Porosmedia.com, Bandung – Khidmatnya perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah, sebuah refleksi mendalam disampaikan oleh penyelenggara negara kepada seluruh warga Jawa Barat. Pesan ini bukan sekadar ucapan selamat, melainkan sebuah bentuk pertanggungjawaban moral dan spiritual atas perjalanan kepemimpinan selama satu tahun terakhir.
Mengawali pesan dengan rasa syukur dan takzim kepada Allah SWT, ditekankan bahwa perjalanan hidup manusia tidak luput dari kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Dalam kapasitas sebagai pelayan publik di Jawa Barat, disampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh warga atas segala kekurangan dalam menjalankan roda pemerintahan.
“Seringkali hati kita terisi oleh ego, dan langkah kita mungkin melanggar hak-hak sesama. Dalam momentum Idul Fitri ini, atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya jika selama setahun ini pelayanan kami belum menyentuh harapan masyarakat sepenuhnya,” ungkapnya.
Dengan jujur, pemerintah mengakui bahwa alokasi anggaran dan kebijakan yang ada belum sepenuhnya mampu memuaskan seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok. Masih ditemukan infrastruktur jalan yang rusak, jaringan irigasi yang belum optimal, hingga hunian yang belum layak bagi warga saat musim hujan tiba.
Sektor esensial seperti pendidikan dan kesehatan juga menjadi sorotan tajam. Fakta bahwa masih adanya warga yang kesulitan mengakses layanan BPJS atau belum terdata sebagai penerima bantuan menjadi bahan evaluasi serius. Menurutnya, hal tersebut semestinya tidak terjadi jika kekuatan anggaran, baik pusat maupun daerah, dikelola dengan komitmen tunggal: mengutamakan kepentingan rakyat di atas segalanya.
Merujuk pada nilai spiritual, terdapat dua prinsip utama bagi seorang pemimpin untuk mencapai kemuliaan pelayanan, yakni Kurung Cikir dan Kenel Cikir. Maknanya, seorang pemimpin harus mampu “mengurangi waktu tidur”—bukan sekadar terjaga, melainkan karena pikiran dan batinnya terusik oleh beban tanggung jawab terhadap masyarakat.
“Pemimpin sejati adalah mereka yang tidak bisa tidur nyenyak manakala masih ada rakyatnya yang putus sekolah, atau warga yang menghadapi kesulitan hidup tanpa kawan bicara. Seluruh mata, hati, dan pikiran harus tercurah untuk memastikan ruang-ruang pelayanan—rumah sakit, sekolah, dan kantor pemerintahan—selalu terbuka lebar bagi masyarakat.”
Satu poin krusial yang ditegaskan adalah mengenai kontribusi rakyat melalui pajak. Warga Jawa Barat telah menyerahkan sebagian hartanya kepada negara dengan harapan mendapatkan layanan yang setara. Di negara dengan napas Islam, ada zakat; di negara kita, rakyat menunaikan keduanya—zakat dan pajak—mulai dari tingkat desa hingga provinsi.
Maka, sudah menjadi kewajiban mutlak bagi penyelenggara negara untuk mengelola dana tersebut dengan efisiensi tinggi. Komponen belanja pemerintah harus ditekan serendah mungkin agar manfaatnya kembali kepada rakyat dalam bentuk fasilitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang berkualitas.
Menutup pesan tersebut, pemerintah kembali berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan (continuous improvement), mengurangi kesalahan, dan menggerakkan mesin birokrasi agar lebih responsif. Apresiasi tinggi juga diberikan kepada warga Jawa Barat yang tetap setia menjaga kondusivitas dan tertib menunaikan kewajiban meski di tengah berbagai tekanan ekonomi dan sosial.
Semoga di hari yang fitri ini, Jawa Barat senantiasa dijaga dari kerusakan alam, dijauhkan dari eksploitasi yang merugikan, dan rakyatnya dapat hidup dalam kesahajaan yang bermartabat.
Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.







