Oleh: Abdurrahman AM – Muslim United
Porosmedia.com – “Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah…” (QS. An-Nisa: 75). Penggalan firman ini kembali mengoyak kesadaran umat saat jerit tangis anak-anak dan perempuan Palestina masih membelah langit Gaza hingga hari ini, 3 April 2026.
Di tengah kebuntuan diplomasi global, sebuah pertanyaan besar menyeruak: Siapa sebenarnya yang benar-benar menjawab rintihan mereka?
Fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang kian panas. Hingga awal April 2026, Iran bersama proksinya terus menunjukkan kehadiran fisik dalam konflik ini. Laporan terkini menyebutkan adanya serangan balasan yang menyasar fasilitas strategis di wilayah yang berafiliasi dengan kepentingan zionis sebagai respons atas agresi yang tak kunjung henti.
Meski langkah militer ini memicu pro-kontra di panggung internasional, bagi rakyat Palestina yang terkepung, aksi ini seringkali dipandang sebagai satu-satunya “jawaban” nyata di saat meja perundingan hanya menghasilkan tumpukan kertas. Kita pun menanti, kapan kekuatan besar lainnya seperti pejuang Chechnya atau elemen-elemen di Suriah akan benar-benar bergerak dalam satu komando ukhuwah yang nyata.
Ironi terbesar muncul dari tanah Arab sendiri. Di saat rakyat Palestina berjuang bertahan hidup dari blokade yang mencekik, beberapa pemimpin negara Arab justru terlihat masih terjebak dalam pengaruh kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan sekutunya.
“O Arabiyyun, mengapa kalian membiarkan mulut kalian terbuka bagi racun zionis?” Kritik ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan refleksi atas normalisasi dan ketergantungan ekonomi yang seringkali melunakkan sikap tegas terhadap penjajahan. Dunia Arab memiliki kunci logistik dan energi; jika saja kunci itu digunakan untuk membela Al-Aqsa, peta kekuatan dunia pasti akan berubah.
Indonesia tidak diam, namun tantangannya kian berat. Per April 2026, Indonesia telah menerima mandat dari OKI untuk mewujudkan perdamaian dan secara bertahap mulai mengirimkan sekitar 8.000 personel pasukan perdamaian (ISF) ke Gaza untuk misi kemanusiaan dan stabilisasi.
Namun, duka menyelimuti tanah air saat prajurit TNI kita gugur di Lebanon akibat serangan di wilayah tugas UNIFIL baru-baru ini. Ini adalah bukti bahwa Indonesia membayar dukungan untuk Palestina dengan darah. Meski demikian, tuntutan masyarakat sipil tetap konsisten: Diplomasi saja tidak cukup. Indonesia harus memimpin gerakan global yang lebih menekan, bukan sekadar menjadi penonton di balik meja Board of Peace.
Perjuangan ini adalah maraton iman dan kemanusiaan. Kami menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk terus bergerak. Jangan biarkan isu Palestina meredup karena kejenuhan berita.
Gerakan Ekonomi: Terus perkuat boikot terhadap produk yang mendukung penjajahan.
Gerakan Politik: Desak pemerintah untuk tidak pernah membuka celah normalisasi dalam bentuk apa pun.
Gerakan Langit: Jangan putus doa bagi para pejuang di garis depan.
Kemerdekaan Palestina bukan hanya hak bangsa Palestina, tapi utang sejarah dunia. Semoga kita semua tetap istiqomah berada di barisan pembela mereka yang terzalimi.
Amin Ya Rabbal Alamin.






