Muhammadiyah Difitnah Teroris Untuk Dibubarkan, Waspada !!!!!

Jajat Sudrajat
Muhammadiyah Difitnah Teroris Untuk Dibubarkan, Waspada !!!!!

Porosmedia.com – Pasca pembubaran HTI (2017) dan FPI (2020), para pimpinan Muhammadiyah Pusat sudah saya peringatkan kalau Ormas Islam modern terbesar di Indonesia itu sedang dibidik untuk diteroriskan dan akhirnya di “HTI kan dan FPI kan”. Tetapi tampaknya mereka tidak yakin kalau itu bisa terjadi pada Muhammadiyah, mengingat jasa luar biasa besarnya Ormas Islam yg didirikan KH Ahmad Dahlan (1912) itu terhadap bangsa dan negara ini. Apalagi Muhammadiyah bukanlah organisasi politik atau partai politik atau berafiliasi dengan partai politik tertentu, tetapi Muhammadiyah murni organisasi dakwah amar makruf nahi mungkar.

Padahal semuanya itu tidak akan dianggap penting dan apapun bisa terjadi dibawah rezim Jkw-LBP yg menjadi antek China Komunis ini. Dengan Ideologi Kiri plus Fundamentalis Nasrani, mereka bersemangat untuk menghabisi ormas-ormas Islam dimana hal itu tidak pernah terfikir apalagi dilakukan oleh Suharto, Habibie, Gus Dur, Megawati atau SBY. Tetapi hal itu pernah dilakukan oleh rezim Orde Lama dengan membubarkan Partai Islam Masyumi (1960) atas desakan dari Ketua CC PKI, DN Aidit. Pembubaran Partai kedua terbesar dalam Pemilu 1955 itu yg disertai penangkapan para pemimpinnya, dilakukan dengan dalih mereka terlibat dalam pemberontakan PRRI di Sumatera Barat (1958). Namun ketika PKI terlibat pemberontakan di Madiun (1948), mereka tidak dibubarkan malah disuport sehingga menjadi partai keempat pemenang Pemilu 1955.

Bagi rezim Jkw-LBP yg sedang menuju pada rezim diktator ini dengan berusaha sekuat tenaga untuk menunda Pemilu 2024, hal itu tak masalah dan tak jadi bahan pertimbangan. Sebab mereka mengambil pelajaran dari rezim diktator Jenderal Abdul Fatah Al Sisi di Mesir, yg membubarkan Gerakan Islam Ikhwanul Muslimin (IM), menangkapi tokoh tokohnya dan menyita seluruh asset-assetnya. Padahal untuk wilayah Timteng, IM merupakan Ormas Islam terbesar dengan jutaan anggotanya dan umurnya juga hampir sama, dimana Muhammadiyah lahir pada 1912 dan IM 1928.

Baca juga:  Wujud Kepedulian Satgas Yonif 122/TS Laksanakan Program Pelayanan Kesehatan Keliling Untuk Masyarakat Perbatasan Papua

Kesalahan fatal umat Islam adalah, pasca pembubaran HTI (2017), seharusnya digelar demo besar-besaran seperti Aksi Bela Islam 212 (2016) yg diikuti jutaan massa umat Islam untuk membela HTI. Sayangnya, para pimpinan HTI hanya melawan kezaliman itu lewat jalur hukum dengan YIM sebagai penasehat hukumnya. Inilah kekeliruan strategi politik para pemimpin HTI yg berakibat fatal. Padahal selama ini anggota HTI dikenal sebagai “jagoan demo”.

Rupanya rezim Jkw-LBP faham setelah mendapat bisikan politik dari para think thank-nya, bahwa tidak ada satupun tokoh umat Islam di negara ini (tentu atas pertolongan Allah SWT), yang mampu mengerakkan massa seperti HRS pada ABI 212 yg mencapai 7,5 juta orang bahkan terbesar di dunia. Pasalnya, waktu itu akibat tekanan politik dari rezim zalim yg luar biasa, Imam Besar Umat Islam Indonesia, Al-Habib Muhammad Rizieq Shihab beserta keluarganya terpaksa hijrah ke Tanah Suci Makkah al-Mukarromah dibawah perlindungan keamanan dari Pemerintah Arab Saudi (2017). Akhirnya rezim Jkw-LBP berani membubarkan HTI (2017) kemudian menyusul membubarkan FPI meski memiliki 3 juta anggota dengan ribuan Laskar Pembela Islam (LPI) tersebut. Seandainya waktu itu HRS tidak hijrah ke Arab Saudi, barangkali ceriteranya lain. Inilah kesalahan strategi politik umat Islam dalam menghadapi rezim zalim Jkw-LBP.

Baca juga:  Awal Ramadan Tahun Ini Antara Muhammadiyah-Pemerintah Potensi Berbeda

Sebagai jurnalis, saya pernah bertanya langsung kepada HRS di rumahnya Petamburan Jakarta (2013) sewaktu masih zaman kekuasaan SBY, bagaimana jika nanti FPI dibubarkan Pemerintah ? Dengan santai HRS menjawab:
“Kita akan ganti nama tetapi singkatannya tetap sama yakni FPI. Bisa bernama Front Persatuan Islam, Front Penyelamatan Islam, Front Persaudaraan Islam, Front Pembangunan Islam dan lain lain.”

Tetapi ternyata merubah nama dari Front Pembela Islam (FPI) menjadi FPI FPI yg lain tidaklah mudah seperti membalikkan tekapak tangan. Barangkali waktu itu HRS tidak memprediksi terlalu jauh bahwa rezim SBY bakal diganti rezim Jkw-LBP yg otoriter pro Komunis dan selalu memusuhi umat Islam yg mayoritas mutlak (87,5 persen) ini, sehingga HTI dan FPI bakal dibubarkan dan dirinya sendiri di kriminalisasi sehingga akhirnya ditangkap dan dipenjarakan selama 2 tahun sampai sekarang dengan kesalahan yg dicari-cari dan tak masuk akal.

Setelah merasa sukses membubarkan HTI dan FPI tanpa perlawanan berarti dari umat Islam, padahal semula oleh rezim Jkw-LBP hanya dimaksudkan untuk test case dan test the water, maka sekarang giliran Muhammadiyah jadi sasaran tembak untuk diteroriskan dan akhirnya dibubarkan, (ingat kasus terbunuhnya Siyono aktifis Muhammadiyah Klaten Jawa Tengah tahun 2016 dengan tuduhan terorisme. Adapun yg terbaru adalah pembakaran Ponpes dan sekolah Muhammadiyah di Lamongan Jawa Timur, penurunan papan Muhammadiyah di Banyuwangi Jawa Timur serta penangkapan tiga pengurus Muhammadiyah di Lampung dengan tuduhan terlibat terorisme) dan lain lain.

Baca juga:  Perubahan Anggaran buat NPCI, Pemkot Bandung Minta Bukti sebagai Juara Umum di Perhelatan Olahraga

Setelah Muhammadiyah dibubarkan dengan berbagai tuduhan keji dan fitnah tersebut, maka nantinya rezim zalim ini punya alasan untuk menganeksasi seluruh asset-asset yg dimiliki Muhammadiyah yg diperkirakan bernilai kurang lebih Rp 1.000 Triliun, yg membuat rezim zalim ini ngiler sampai ludahnya menetes ke tanah, dengan dalih untuk kepentingan dan keamanan negara. Naudzubillah min dzalik.

Ya Allah ya Robii, segera lengserkan dan hancurkan rezim zalim ini dan gantilah dengan rezim yg lebih baik, sebelum mereka bertindak terlalu jauh untuk berusaha memadamkan cahaya Agama-Mu di negerinya para Syuhada ini, aamiin3.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *