Indonesia Tidak Akan Pernah Menang Melawan HIV/AIDS Jika Terus Takut Mengatakan Kebenaran

Avatar photo

Porosmedia.com – HIV/AIDS bukan lagi sekadar persoalan medis. Ia adalah potret telanjang tentang bagaimana negara gagap dalam edukasi, masyarakat tenggelam dalam stigma, dan kelompok-kelompok tertentu mengambil keuntungan dari ketidaktahuan publik.

Setiap tahun, ribuan orang Indonesia terinfeksi HIV bukan karena kurangnya obat, tetapi karena ketakutan kolektif untuk membicarakan seks, narkoba suntik, hingga perilaku berisiko secara jujur dan terbuka. Kita membiarkan satu virus menggulung masa depan bangsa hanya karena kita lebih takut pada kata “malu” daripada pada kematian.

1. Negara Terlalu Sibuk Menghindari Polemik, Bukan Menghadapi Fakta

Indonesia punya ribuan aturan, tapi tak punya keberanian politik untuk berbicara tentang seksualitas, perilaku berisiko, atau pola penularan HIV secara gamblang. Padahal:

ARV tersedia gratis.

Tes HIV tersedia gratis.

Edukasi tidak pernah benar-benar gratis – karena ruang bicara selalu dipasung moral politik.

Selama pemerintah lebih takut pada kelompok moral daripada pada fakta epidemi, HIV akan tetap jadi “bom waktu” yang merayap diam-diam.

2. Prostitusi dan Pergaulan Bebas Dibiarkan Berjalan Tanpa Kendali, Tapi Edukasi Justru Dianggap Tabu

Baca juga:  Skandal Suap Izin TKA di Kemnaker: Membongkar Korupsi Struktural dalam Pengelolaan Tenaga Kerja Asing

Ini ironi terbesar negeri ini.

Prostitusi ada di mana-mana, dari gang sempit sampai aplikasi mewah. Pergaulan bebas adalah realitas, bukan lagi rumor. Tetapi kata “kondom” dan “seks aman” masih diperlakukan sebagai dosa negara, bukan kebutuhan kesehatan publik.

Jika negara menutup mata, jangan salahkan siapa pun ketika angka infeksi baru meroket.

3. Stigma Membunuh Lebih Cepat daripada Virus

Banyak ODHA hidup lebih lama daripada prasangka masyarakat. Yang membuat mereka hancur bukan virusnya, tetapi:

diskriminasi di tempat kerja,

penolakan keluarga,

ketakutan untuk memeriksakan diri.

Kita hidup di zaman ketika pengobatan HIV memungkinkan seseorang hidup sampai tua; tetapi stigma membuat banyak orang terlambat diagnosis, sehingga langsung jatuh ke tahap AIDS.

Ini bukan kegagalan medis. Ini kegagalan budaya.

4. Indonesia Butuh Keberanian Moral Baru

Kita tidak akan menang melawan HIV/AIDS selama negara dan masyarakat terus menjaga “kesopanan palsu”.

Keberanian moral bukan tentang melarang ini dan itu. Keberanian moral adalah:

Mengakui realitas perilaku manusia.

Menyediakan edukasi dan layanan kesehatan yang komprehensif.

Baca juga:  Kasus Rahmat Effendi Semakin Memperkuat Pernyataan Jabar Juara Korupsi

Menghapus stigma yang merugikan rakyat sendiri.

Negara yang malu bicara seks akan selalu kalah menghadapi penyakit yang ditularkan melalui seks.

5. Sudah Saatnya Bicara Apa Adanya

Pandemi HIV tidak peduli pada moral konservatif atau kultur malu-malu. Virus hanya peduli pada perilaku dan ketidaktahuan. Dan selama ini, masyarakat kita:

tidak paham cara penularan,

tidak paham cara pencegahan,

tidak paham bahwa HIV bisa diobati,

tetapi sangat paham cara menghakimi.

Inilah kombinasi paling mematikan.

Musuh Kita Bukan ODHA, Tapi Kebodohan dan Ketakutan

Jika bangsa ini ingin selamat:

edukasi seksual harus dibuka,

tes HIV harus distandardisasi,

stigma harus dihancurkan,

pemerintah harus berani mengambil posisi yang tidak populer.

Keberanian negara menyelamatkan rakyat dimulai dari keberanian berkata jujur. Dan sampai hari ini, Indonesia masih kekurangan kejujuran itu.