Porosmedia.com, Bandung – Menjelang peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2026, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bandung menyoroti pentingnya peran lembaga pendidikan Islam tradisional dalam menjaga kedisiplinan, akhlak, dan kontribusi sosial-kemasyarakatan di era modern. Salah satu institusi yang menjadi simbol perjalanan panjang tersebut adalah Pondok Pesantren Sukamiskin.
Berdiri sejak tahun 1881 di Jalan A.H. Nasution Nomor 128, Pesantren Sukamiskin yang didirikan oleh KH Raden Muhammad bin KH Raden Alqo kini memasuki usia 145 tahun. Lembaga ini mencatatkan peran historis dalam perkembangan pendidikan keagamaan di Tatar Sunda.
Pengasuh Pesantren Sukamiskin, KH Abdul Aziz Haidar, menegaskan bahwa keberlanjutan lembaga pesantren di era modern tidak sekadar diukur dari pemeliharaan fisik bangunan bersejarah, melainkan dari konsistensi melahirkan lulusan berilmu dan berkarakter.
“Pesantren adalah monumen keilmuan dan perjuangan. Menjaga keberlangsungan pesantren berarti merawat ikatan dengan para alumni, keluarga pendiri, serta masyarakat yang mempercayakan pendidikannya di sini,” ujar KH Abdul Aziz Haidar di lingkungan pesantren, Selasa (20/10/2026).
Integrasi Kurikulum dan Kedisiplinan
Nama Sukamiskin diserap dari istilah Bahasa Arab Suq Misk (pasar minyak wangi), yang menyimbolkan cita-cita agar setiap santri menimba ilmu keagamaan untuk kemudian menyebarkan kebermanfaatan di daerah asal masing-masing.
Saat ini, Pesantren Sukamiskin memadukan sistem keilmuan klasik (salaf) dengan pendidikan formal formal di bawah naungan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Pembelajaran keagamaan dilaksanakan secara berjenjang melalui delapan tingkatan kelas (mulai dari kelas 0A, 0B, hingga kelas 1–6).
Sistem kedisiplinan santri diterapkan secara terstruktur sejak pukul 04.00 WIB hingga 23.00 WIB. Selain menjalankan ibadah wajib dan pengajian kitab, para santri juga menempuh pendidikan formal pada siang hari.
Keberagaman Santri dan Kontribusi Sosial
Saat ini, sekitar 250 santri mukim dari pelbagai wilayah di Indonesia—seperti Karawang, Tasikmalaya, Sumedang, hingga Papua—menempuh pendidikan di lembaga ini.
KH Abdul Aziz Haidar menekankan bahwa indikator keberhasilan pesantren tidak berpatokan pada kuantitas santri semata, melainkan pada kualitas pengabdian lulusan di tengah masyarakat.
“Santri diharapkan memiliki komitmen untuk mengabdikan ilmu dan dirinya bagi agama serta lingkungan sekitarnya,” tambahnya.
Sebagai bagian dari refleksi Hari Santri Nasional 2026, Pesantren Sukamiskin mengisinya dengan serangkaian kegiatan internal, seperti doa bersama, tahlilan, serta kompetisi seni santri untuk mempererat kebersamaan.







