Salam Pancasila, Mampukah Menjadi Pemersatu Bangsa?

Salam Pancasila - Kepala BPIP Prof Yudian
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi, (Foto BPIP via Republika)

Porosmedia.com – Pada kamis, 20 februari tahun 2020 yang lalu, Beredar sebuah postingan di media sosial yang mengklaim dari kepala BPIP bahwa Yudian Wahyudi mengusulkan untuk mengganti Assalamu’alaikum dengan salam Pancasila, namun yudi membantah bahwa pernyataan tersebut baru sekedar wacana yang bukan usulan kelembagaan, dan merespon bahwa klaim tersebut salah dan menyesatkan (Tempo.com).

Pernyataan tersebut bukan tanpa sebab yudi lontarkan. Munculnya fenomena ucapan salam lima agama yang belakangan juga menimbulkan masalah baru, seperti munculnya protes dari ulama yang menolak ucapan agama lain. Maka kepala BPIP beranggapan bahwa salam Pancasila adalah salam yang bisa menjembatani dan menjadi titik temu bagi rakyat tanpa melihat latar belakang apa pun dan melihat agama mana pun.

Hal ini, yudi menilai seperti yang pernah dilakukan oleh mantan mendikbud Daoed Joesoef saat di ranah public dengan tidak mengucapkan Assalamu’alaikum, tapi Ketika pribadi daoed fasih betul. Harapan kepala BPIP, nilai-nilai semacam daoed joesoef itu diterapkan Kembali oleh para pejabat di Indonesia.

Menurutnya, salam Pancasila sebagai bentuk jalan tengah kebangsaan bukan pengganti salam keagamaan, sebab salam Pancasila ini diharapkan bisa mewujudkan persatuan di tengah kemajemukan bangsa, tidak berpecah belah juga mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang menjadi pertanyaan penulis, benarkah salam Pancasila bisa menjadi pemersatu bangsa dan apakah hanya sekadar wacana saja?

Baca juga:  Syarat Dalam Memenuhi Pelaksanaan Shalat

Meski itu baru sekedar wacana, tentu saja umat islam tidak serta merta diam begitu saja. Karena hal ini dikhawatirkan masuk dalam perkara meremehkan ajaran agama terlebih menyangkut akidah umat. Apalagi ucapan assalamu’alaikum adalah ciri khas dari sesama muslim dan merupakan syiar islam karena mengandung do’a.

Mendoakan keselamatan bagi siapapun yang beragama islam yang di temuinya adalah sunnah sedangkan menjawabnya adalah wajib. Maka sangatlah tidak elok apabila ucapan Assalamua’laikum diganti dengan Salam Pancasila ‘’kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai, maukah aku tunjukan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian’’ (HR. Muslim).

Sementara salam yang diajarkan Rasulullah salallahu ‘allaihi wassallam adalah ucapan Assalamu’alaikum wa rahmatullahahi wabarakatuh. Justru ucapan yang diajarkan Rasulullah-lah yang akan bisa mempersatukan bangsa sebagaimana dalam bunyi hadis tersebut karena dalam maknanya saja ada do’a, sementara Salam Pancasila?

Misalkan, pejabat yang beragama islam mengucapkan salam“lain”yang ada kaitannya dengan pemahaman, ciri khas agama/ideologi tertentu maka dikhawatirkan jatuh pada tasyabbuh bil kuffar, dan itu bisa merusak akidah karena salam agama lain terdapat makna pengagungan terhadap agama mereka dan Tuhan mereka. Nah kalau dibiarkan, syiar islam bisa tergerus sedikit demi sedikit dengan dalih penyesuaian zaman.

Baca juga:  Solusi Atasi Krisis Pangan dengan Sistem Islam

Walaupun ada bunyi hadist yang mengharuskan mengucapkan salam baik kepada yang dikenal atau yang tidak dikenal maksudnya kepada sesama muslim, karena kepada non-muslim kita tidak boleh memulainya mengucapkan salam. ‘’janganlah kalian memulai kaum yahudi dan jangan pula kaum nashrani dengan ucapan salam (HR.Muslim).

Kalau pun lagi di ranah public semisal para pejabat yang berpidato, disitu ada muslim dan bersamanya ada orang kafir maka berniat saja salam hanya untuk muslim saja. Sementara kalau misal ingin menyapa kepada non-muslim saja, jika tujuannya ingin toleransi maka cukup mengunakan salam secara bahasa semisal’’ selamat pagi/malam/datang’’ bukan salam yang khas.

sekulerisme pangkal masalah

Kalau diperhatikan, pangkal perpecahan negeri ini bukanlah salam keagamaan atau ajaran agama yang dipraktikkan khususnya oleh mayoritas muslim. Namun pemberlakuan system sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) yang melahirkan ketidakadilan, penderitaan dan jauhnya rakyat dari kata sejahtera. Sebab yang menjadi landasannya adalah asas manfaat bukan halal haram.

Kondisi diperparah dengan diangkatkan isu radikalisme seolah ancaman terbesar bangsa. Justru ini memantik sikap saling curiga dan jauhnya persatuan. Padahal secara empiris, di jaman peradaban islam dari zaman Rasulullah sampai berakhirnya kejayaan islam, islamlah yang mampu mengurusi masyarakat heterogen dengan baik selama berabad-abad.

Baca juga:  Kisruh Tolak JHT, Bukti Kekejaman Pemerintah Kapitalisme

Kehidupan antara kaum muslim dan non-muslim hidup berdampingan dengan suasana aman, damai dan terkendali. Mereka memperoleh perlakuan yang sama dari negara. Sama-sama dijaga dan dilindungi, baik itu keyakinannya, kehormatannya ataupun harta bendanya. Syariat islam diterapkan kepada seluruh warganya dalam seluruh aspek kehidupan, tidak ada yang namanya diskriminasi, baik itu dalam perkara sanksi maupun dalam perlakuannya. Makanya non-muslim bisa merasakan keindahan islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Akidah Islam pemersatu bangsa

Oleh karena itu, hanya akidah islam yang bisa mempersatukan bangsa, maka salah besar bila sebut agama apalagi yang disudutkan adalah agama islam, menjadi musuh terbesar Pancasila. Justru nilai-nilai Pancasila akan terealisasi manakala syariat islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahu Alam Bi Showwab.

Salam Pancasila, Mampukah Menjadi Pemersatu Bangsa? – Oleh Elin Nurlina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *