Porosmedia.com, Garut – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menuai sorotan tajam setelah pernyataannya yang kontradiktif terkait insiden tragis dalam pesta rakyat pernikahan anaknya, Maula Akbar, di Garut, Jumat (18/7/2025). Pernyataan yang dilontarkan Dedi di hadapan media terkesan berusaha melepaskan tanggung jawab, padahal bukti-bukti kuat menunjukkan sebaliknya.
Dalam konferensi pers yang digelar di Trans Hotel, Bandung, Dedi menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui adanya kegiatan syukuran atau makan bersama warga. Ia mengatakan, “Saya tidak tahu acara kegiatan itu… tidak tahu bahwa ada acara syukuran bersama warga, kemudian mengundang warga makan bersama.”
Namun, pernyataan tersebut langsung dipatahkan oleh tayangan video di kanal YouTube resmi miliknya, “Kang Dedi Mulyadi Channel” tertanggal 15 Juli 2025. Dalam rekaman tersebut, Dedi justru terlihat aktif berdialog dengan Maula mengenai detail acara, termasuk tanggal, hiburan, hingga lokasi perhelatan pesta rakyat di Garut. Ia bahkan sempat menyebut kemungkinan keramaian besar karena banyaknya warga yang mengidolakan dirinya.
“Ari ayah mah penggemarnya banyak, pasti warga ini brek. Warga ada hiburannya enggak nanti?” ujar Dedi.
Maula pun menjawab: “Ada, tanggal segini, jam segini, senimannya ada Ohang, Kiwil, Ceu Popon…” dan menjelaskan lokasi di alun-alun pendopo.
Keterlibatan Dedi dalam diskusi ini, yang terekam dengan gamblang dan disebarluaskan secara publik melalui platform digital miliknya sendiri, membuat pernyataannya di hadapan media menjadi sangat sulit dipercaya. Inkonsistensi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai integritas dan akuntabilitas seorang pejabat publik.
Pernyataan yang bertolak belakang dengan bukti nyata bukan hanya mencederai kepercayaan publik, tetapi juga menampilkan sikap yang terkesan abai terhadap dampak serius dari peristiwa tersebut—yakni jatuhnya korban jiwa akibat kerumunan yang tidak terkendali.
Jurnalis senior, Adi Raksanagara, turut mengkritik melalui unggahan Facebook-nya:
“Tisoledat mah lain ku batur, Ded.”
(Terpeleset itu bukan karena orang lain, Ded)
Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan publik terhadap sikap Dedi yang dianggap tidak mencerminkan tanggung jawab moral seorang pemimpin daerah.
Kepemimpinan yang sejati ditunjukkan bukan hanya lewat retorika populis di depan kamera, tetapi dalam kemampuan untuk berdiri tegak menghadapi konsekuensi dari keputusan dan keterlibatan pribadi. Ketika seorang pemimpin justru memilih menghindar dari tanggung jawab di saat rakyatnya berduka, kepercayaan publik bisa runtuh dalam sekejap.
Masyarakat Jawa Barat patut menuntut klarifikasi dan pertanggungjawaban lebih lanjut, baik secara moral maupun administratif, atas tragedi ini. Kebenaran tidak boleh dikaburkan oleh popularitas, dan empati tidak boleh dikorbankan demi menjaga citra politik.
Insiden ini telah menjadi lebih dari sekadar peristiwa pesta yang berakhir duka—ia telah menjelma menjadi ujian besar terhadap nilai integritas, konsistensi, dan ketulusan dalam memimpin.
https://youtube.com/@kangdedimulyadichannel?si=UTtBPhEI4HcciG9R







