Greenland & Donald Trump, Kata Korupsinikus: Selalu Ada Cara Lain…

Avatar photo

Esai Satire – Harri Safiari

Porosmedia.com – Greenland itu, ya sebuah pulau. Tapi di mata kekuasaan, ia bukan sembarang pulau. Ia hanya sebongkah barang: komoditas yang belum sempat ditempeli stiker harga. Di peta dunia. Pada akhirnya, Greenland hanyalah etalase toko—ada yang masuk keranjang, ada yang disimpan di wishlist, sambil ditandai: “akan diambil nanti.”

Donald Trump pernah ingin “membeli” Greenland. Semua tertawa. Seperti biasa: manusia selalu menertawakan kebenaran ketika datang memakai kostum badut. Tawa itu lalu basi. Karena ternyata bukan Greenland yang konyol—kita saja yang terlalu naif mengira dunia ini tak bisa diperjualbelikan.

Faktanya, Denmark menolak. Greenland pun menolak. Tapi penolakan dalam geopolitik itu sering cuma kalimat sopan yang artinya: tolong tunggu giliran, bersabarlah—kami akan kembali dengan cara lain.

Kata Korupsinikus, di dunia modern, penjajahan sudah jarang datang membawa meriam dan pedang. “Itu terlalu jujur. Terlalu brutal. Terlalu memalukan,” katanya.

“Sekarang penjajahan dilakukan dengan bahasa yang lebih halus, lebih ‘beradab’: kerja sama keamanan, kepentingan strategis, perjanjian ekonomi, investasi, stabilitas kawasan.”

Kalimat itu ia lontarkan kepada Rubi—sobatnya—usai menonton siaran TV yang ramai membahas polemik Greenland dan ambisi Trump yang entah kenapa bisa spontan mengusik NATO, Rusia, Tiongkok, dan warga dunia yang bahkan tak pernah menyentuh salju.

Baca juga:  Selama 80 tahun pengalaman panjang bagi Jepang menyediakan Makanan bergizi untuk Anak Sekolah 

“Indonesia nggak ikut-ikutan, ya? Atau belum?” tanya Rubi, melengos sedikit, seperti bertanya tanpa niat menunggu jawaban.

“Memang tak ikut-ikutan kita mah,” jawab Korupsinikus santai. “Nonblok itu pegangan kita. Lagian jauh dari khatulistiwa. Lagian urusan dalam negeri dan ASEAN juga masih seabreg. Kalau sudah ada pengaruh langsung ke dompet, baru kita bicara dan bertindak.”

Lalu ia menambahkan, nyaris seperti petuah, tapi nadanya tetap muram:
“Membicarakan Greenland itu harus di ruangan hangat—ada kopi dan pisang goreng. Soalnya di sana dingin sekali…”
Ia tidak berniat melucu. Tapi memang hidup di negeri kita sering membuat orang bicara serius dengan gaya bercanda—agar tidak keburu putus asa.

Kenop Itu Penting
Lebih lanjut Korupsinikus menjelaskan, seperti biasa, inti hegemoni antarnegara di zaman kiwari cuma satu:
yang kuat mengambil, yang lemah menerima—dengan berbagai catatan.
Lalu beberapa tahun kemudian si lemah bertanya, dengan mata sayu:“Kok nggak makmur-makmur ya? Kok nggak berdaulat-berdaulat ya?”

Lagi, menurut siaran TV yang baru saja mereka tonton di warung kopi Mang Dodo yang atapnya sudah sedikit reyot, Greenland tidak dibutuhkan sebagai rumah. Ia dibutuhkan sebagai kenop: tombol untuk menekan Rusia, mengganggu Tiongkok, mengunci jalur Arktik, mengeruk mineral langka, memperpanjang napas pangkalan militer, dan—kalau bisa—mengokohkan remote control dunia tetap di tangan Amerika.

Baca juga:  Beri Kuliah Program Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Dorong Pemerintah Jaga Keseimbangan antara Efisiensi dan Demokrasi

Korupsinikus menyimak layar sambil terkekeh. Ia memang baru “siuman” dari semacam hibernasi—atau kutukan ala Malin Kundang—membatu gegara melanggar sumpah dan serapah para koruptor ribuan tahun silam. Dalam versi lain yang lebih absurd, ia bahkan pernah disebut mirip Java Man atau Pithecanthropus erectus di Negeri Konoha Raya (NKR), mujulah berkat Rubi ia secara ajaib bisa mewujud seperti kita-kita ini manusia normal.

Tapi satu hal tetap sama: ia selalu merasa dunia ini tidak berkembang—hanya berganti metode.
“Greenland itu ibarat baterai,” kata Korupsinikus. “Dipakai, dikuras, lalu diganti.”

Ia menambahkan, dengan nada sinis yang menimbulkan bunyi pahit di udara:
“Katanya demi keamanan… keamanan yang masih mengawang-ngawang itu.”
Rubi menyambar cepat, seperti baru saja menemukan inti perkara:

“Benar juga. Keamanan buat siapa, ya? Ini mah cuma alasan… atau jangan-jangan cuma mengada-ada?”
Rubi, yang kadang tampak mendadak cerdas dan bijak, melanjutkan:
“Nanti dunia memuji diplomasi: lihai, cerdas, luwes. Media menyebut ‘kesepakatan’. Seolah semuanya mulus. Padahal siapa tahu itu cuma akal bulus yang dibungkus rapi, ya?”

Baca juga:  Peringati HUT TNI Ke-79, Satgas Yonif 323 Buaya Putih Bagikan Sembako Kepada Tokoh Agama dan Masyarakat

Korupsinikus hanya mengangguk kecil. Di warung kopi, kebenaran sering lahir dalam kalimat pendek yang getir—karena terlalu panjang pun tetap tak mengubah keadaan.

Di layar TV, pembawa acara menutup bahasan dengan gaya meyakinkan, seolah ia sedang memberi kuliah pada sejarah yang sebetulnya sudah repetitif:
“Beginilah cara modern menghapus kata penaklukan dari kamus—tanpa menghapus praktiknya.”
Pembawa acara itu kembali menyitir:
“Trump sendiri pernah bilang tidak akan memakai kekuatan militer. Tapi dunia modern memang jarang butuh tank untuk mengambil pulau. Cukup ancaman ekonomi. Cukup blokade halus. Cukup tekanan politik. Ditambah kampanye opini. Bila semua itu gagal… selalu ada cara lain.”
Korupsinikus menatap layar, lalu menatap kopinya yang sudah tinggal ampas. Dan seolah bicara pada siapa pun yang masih sudi percaya pada niat baik kekuasaan, ia bergumam:
“Ingat itu untuk polemik Greenland yang katanya mau dicaplok Trump: selalu ada cara lain…”
Warung kopi tetap ramai. Televisi tetap berisik. Dunia tetap bergerak.
Dan orang-orang tetap menunggu—entah menunggu perubahan, atau menunggu giliran dicaplok …!
(Selesai)