Porosmedia.com | Tasikmalay – Di tengah keriuhan dan kehangatan acara “Fantastik Harmoni Beragama” di Alun-Alun Dadaha, Kota Tasikmalaya, pada Sabtu (20/12/2025), Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital Tiar Nabila Karbala menyampaikan pesan yang jauh melampaui semangat kerukunan. Ia menyoroti denyut nadi ekonomi lokal—kekayaan kuliner kota yang legendaris—dan menekankan bahwa masa depannya terletak pada adopsi teknologi, termasuk Kecerdasan Buatan (AI).
Pernyataan ini bukan sekadar ajakan, melainkan seruan strategis mengingat data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hanya 12% UMKM di Indonesia yang telah mengadopsi teknologi digital secara efektif. Padahal, sektor ini menjadi tulang punggung ekonomi, mencakup 99% unit usaha dan menyumbang lebih dari 60% Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Dari Fintech ke Pemerintahan, Kredensial Penggerak UMKM
Sosok di balik seruan transformasi ini bukanlah pemain baru. Tiar Nabila Karbala, putra pengusaha transportasi H. Amir Mahpud, membangun reputasinya di garis depan inovasi keuangan dan teknologi. Ia adalah pendiri Restock.id, platform pembiayaan yang telah menyalurkan lebih dari Rp 3 triliun kepada UKM.
Berbekal gelar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan London School of Economics (LSE), serta pengalaman di JPMorgan Chase, Tiar kini mengemban mandat untuk mendorong percepatan digitalisasi ekonomi kerakyatan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
AI, Bukan Hanya untuk Perusahaan Besar
Dalam berbagai kunjungan kerjanya, Tiar konsisten menyampaikan bahwa AI adalah alat demokratis yang dapat langsung dimanfaatkan UMKM. Di Garut, ia menegaskan bahwa teknologi harus didekatkan langsung kepada pelaku usaha di daerah untuk membuka peluang inovasi. Di Depok dan Bogor, fokusnya adalah pada pemanfaatan AI untuk efisiensi operasional dan ketepatan membaca tren pasar.
Para praktisi bisnis mendukung pendekatan ini. Indra Hartawan dari Exabytes Indonesia menegaskan bahwa implementasi AI harus mengutamakan penambahan nilai, bukan sekadar efisiensi. Sementara Muhammad Ilman Akbar dari DailySEO ID mencatat pergeseran indikator kinerja, fokus kini beralih dari sekadar jumlah kunjungan (trafik) ke kualitas yang mendorong konversi penjualan, di mana AI berperan besar
Berikut adalah beberapa penerapan praktis AI yang dapat diadopsi UMKM kuliner Tasikmalaya:
| Area Penerapan | Contoh Teknologi/Aplikasi AI | Manfaat untuk UMKM Kuliner |
|---|---|---|
| Pemasaran & Analisis Pasar | Analisis pelanggan otomatis (Google Ads, Meta), pembuatan konten. | Menargetkan iklan lebih tepat, memahami tren rasa, membuat deskripsi produk menarik. |
| Operasional & Layanan | Chatbot layanan pelanggan 24 jam, sistem prediksi penjualan dan stok. | Melayani pertanyaan pelanggan kapan saja, memperkirakan produksi harian, mengurangi stok sia-sia. |
| Keuangan & Pembayaran | Aplikasi kasir digital dengan analisis keuangan otomatis, QRIS. | Pencatatan transaksi real-time, laporan keuangan sederhana, mempermudah transaksi non-tunai. |
Kunci Mengatasi Tantangan
Meski peluang besar, jalan menuju transformasi digital bukan tanpa halangan. Tantangannya kompleks: mulai dari keterbatasan literasi digital, infrastruktur internet yang belum merata, hingga biaya implementasi awal. Di Alor, Nusa Tenggara Timur, Tiar sendiri menyoroti urgensi peningkatan literasi digital untuk mengatasi kendala geografis.
Oleh karena itu, Tiar menekankan bahwa pertumbuhan UMKM tidak bisa berdiri sendiri. Diperlukan sinergi antara kebijakan pemerintah daerah dan akses permodalan dari perbankan. Komitmen pemerintah daerah menjadi penentu, seperti yang terlihat di Garut melalui program “Wira Hebat” yang dirancang untuk mengurangi hambatan operasional dan pemasaran berbasis digital.
Tasikmalaya sebagai Pusat Kuliner Digital
Dengan potensi kuliner yang kuat dan warisan jajanan legendaris, Tasikmalaya memiliki fondasi yang kokoh. Sentuhan teknologi melalui AI, pembayaran digital seperti QRIS, dan strategi pemasaran yang tepat dapat mengubah fondasi ini menjadi menara pencapaian.
Transformasi ini bukan tentang mengganti resep warisan dengan algoritma, tetapi tentang memperkuat warisan tersebut dengan alat baru agar dapat menjangkau lebih banyak pecinta kuliner, beroperasi lebih efisien, dan tumbuh secara berkelanjutan.
Sebagai wilayah penyangga Priangan Timur, langkah Tasikmalaya memeluk teknologi digital dapat menjadi contoh bagaimana kekayaan budaya lokal dan inovasi masa depan bisa bersatu, menggerakkan ekonomi daerah di era digital yang semakin kompetitif.







