​Restorasi Spiritual: Menghapus ‘Karat’ Materialisme di Era Distraksi

Avatar photo

Porosmedia.com – Dalam diskursus kesehatan mental dan spiritual, seringkali kita terjebak pada pengobatan gejala (simptomatik) daripada akar masalah. Narasi klasik namun relevan yang bersumber dari hadis Rasulullah SAW mengingatkan kita pada sebuah fenomena internal: karat hati. Secara filosofis dan sosiologis, “karat” ini bukan sekadar metafora agama, melainkan representasi dari akumulasi distorsi moral dan hilangnya integritas akibat ambisi duniawi yang tidak terkendali.

​Secara saintifik, karat pada logam terjadi karena oksidasi akibat paparan lingkungan. Secara analogi, hati manusia “berkarat” ketika terus-menerus terpapar oleh konsumerisme akut dan degradasi etika. Saat seseorang kehilangan sifat wara’ (kehati-hatian dalam etika), mereka cenderung mengabaikan batasan antara yang hak dan yang batil.

​Fakta sosiologis menunjukkan bahwa masyarakat yang terlalu berorientasi pada pencapaian materi tanpa rem moral seringkali mengalami peningkatan angka stres, kecemasan, hingga pelanggaran hukum (korupsi dan penipuan). Inilah yang disebut dalam teks sebagai hilangnya muraqabah—kesadaran bahwa setiap tindakan kita diawasi oleh Sang Pencipta.

​Nabi Muhammad SAW menawarkan “obat” yang sangat relevan dengan kebutuhan manusia modern untuk mencapai mindfulness:

Baca juga:  The Despotic Leviathan: Raksasa Lalim yang Ambruk Moralnya

Membaca Al-Qur’an (Literasi Ilahi): Bukan sekadar ritual, ini adalah proses kalibrasi ulang pikiran untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan transenden.

Mengingat Kematian (Perspektif Eksistensial): Dalam psikologi eksistensial, menyadari kefanaan adalah cara terbaik untuk memprioritaskan apa yang benar-benar berharga dalam hidup, sehingga seseorang tidak rakus terhadap hal yang bersifat sementara.

Majelis Zikir (Ekosistem Positif): Interaksi dalam lingkungan yang positif secara spiritual membantu memperkuat resiliensi mental melawan arus materialisme.

​Kehilangan rasa malu dan hilangnya kemampuan membedakan sumber rezeki (halal-haram) bukan hanya masalah teologis, melainkan ancaman serius bagi tatanan hukum dan sosial. Seseorang yang hatinya “bersih” akan bekerja dengan penuh integritas, karena ia memiliki sistem kendali internal (internal locus of control) yang kuat melalui muraqabah.

​Sebagaimana kita mempercayai diagnosis dokter untuk penyakit fisik, maka sudah sepatutnya kita mempercayai diagnosis spiritual ini. Membersihkan karat hati adalah langkah preventif agar manusia tidak menjadi budak dari ambisinya sendiri, yang pada akhirnya hanya akan membawa kerusakan bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Baca juga:  Persiapan Ramadhan 1447 H, DKM Masjid Jami Syi’arul Islam Fokus pada Penguatan Ukhuwah dan Manajemen Zakat

Catatan Redaksi: Opini ini mengajak pembaca untuk melakukan audit diri (self-audit). Di tengah dunia yang kian bising, kembali pada esensi spiritualitas adalah satu-satunya cara untuk tetap menjaga kemanusiaan kita tetap utuh dan berkilau.