_Setiap musim politik, selalu muncul dua makhluk yang sama: ular dan kambing._
_Ular untuk menggambarkan pengkhianat.
Kambing untuk menanggung dosa._
Porosmedia.com – Kita mungkin tidak sadar, tetapi kosakata politik kita lebih mirip kebun binatang daripada ruang deliberasi. Ketika elite berubah sikap, kita menyebutnya bunglon. Ketika ada skandal, seseorang dijadikan kambing hitam. Ketika rakyat merasa dimanfaatkan, istilah yang keluar adalah sapi perah. Ketika pengkhianatan terendus, kita langsung menyebut ular dalam selimut.
Hampir tidak pernah kita menyebut seorang politisi sebagai lebah pekerja.
Jarang sekali rakyat disebut elang yang menjaga langit republik.
_Bahasa kita memilih rimba._
Dan pilihan itu tidak netral.
Elite sebagai Predator
Perhatikan pola yang berulang.
Aktor kekuasaan jarang digambarkan sebagai hewan jinak. Mereka adalah ular, serigala berbulu domba, lintah darat, macan kandang. Semua metafora itu menunjuk pada naluri: memangsa, menipu, mengisap, mengintimidasi.
Dalam wacana publik, kekuasaan hampir selalu diasosiasikan dengan insting, bukan akal. Dengan kerakusan, bukan visi. Dengan tipu daya, bukan strategi rasional.
Media modern memperkuat citra itu. Judul-judul berita menyukai konflik, dan konflik lebih mudah dipadatkan dalam simbol hewan. “Saling adu domba.” “Jadi kambing hitam.” “Dimanfaatkan sebagai sapi perah.” Frasa-frasa itu ringkas, emosional, dan mudah viral.
Algoritma menyukai yang sederhana.
Dan tidak ada yang lebih sederhana daripada cerita predator dan mangsa.
Dalam format talkshow, kompleksitas kebijakan sering dipangkas menjadi duel retoris. Oposisi digambarkan menyerang. Pemerintah membalas. Dramaturgi ini secara tidak sadar memperkuat kesan bahwa politik adalah arena saling memangsa.
_Rasionalitas tidak dramatis. Naluri lebih menjual._
Rakyat sebagai Ternak
Jika elite adalah predator, maka rakyat dalam metafora kita sering tampil sebagai ternak.
Sapi perah.
Kambing hitam.
Kerbau dicocok hidung.
Kelinci percobaan.
Hewan-hewan ini bukan simbol kekuatan. Mereka adalah simbol objek: yang diperah, disalahkan, diarahkan, diuji coba.
Bahasa menyimpan asumsi. Dan asumsi yang tersimpan di sini cukup suram: rakyat adalah sesuatu yang dikelola, bukan yang mengelola.
Menariknya, kita jarang menggunakan metafora hewan yang menempatkan warga sebagai aktor cerdas atau predator kuat. Hampir tidak ada istilah populer yang menyiratkan rakyat sebagai pengendali ekosistem. Mereka lebih sering muncul sebagai korban struktur.
Bahasa ini membentuk cara kita membayangkan relasi kuasa. Jika sejak awal kita memposisikan diri sebagai ternak, sulit membayangkan diri sebagai penggembala.
Oportunisme sebagai Norma
Ada satu kategori metafora yang paling produktif: hewan yang berubah-ubah.
Bunglon.
Kutu loncat.
Ular berkepala dua.
Kosakata kita kaya istilah untuk menggambarkan ketidaksetiaan politik. Seolah-olah perpindahan kubu, kompromi transaksional, atau perubahan sikap bukanlah penyimpangan, melainkan fenomena yang begitu lazim sampai perlu banyak nama.
Bahasa biasanya berkembang untuk menamai sesuatu yang sering terjadi. Ketika satu fenomena punya banyak istilah, itu tanda ia akrab dalam pengalaman kolektif.
Dalam hal ini, oportunisme terasa terlalu akrab.
Media sebagai Ekosistem
Apakah media menciptakan metafora predator, atau sekadar memantulkan persepsi publik?
Hubungannya sirkular.
Publik sinis terhadap elite. Media menangkap sinisme itu dan mengemasnya dalam metafora yang tajam. Konten yang tajam mendapat klik dan dibagikan. Algoritma memperkuatnya. Sinisme bertambah.
_Ekosistem ini saling memberi makan._
Dalam ruang digital, reduksi identitas menjadi simbol adalah keniscayaan. Seorang politisi cukup direpresentasikan sebagai tikus, buaya, atau bunglon dalam satu meme. Kompleksitas individu hilang; yang tersisa adalah naluri.
Ketika politik direduksi menjadi fauna, publik perlahan berhenti berharap pada deliberasi. Yang dibayangkan bukan lagi musyawarah, melainkan pertarungan.
Bahasa sebagai Arsip Psikologis
Metafora bukan sekadar gaya bahasa. Ia adalah arsip psikologis kolektif.
Jika kekuasaan terus-menerus dibayangkan sebagai ular, maka kecurigaan menjadi default. Jika rakyat terus disebut sapi perah, maka rasa dimanfaatkan menjadi identitas.
Bahasa bukan hanya menggambarkan realitas; ia ikut membentuknya. Cara kita berbicara tentang politik memengaruhi cara kita merasakannya.
Dan dalam bahasa kita, politik jarang tampil sebagai taman yang teratur. Ia lebih sering menjadi rimba yang liar.
Rimba tidak mengenal deliberasi.
Rimba mengenal dominasi.
Pertanyaan yang Tidak Nyaman
Apakah metafora predator ini jujur mencerminkan realitas politik kita?
Atau justru metafora itu yang membuat kita sulit membayangkan alternatif?
Mungkin masalahnya memang ada pada praktik kekuasaan. Tapi mungkin juga kita sudah terlalu lama membingkainya sebagai hutan belantara sehingga kita berhenti mencari arsitek tata kota.
Selama kita menyebutnya rimba, kita akan terus mencari predator.
Dan selama kita mencari predator, kita tak pernah benar-benar menuntut negarawan.
Bahasa kita telah memilih kebun binatang.
Pertanyaannya:
_apakah kita puas menjadi penonton atau bagian dari kandang itu sendiri?-







