Eratkan Silaturahmi Perantau, Tradisi Manortor Warnai Halalbihalal Persatuan Batak Muslim Satataring Lampung

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Nuansa kekeluargaan dan pelestarian budaya kental terasa dalam perhelatan Halalbihalal yang digelar oleh Persatuan Batak Muslim Satataring Lampung. Acara yang dipusatkan di Taman Wisata Agro Jatimulyo, Lampung Selatan ini menjadi momentum penting bagi para perantau asal Sumatera Utara untuk memperkuat simpul persaudaraan.

​Kegiatan dibuka dengan tradisi ‘Manortor’, sebuah tarian khas suku Batak (Toba, Mandailing, Angkola) yang sarat akan makna filosofis. Gerakan berirama yang diiringi musik gondang tersebut melibatkan partisipasi aktif dari seluruh elemen organisasi, mulai dari unsur Kahanggi, Anak Boru, hingga Mora, sesuai dengan struktur adat yang dijunjung tinggi oleh persatuan.

​Ketua Panitia, M. Yusuf Rambe, didampingi Humas Persatuan, Ahmad Novriwan, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran para anggota. Ia mengakui bahwa penyelenggaraan ini merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga komunikasi antaranggota tetap terjaga dengan baik.

​“Kami memohon maaf jika masih terdapat kekurangan dalam teknis pelaksanaan. Harapannya, agenda tahunan ini bisa terus dievaluasi agar semakin berkualitas di masa mendatang,” ujar Yusuf Rambe dalam sambutannya.

Baca juga:  DPRD Kab. Majalengka konsultasi terkait dampak Implementasi dari Inpres Nomor 1 Tahun 2025

​Ketua Persatuan Batak Muslim Satataring Lampung, Syahrul Rambe, menyatakan rasa bangganya atas soliditas panitia dan antusiasme peserta. Baginya, halalbihalal bukan sekadar seremoni pasca-Lebaran, melainkan ruang penguat identitas bagi warga perantauan.

​“Ini adalah momentum kebahagiaan tersendiri bagi kita yang jauh dari kampung halaman. Melalui wadah ini, kita bisa saling melepas rindu dan memastikan bahwa persaudaraan di tanah rantau tetap kokoh,” ungkap Syahrul.

​Senada dengan itu, perwakilan marga, Sayur Matua Harahap, dan perwakilan kaum ibu, Kamisa Dalimunte, menekankan pentingnya asas bahu-membahu. Mereka bersepakat bahwa di tanah perantauan, anggota persatuan merupakan keluarga terdekat yang harus saling peduli, baik dalam kondisi suka maupun duka.

​Ketua Penasehat, H. Ependi Rambe, memberikan pesan mendalam terkait penerapan nilai-nilai Kahanggi, Anak Boru, dan Mora dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa nilai adat tersebut harus menjadi fondasi dalam berinteraksi, baik dalam urusan adat, pesta, maupun saat menghadapi musibah.

​“Tanpa kebersamaan dan rasa saling menolong, semangat persatuan hanya akan menjadi slogan. Kita harus terus memupuk kepedulian ini agar persatuan tetap tegak,” tegas Ependi.

Baca juga:  Di pertemuan FPRB: tidak mudah Penanggulangan Bencana jika tidak Merangkul banyak Pihak

​Suasana khidmat memuncak saat pembacaan doa oleh Khairil Anwar Pohan, S.Ag., M.Pd. Doa yang dipanjatkan tidak hanya memohon kelancaran bagi organisasi, tetapi juga mendoakan para orang tua dan leluhur yang telah tiada.

​Acara diakhiri dengan sesi hiburan, di mana para peserta menunjukkan bakat seni melalui lagu-lagu daerah dan tradisi saweran sebagai bentuk apresiasi budaya. Dokumentasi bersama menutup rangkaian kegiatan yang penuh suka cita tersebut, menandai suksesnya konsolidasi warga Batak Muslim di wilayah Lampung Selatan.