Menenun Harapan di Tengah Paceklik: Potret Getir Kehidupan Wartawan Senior di Kabupaten Bandung

Avatar photo

Porosmedia.com, Kab. Bandung – Di balik tajamnya pena dan kegigihan memburu berita, terselip kisah pilu dari sudut Kabupaten Bandung. ZD, seorang jurnalis yang telah mendedikasikan hampir seperempat abad hidupnya untuk dunia informasi, kini harus berhadapan dengan realita ekonomi yang kian menghimpit.

​Baginya, 25 tahun pengabdian bukanlah waktu yang singkat. Namun, dedikasi tersebut kini diuji oleh kondisi lapangan yang semakin sulit. Profesi yang dulunya dibanggakan, kini terasa kian mencekik bagi pemenuhan kebutuhan dapur sehari-hari.

​Realita di Lapangan: “Hanya Cukup Ganti Bensin”

​ZD menceritakan betapa sulitnya mencari nafkah di era sekarang. Perjalanan menyusuri desa-desa di Kabupaten Bandung yang luas seringkali berakhir dengan tangan hampa.

​”Saat ini, kondisi kami sangat memprihatinkan. Ketika turun ke lapangan mencari rezeki ke desa-desa, sudah tidak ada lagi hasil yang memadai. Seringkali hanya sekadar untuk ganti bensin saja, itu pun kalau beruntung bisa bertemu kepala desanya,” ungkap ZD dengan nada suara yang bergetar.

​Efisiensi yang Berdampak pada Dapur

Baca juga:  PWI Provinsi Jawa Barat Gelar OKK Tahun 2023

​Menurut pandangan ZD, perubahan kebijakan dan dinamika kepemimpinan nasional maupun regional membawa dampak signifikan terhadap kesejahteraan jurnalis di tingkat akar rumput. Ia menyoroti adanya efisiensi anggaran yang dilakukan secara masif, yang secara tidak langsung berdampak pada ekosistem usaha media dan kesejahteraan para krunya.

​”Semua anggaran seolah diefisiensi, dan ini berdampak langsung pada para pengusaha media serta kami yang bekerja di lapangan,” tambahnya. Kondisi ini membuat pemenuhan kebutuhan mendasar seperti pendidikan anak dan kesehatan keluarga menjadi sebuah kemewahan yang sulit dicapai.

​Menagih Kepedulian Pemerintah

​Di tengah situasi yang kompleks ini, ZD tidak berharap muluk-muluk. Ia hanya mengetuk pintu hati para pemangku kebijakan, mulai dari Gubernur Jawa Barat hingga Bupati Bandung, Dadang Supriatna.

​”Kami semua punya keluarga yang harus dihidupi. Ada biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok. Jika ini terus diabaikan, bagaimana nasib kami yang bergelut di dunia jurnalistik yang medannya sangat kompleks ini?” harapnya.

​Ia mewakili suara rekan-rekan seprofesinya yang bernasib serupa, meminta adanya langkah nyata dari pemerintah, baik berupa:

  • Program bantuan sosial tepat sasaran bagi keluarga wartawan yang membutuhkan.
  • Perlindungan hukum dan keamanan yang lebih menjamin saat bertugas di lapangan.
Baca juga:  Pemilihan Ketua PWI Purwakarta Pecahkan Rekor Tercepat Pemilihan Secara Aklamasi

​Wartawan adalah pilar keempat demokrasi, namun tanpa kesejahteraan yang layak, pilar tersebut kini tengah rapuh. ZD dan kawan-kawan masih menunggu, kapan solusi konkret itu akan hadir merangkul mereka.