Porosmedia.com, Bandung – Upaya pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas warga kembali mengemuka di tingkat kewilayahan Kota Bandung. Kelompok warga di RW 07, Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, konsisten memproduksi Batik Ciprat secara mandiri pascamengikuti pelatihan keterampilan yang difasilitasi di Sentra Wyata Guna.
Produksi batik bermotif teknik ciprat lilin tersebut kini beroperasi berdasarkan sistem pesanan (pre-order), meliputi kain, pakaian jadi, hingga ikat kepala. Produk hasil olahan warga ini bahkan mulai menjangkau pemesan di luar area Kota Bandung, seperti Tasikmalaya dan Cimahi.
Ketua Kelompok Batik Ciprat, Yuliana, menjelaskan bahwa keberlanjutan unit usaha ini bergantung pada komitmen warga setelah mendapatkan stimulan awal.
“Setelah pelatihan, kami diberikan modal awal dan diminta melanjutkan produksi secara mandiri di sini. Alhamdulillah, sampai saat ini arus pesanan tetap berjalan,” ungkap Yuliana.
Secara teknis, pembuatan Batik Ciprat mengandalkan pola cipratan lilin cair serta penguncian warna menggunakan larutan waterglass agar daya tahan warna optimal. Produk kain lembaran dibanderol pada kisaran harga Rp130.000 hingga Rp150.000, sementara produk busana siap pakai dipasarkan mulai dari Rp250.000.
Pentingnya Integrasi Program dan Akses Pasar
Meski menunjukkan potensi kemandirian, efektivitas program pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan tetap memerlukan evaluasi berkala, khususnya terkait keberlanjutan pembinaan dan pembukaan akses pasar yang lebih luas.
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Husein Sastranegara, Iwan Achmad Setiawan, menyampaikan bahwa identifikasi potensi UMKM merupakan langkah awal aparatur wilayah dalam mendorong peningkatan taraf hidup warga, termasuk bagi penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH).
“Setelah kami inventarisasi, terdapat potensi masyarakat yang dapat dikembangkan untuk peningkatan ekonomi keluarga. Pemerintah kewilayahan berupaya hadir melengkapi serta mendorong pembentukan kelompok UMKM dan membuka akses pelatihan,” ujar Iwan.
Di tingkat tapak, antusiasme warga untuk memperoleh pelatihan serupa tergolong tinggi. Ketua RW 07, Iyon Tahyan, menandaskan bahwa perluasan cakupan pelatihan hingga tingkat RT menjadi krusial agar dampak ekonomi dari program ini tidak terhenti pada kelompok terbatas.
“Warga sangat berminat. Kami berharap ke depan ada alokasi pelatihan yang menjangkau tiap RT agar percepatan peningkat ekonomi warga dapat terealisasi secara merata,” kata Iyon.
Momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menegaskan bahwa pelestarian warisan budaya memerlukan ekosistem pendukung yang solid. Keberlanjutan Batik Ciprat RW 07 Husein Sastranegara kini menuntut konsistensi jajaran pemangku kepentingan dalam mengawal akses permodalan, standarisasi mutu, hingga rantai pasok pemasaran agar tidak sekadar menjadi kegiatan insidental.







