Rubi:
Gue salut satu hal. Dia bilang gak takut.
Korupsinikus:
Takut pasti ada.
Tapi memilih tetap berdiri itu yang beda.
Karena banyak orang pintar, tapi sedikit yang nekat jujur.

Masuk ke Relung Paling Dalam
Komentar netizen makin cepat. Live makin panas.
Rubi:
Kalau kritik terus dibungkam, apa yang terjadi?
Korupsinikus:
Yang terjadi bukan ketertiban.
Yang terjadi adalah akumulasi.
Kemarahan dipendam.
Kekecewaan disimpan.
Lalu suatu hari, meledak.
Rubi:
Jadi sebenarnya kritik itu katup pengaman?
Korupsinikus:
Iya.
Tapi di negeri ini, katup sering dianggap bocor.

Baca juga:  JMSI dan ACJA Siap Teken MoU di Jakarta, Perkuat Jejaring Media Indonesia–Tiongkok

Sunyi atau Suara?
Rubi:
Lu tahu yang paling ironis?
Korupsinikus:
Apa?
Rubi:
Kita lebih takut pada mahasiswa yang berbicara
daripada pada sistem yang gagal.
Korupsinikus:
Karena suara bisa menyebar.
Dan penguasa paling takut pada kesadaran kolektif.
Rubi:
Jadi, di Konoha Raya ini, pilih mana:
Sunyi yang aman?
Atau suara yang bikin gelisah?
Korupsinikus:
Gue pilih suara.
Karena sunyi yang dipaksakan itu bukan damai.
Itu cuma jeda sebelum retak.
Lampu live meredup.
Komentar terakhir muncul:
“Bang, lanjut part 2.”

(Selesai -sementara!)