Seni Menertawakan Kuasa: Haruskah Fisik Jadi Sasaran?

Avatar photo

Porosmedia.com – Dalam jagat komedi tunggal (stand-up comedy) Indonesia, nama Pandji Pragiwaksono bukanlah pemain baru. Ia dikenal dengan persona yang berani memotret isu sosial-politik. Namun, belakangan ini, riuh tawa di bangku penonton menyisakan residu perdebatan: di mana batas antara kritik tajam terhadap kebijakan dan olok-olok terhadap personalitas fisik?

​Sorotan tajam mengarah pada materi komedi yang melibatkan Gibran Rakabuming Raka. Bagi sebagian orang, bit-bit yang dilemparkan Pandji dianggap melampaui batas etika, terutama ketika substansi kritik kebijakan tertutup oleh narasi yang menyerang aspek fisik atau gestur personal.

​Prinsip dasar komedi yang sehat adalah punching up (mengkritik pihak yang lebih berdaya), bukan punching down. Sebagai anak Presiden sekaligus Wakil Presiden terpilih, Gibran jelas memiliki kekuatan politik yang besar. Hal ini menjadikannya subjek kritik yang sah.

​Namun, persoalan muncul saat komedian terjebak pada diksi yang menyerang fisik. Di Indonesia, Pasal 310 KUHP dan UU ITE memberikan batasan tegas mengenai penghinaan dan pencemaran nama baik. Meskipun dalam konteks kesenian terdapat ruang ekspresi, penghinaan yang bersifat menyerang kehormatan fisik tetap memiliki risiko hukum jika tidak dikelola dengan bijak.

Baca juga:  Program ROSITA Koops Habema Disambut Gembira Warga Mumugu

​Alih-alih berfokus pada aspek fisik yang merupakan pemberian Tuhan (given), seorang komedian papan atas semestinya bisa mengeksplorasi sisi lain yang lebih substansial. Berikut adalah pergeseran fokus yang bisa diambil:

  • Kritik Berbasis Kinerja: Menyoroti kebijakan, rekam jejak, atau pernyataan politik yang kontradiktif. Ini jauh lebih cerdas dan “tak terbantahkan” secara intelektual.
  • Satire Kebijakan: Menggunakan ironi untuk membedah program kerja. Ini menyerang pemikiran, bukan raga.
  • Permintaan Maaf yang Otentik: Jika sebuah materi dirasa telah melukai kemanusiaan di luar konteks kritik politik, keberanian untuk mengklarifikasi adalah bentuk kedewasaan seorang seniman.

​Menghina fisik bukan hanya berisiko pidana, tetapi juga bisa menurunkan kualitas intelektual dari komedi itu sendiri. Penonton Indonesia kian cerdas; mereka merindukan kritik yang membuat mereka berpikir, bukan sekadar tawa sinis atas kekurangan fisik seseorang.

​Pandji Pragiwaksono memiliki kapasitas untuk menjadi suara kritis bangsa. Namun, tantangan terbesarnya saat ini adalah membuktikan bahwa tajamnya lidah komedi bisa membedah ketidakadilan tanpa harus merendahkan martabat manusia. Karena pada akhirnya, komedi terbaik adalah yang mampu memanusiakan manusia, bukan sebaliknya.