Porosmedia.com – Di Indonesia, sepak bola bukan lagi sekadar olahraga; ia adalah agama kedua. Dan dalam kalender liturginya, tidak ada hari yang lebih “suci” sekaligus mencekam selain hari di mana Persib Bandung bertemu Persija Jakarta. Pertanyaannya, mengapa kita begitu terobsesi pada laga ini?
Rivalitas Persib dan Persija seringkali disederhanakan sebagai konflik antar suporter. Namun, jika kita membedah sejarah, ini adalah duel dua entitas yang membentuk tulang punggung sepak bola nasional. Sejak 1930-an, mereka adalah representasi perlawanan terhadap kolonialisme melalui lapangan bola.
Sayangnya, dalam dua dekade terakhir, narasi persaingan ini kerap dibajak oleh kebencian yang dipelihara tanpa alasan yang jelas. Kita harus berani mengakui bahwa rivalitas ini telah berubah wajah dari kompetisi teknis menjadi beban sosial yang terkadang memakan biaya yang terlalu mahal: nyawa dan rasa aman.
Kita sering mendengar jargon “Harga Mati”. Tapi, apakah benar sebuah skor pertandingan setimpal dengan air mata keluarga yang kehilangan anggota mereka di luar stadion? Poros Media memandang bahwa memelihara rivalitas adalah sebuah keharusan demi kualitas liga, namun memelihara dendam adalah tanda ketertinggalan peradaban.
Sudah saatnya kedua manajemen klub dan federasi berhenti hanya mengejar rating tinggi dari “panasnya” tensi laga ini. Regulasi harus tegas, edukasi suporter harus menjadi program utama, bukan sekadar respons reaktif setelah ada insiden.
Laga Persib vs Persija seharusnya menjadi aset pariwisata dan budaya Indonesia yang bisa dijual ke mata internasional—seperti Boca vs River di Argentina atau Real Madrid vs Barca di Spanyol. Kita punya bahan bakunya: gairah, sejarah, dan loyalitas. Yang kita belum punya adalah kedewasaan untuk menjaga aset tersebut agar tetap “hidup” tanpa harus ada yang “mati”.
Biarkan “hebohnya” laga ini tetap ada di tribun melalui koreografi yang megah dan di lapangan melalui adu taktik yang cerdas. Selebihnya, biarkan ia kembali menjadi olahraga yang mempersatukan, bukan tembok besar yang memisahkan.







