Porosmedia.com, Bandung – Gelaran Grand Final Putri Hijabfluencer Indonesia 2026 yang berlangsung di Ballroom Trans Luxury Hotel, Minggu (4/10/2026) malam, kembali menempatkan Kota Bandung sebagai episentrum industri modest fashion nasional. Kendati demikian, di balik optimisme panggung megah tersebut, muncul tantangan strategis mengenai sejauh mana ajang tahunan ini mampu memberikan dampak konkret terhadap ekosistem fesyen lokal serta Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan pentingnya unsur inovasi dan nilai tambah dalam setiap karya fesyen muslim. Ia menilai kreativitas berpakaian muslimah saat ini tidak sekadar memenuhi regulasi busana, tetapi telah bertransformasi menjadi medium ekspresi seni yang bernilai ekonomi tinggi.
“Inovasi adalah memberikan nilai tambah atas sesuatu yang sudah ada. Kehadiran ruang kreativitas seperti ini membuka peluang bagi para kreator untuk menjadikan modest fashion sebagai salah satu komoditas unggulan dari Bandung,” ujar Farhan dalam sambutannya.
Farhan juga menyoroti keunikan konsep pageant berbasis hijab di Indonesia yang dinilainya memiliki daya saing global dibanding ajang serupa di mancanegara. Ia mendorong para kreator dan finalis untuk memanfaatkan penetrasi digital agar mampu menembus pasar internasional. Atas alasan itu pula, Pemerintah Kota Bandung menyatakan komitmennya untuk terus mendukung keberlanjutan ajang ini di Kota Kembang.
Di sisi lain, Anggota DPRD Kota Bandung sekaligus pemilik Albis Group, Indri Rindani, mengungkapkan peningkatan partisipasi peserta yang mencapai 3.000 pendaftar dari seluruh Indonesia, dengan 63 finalis dari 22 provinsi melangkah ke putaran final di Bandung.
Namun, Indri menggarisbawahi bahwa apresiasi dan dukungan pemerintah daerah harus berbanding lurus dengan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat dan kas daerah.
“Penyelenggaraan acara berskala nasional ini harus memberi dampak positif yang terukur, terutama dalam mendorong sektor pariwisata, UMKM fesyen lokal, serta mengoptimalkan penerimaan PAD Kota Bandung,” tegas Indri.
Ia menambahkan, ekspansi industri fesyen muslim lokal ke mancanegara—seperti yang telah dijajaki hingga ke kawasan Eropa dan Timur Tengah—memerlukan sinergi regulasi serta fasilitasi yang kuat dari pemerintah daerah agar status Bandung sebagai Paris van Java tak berhenti pada taraf wacana.







