Porosmedia.com, Bandung – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memperkenalkan rekam jejak sejarah dan potensi teknologi Kota Bandung di hadapan delegasi insinyur se-ASEAN dalam jamuan sambutan Conference of ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) ke-44 di Pendopo Kota Bandung, Selasa (20/10/2026).
Dalam forum bertajuk “Future of ASEAN, Shared Prosperity, and Humanity through Inclusive and Sustainable Industrialization” tersebut, Farhan secara eksplisit menyematkan predikat Bandung sebagai “Kota Insinyur” yang tumbuh dari rekayasa infrastruktur, pendidikan teknik, dan dinamika industri.
”Bandung dibangun oleh para insinyur jalan,” ujar Farhan merujuk pada sejarah pembangunan konektivitas transportasi era kolonial yang memicu pertumbuhan ekonomi kawasan. Ia menonjolkan peran Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai pilar ekosistem pendidikan dan teknologi di kota ini.
Namun, di tengah pujian terhadap peran strategis insinyur yang dinilai mampu merancang solusi masa depan, penyematan label “Kota Insinyur” ini sekaligus menjadi cermin tantangan nyata bagi Pemerintah Kota Bandung. Publik mencatat, wacana rekayasa teknologi dan inovasi berkelanjutan yang digaungkan dalam forum internasional tersebut sejatinya sangat mendesak untuk dibuktikan secara konkret pada penanganan persoalan krusial perkotaan—mulai dari tata kelola sampah, banjir tahunan, kemacetan, hingga penataan ruang publik.
Sorotan Ekosistem Inovasi dan Warisan KAA
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Ketua AFEO, Ilham Akbar Habibie, mengamini potensi besar Bandung dalam pengembangan industri kreatif dan teknologi. Menurutnya, ekosistem inovasi Bandung terbentuk dari adaptabilitas masyarakat pascakrisis ekonomi 1998 yang melahirkan gelombang ekonomi kreatif.
Ilham juga mengingatkan kembali memori sejarah Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 sebagai simbol kemandirian dan kerja sama yang tetap relevan dalam konteks kolaborasi teknik lintas negara.
Di sisi lain, Ketua Panitia CAFEO ke-44, Santhi H. Serad, mengapresiasi dukungan Pemkot Bandung. Ia menekankan bahwa forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi profesional dan industrialisasi inklusif di kawasan ASEAN.
”Kolaborasi teknik yang kuat tidak hanya dimulai di ruang konferensi, tetapi juga melalui percakapan bermakna di meja makan,” ujar Santhi.
Pertemuan hangat di Pendopo Kota Bandung ini menandai dibukanya ruang pertukaran gagasan para ahli rekayasa. Kini, tantangan terbesar ada pada bagaimana Pemkot Bandung memanifestasikan jejaring dan gagasan besar para insinyur tersebut ke dalam eksekusi kebijakan publik yang langsung dirasakan manfaatnya oleh warga kota. (Red)







