Porosmedia.com – Seluruh kebun binatang di Indonesia akhirnya harus mengambil langkah yang sudah lama ditunggu para pecinta satwa : Menghentikan wahana tunggang Gajah.
Tidak ada pengumuman besar. Tidak ada keramaian.
Hanya satu keputusan tenang—namun bermakna.
Selama bertahun-tahun, Gajah dipasangi pelana berat dan dipaksa menghibur manusia. Padahal, tulang punggung gajah sangat sensitif.
Tekanan berulang dari aktivitas tunggang dapat menyebabkan nyeri kronis, kerusakan sendi, dan stres jangka panjang yang sering tersembunyi di balik tatapan mata yang tampak “tenang”.
Yang membuat momen ini kuat bukanlah kontroversi, melainkan niat.
Pengelola harus memilih kesejahteraan di atas keuntungan.
Gajah adalah hewan yang sangat cerdas dan emosional. Mereka membangun ikatan sosial yang dalam dan mampu mengingat trauma selama puluhan tahun. Dengan dihentikannya tunggang Gajah, mereka bisa bergerak lebih alami, bersosialisasi dengan bebas, dan hidup lebih mendekati kodrat alaminya.
Pengunjung tetap bisa belajar, mengagumi, dan terhubung—tanpa menyakiti.







