Porosmedia.com, Bandung – Di tengah dinamika zaman yang kian menderu, tidak banyak figur yang mampu berdiri tegak di persimpangan antara kebijakan birokrasi yang kaku dan kearifan lokal yang cair. Namun, bagi Eka Santosa, persimpangan itulah tempat ia mengabdi. Seorang politikus ulung tidak hanya dikenal dari jabatan yang ia rengkuh, melainkan dari sejauh mana ia mampu menyuarakan denyut nadi tanah kelahirannya.
Lahir di Banjar pada 29 Juli 1959, perjalanan hidup Eka adalah sebuah epik tentang kesetiaan pada nilai. Ia bukan sekadar aktor dalam panggung politik formal; ia adalah seorang “organisatoris ulung” yang memahami bahwa politik sejatinya adalah alat untuk memuliakan kemanusiaan dan alam.
Akademisi lulusan Ilmu Pemerintahan Universitas Padjadjaran ini memulai langkahnya dari akar rumput. Sebagai aktivis GMNI di masa muda, nalar kritis Eka telah terasah di jalanan dan ruang diskusi Bandung. Di sinilah ia belajar bahwa tata kelola pemerintahan tidak boleh berjarak dari realitas sosial.
Pemahaman ini membawanya ke puncak kepemimpinan legislatif sebagai Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat (2000–2004) dan kemudian melangkah ke Senayan sebagai Pimpinan Komisi II DPR RI (2004–2009). Di balik meja-meja sidang yang menentukan arah kebijakan otonomi daerah dan reformasi birokrasi, Eka dikenal sebagai sosok yang bijaksana dalam menjembatani kepentingan pusat dan daerah.
Kematangan politik Eka Santosa tercermin dari kemampuannya bertransformasi. Ia membuktikan diri sebagai politikus yang lincah namun tetap berpegang pada prinsip. Perjalanannya melalui berbagai rumah politik—mulai dari PDI-Perjuangan, NasDem, hingga Partai Berkarya—menunjukkan pencarian yang konsisten akan ruang perjuangan yang paling relevan dengan masanya.
Namun, melampaui segala atribut partai, jati diri Eka yang sesungguhnya justru terpancar saat ia melepas jas formalnya. Di Alam Santosa, sebuah kawasan yang menjadi representasi kecintaannya pada lingkungan, ia membangun ekosistem yang mengharmonisasikan manusia dengan alam. Di sana, ia bukan lagi sekadar mantan pejabat, melainkan seorang “Olot” atau sesepuh yang mengayomi masyarakat adat Tatar Sunda.
Baginya, isu lingkungan adalah isu eksistensial. Melalui Gerakan Hejo dan kepemimpinannya di Forum DAS Citarum, Eka konsisten mengingatkan bahwa degradasi ekosistem adalah ancaman bagi peradaban. Ia percaya bahwa “kearifan lokal Sunda” bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan solusi bagi krisis masa depan.
”Menjaga alam adalah menjaga masa depan anak cucu kita,” demikian pesan yang sering tersirat dalam berbagai forum yang ia pimpin. Kepemimpinannya di KONI Jawa Barat pun mencerminkan sisi humanisnya yang lain: membangun karakter bangsa melalui sportivitas dan prestasi olahraga.
Eka Santosa adalah potret pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Fokusnya kini adalah kolaborasi. Ia menjadi jembatan antara akademisi, praktisi bisnis, dan masyarakat adat. Dengan rekam jejak yang melintasi berbagai dekade perubahan politik Indonesia, ia tetap relevan karena keberaniannya untuk terus belajar dan beradaptasi tanpa harus mencerabut akar budayanya.
Kini, di usia yang kian matang, Eka Santosa terus menginspirasi sebagai sosok yang membuktikan bahwa politik bisa dijalankan dengan elegan, humanis, dan penuh tanggung jawab moral terhadap bumi yang kita pijak.







