Porosmedia.com, Bandung – Riuh rendah perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia tidak hanya menggema di alun-alun atau gedung pemerintahan. Di sudut perkampungan padat penduduk, tepatnya di Jalan Nursaid, RW 06 Kelurahan Balonggede, Kecamatan Regol, Kota Bandung, warga membuktikan bahwa esensi kemerdekaan justru hidup paling kuat dari balik gang sempit.
Usai menggelar upacara bendera secara mandiri pada Senin (17/8/2026), puluhan warga dari pelbagai usia langsung memadati gang permukiman untuk mengikuti serangkaian lomba tradisional—mulai dari tarik tambang, makan kerupuk, maraton, hingga aneka permainan spontan.
Ketua Pelaksana sekaligus Ketua RT 04 RW 06 Balonggede, Wawan, menegaskan bahwa kegiatan berbasis kesederhanaan ini diusung sebagai ruang pemutus sekat sosial sekaligus bentuk rawat nasionalisme di tingkat tapak.
”Tujuannya jelas, untuk menunjukkan rasa nasionalisme,” tegas Wawan di sela-sela kegiatan, Senin (17/8/2026).
Guyub Warga di Tengah Keterbatasan
Di balik liputan seremonial kota, antusiasme tingkat RT ini mencatatkan partisipasi aktif sedikitnya 40 anak-anak dan 25 orang dewasa. Angka ini menegaskan bahwa kebersamaan warga di tingkat akar rumput tetap solid meski dieksekusi secara swadaya.
Bagi Wawan, dinamika perlombaan hanyalah pemantik. Nilai substansial dari momentum 17 Agustus di permukiman padat adalah kembalinya ruang interaksi warga yang kian tergerus zaman.
”Bagian terbaiknya adalah kita bisa tertawa bersama dengan semua tetangga,” tambah Wawan.
Ia menyisipkan kritik harapan agar perhatian dan kemeriahan peringatan hari besar nasional di kawasan permukiman padat modal sosial seperti Balonggede dapat terus meningkat dan mendapat ruang lebih layak di masa mendatang, tidak sekadar menjadi kegiatan rutin tahunan tanpa evaluasi kualitas penataan lingkungan.
”Saya berharap perayaannya akan semakin meriah di masa depan daripada yang ada sekarang,” pungkasnya.







